”Total Institution” dan Tradisi Kekerasan

”Total Institution” dan Tradisi Kekerasan

Oleh Ruddy Agusyanto

 

Korban kekerasan bermunculan dari “asrama-asrama” pendidikan, seperti kasus terbunuhnya siswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) dan Sekolah Tinggi Pelayaran Indonesia (STPI). Setelah kita amati, ternyata hampir di semua institusi pendidikan yang menggunakan sistem asrama sangat rawan dengan kekerasan–terutama yang dilakukan para siswa/taruna senior terhadap para yuniornya. Ini adalah salah satu ekses negatif dari proses penanaman karakter dan pembentukan identitas kolektif yang eksklusif–yang nantinya membedakan lulusannya dengan lulusan institusi pendidikan umum lainnya. Institusi pendidikan, di mana selama menempuh pendidikan, siswanya diharuskan tinggal di asrama, dengan seperangkat aturan-aturan yang sedemikian ketat dan berlaku selama “dua puluh empat jam” seperti institusi pendidikan akademi militer, akademi kepolisian, STPDN, STPI dan sejenisnya–oleh Goffman disebut Total Institution.

Total Institution adalah tempat kediaman di mana orang diasingkan dari masyarakat luas dalam periode yang relatif lama dan kelakuan mereka diatur secara ketat. Semua kegiatan di situ diatur oleh norma-norma atau aturan-aturan yang ada–sesuai dengan pranata-pranatanya – yang dijalankan oleh dan melalui kekuasaan “pejabat” asrama. Misalnya untuk pemenuhan kebutuhan makan setiap siswa/taruna mendapat apa, jam berapa diperbolehkan makan, di tempat mana mereka boleh makan dan tidak boleh makan, dan seterusnya–semuanya diawasi dan ditentukan oleh para “pejabat” asrama. Semua kegiatan diatur dan dijalankan berdasarkan atas hirarki kekuasaan yang “ketat”. Dengan struktur kekuasaan seperti ini, tidak menutup kemungkinan di antara para pejabat melakukan penye-lewengan kekuasaan yang diembannya. Artinya, mungkin saja pejabat tinggi asrama memberikan atau melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan yang berlaku, tetapi para pejabat yang lebih rendah yang langsung berhubungan dengan para siswa/taruna bisa saja melakukan penyelewengan sebab pejabat asrama adalah seorang yang berkuasa penuh menentukan apa yang boleh dan yang tidak untuk dilakukan para siswa/taruna. Identitas Kolektif dan Eksklusif Masing-masing level hirarki mempunyai batasan dan otoritas yang tegas, tidak ada kata ‘tidak’ bagi mereka yang berada pada level hirarki yang lebih rendah. Semua ucapan yang keluar dari mulut seorang yang hirarkinya lebih tinggi adalah “perintah” dan tidak boleh dibantah. Demikian halnya dengan kehidupan atau hubungan antara siswa/taruna senior dan yunior. Dengan kondisi kehidupan di ‘asrama 24 jam’ yang seperti itu maka posisi pejabat asrama dan siswa/taruna senior menjadi semakin penting dalam kehidupan para siswa/-taruna selama menempuh pendidikan.

Dengan kondisi yang demikian, penyelewengan kekuasaan oleh para siswa/taruna senior semakin besar–apalagi biasanya keamanan “individual” memang relatif minim (resiko/bahaya menjadi sasaran sesama siswa/taruna memang kurang mendapat perhatian). Hal ini, tanpa disengaja akan menciptakan “kebrutalan” atau struktur pembrutalan sehingga ‘asrama 24 jam’ sering dikenal sebagai “dunia yang paling keras” tak ubahnya seperti kehidupan dalam penjara. Oleh karena itu, kehidupan dalam “asrama 24 jam”–sangat rawan dengan tindak kekerasan siswa/taruna senior terhadap siswa/taruna yunior. Setiap penghuni asrama tidak boleh tidak harus menerima aturan yang berlaku. Di sana mereka mempelajari pola-pola kelakuan dan norma atau nilai sosial “baru”. Mereka juga harus menjadi identik serta harus loyal dengan asrama atau “korps” yang bersangkutan. Kebebasan pribadi sangat minim, semua yang dilakukan atas nama kelompok/korps, semua sama – mulai dari jenis makanan, potongan rambut, pakaian hingga pola kelakuan. Setiap detik atau menit, tindakan dan kegiatan mereka diawasi oleh pembina, petugas atau pengawas–termasuk oleh siswa/taruna yang lebih senior. Mereka benar-benar diasingkan dari pengaruh luar, termasuk keluarga. Mereka akan memiliki nilai-nilai bersama yang begitu kritis terhadap penciptaan rasa solidaritas di antara mereka, ditanamkan karakter tertentu, identitas kolektif dan eksklusif (menjadi warga “pilihan” atau “berbeda” dengan warga masyarakat lainnya).

Dalam kehidupan asrama, boleh dikatakan aturan-aturan yang ada lebih banyak berisi larangan, pembatasan kegembiraan atau harus menekan diri. Dalam kondisi yang demikian, membina hubungan sosial dengan sesama yunior (anggota baru), terutama dengan senior maupun pengawas/pembina menjadi sangat penting. Bahkan bisa dikatakan bahwa menjadi anggota sebuah “klik” (menjadi anggota pengelompokan sosial, yang tak jarang melibatkan pengawas/petugas) merupakan syarat mutlak untuk mampu bertahan hingga selesai masa pendidikan. Tanpa “klik” yang kuat, mereka akan mudah dikecam atau dieksploitasi oleh penghuni lainnya. Oleh karena itu, di antara mereka tercipta hubungan sosial yang kuat dan biasanya relatif langgeng–hingga selesai masa pendidikan pun mereka tetap dekat satu sama lain.

Hierarki Kekuasaan Kehidupan dalam penjara, tak ubahnya seperti kehidupan dalam asrama pendidikan (asrama 24 jam). Bedanya, dalam kehidupan di penjara, para penghuni biasanya melebihi kapasitas penjara itu sendiri; fasilitas yang tersedia semuanya serba minim bahkan dapat dikatakan kurang memadai, baik makanan, kondisi kamar, fasilitas kesehatan, penerangan dan sebagainya. Dengan adanya perasaan senasib dan sepenanggungan (merasa sebagai orang yang paling miskin/sengsara), identitas kolektif pun lambat laun mulai tertanam.

Asrama pendidikan sebagai “total institution” dengan konsep sentralnya yaitu ‘pengasingan atau isolasi sosial’ secara total, jika mulai dirasakan ‘longgar’, di mana para penghuninya tidak lagi merasa terisolasi, maka fungsi “resosialisasi” pun (menanamkan pola-pola kelakuan dan norma-norma atau nilai-nilai sosial “baru”) tentu tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Kegagalan penjara me-resosialisasi pola kelakuan karena tidak menjalankan konsep “isolasi total” secara konsisten. Institusi penjara berhasil menanamkan identitas kolektif yang baru, tetapi gagal merehabilitasi pola kelakuan narapidana sehingga banyak narapidana “kambuhan” atau semakin meningkatnya kualitas dan bertambah luasnya jaringan “kejahatan” mereka. Namun, isolasi total tidaklah harus identik dengan “hierarki kekuasaan yang ketat”. Isolasi sosial secara total adalah selama berada dalam asrama, penghuni tidak boleh berhubungan sosial dengan dunia di luar asrama selama 24 jam, agar program-program re-sosialisasi bisa dijalankan dan dapat mencapai target yang diharapkan; sedangkan “hierarki kekuasaan yang ketat” hanyalah salah satu metode untuk menjalankan proses (program-program) re-sosialisasi. Artinya, proses resosialisasi tidak harus diatur dan dijalankan melalui kekuasaan yang sedemikian hirarkis dan melibatkan siswa/taruna seniornya sebagai pengawas/pembina, agar resiko terjadinya kekerasan terhadap sesama siswa/taruna dapat dihindarkan.

Penulis adalah Pengajar dan Associate Researcher Pusat Kajian Antropologi–FISIP UI Pusat Analisa Jaringan Sosial, juga mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

SINAR HARAPAN 9 JULI 2008

Copyright © Sinar Harapan 2008

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s