Budaya Menabung di Indonesia Tak Mengenal Kosakata Investasi, Aset dan Inflasi Nilai Mata Uang

Budaya Menabung di Indonesia Tak Mengenal Kosakata Investasi, Aset dan Inflasi Nilai Mata Uang

Oleh: Ruddy Agusyanto

 

Sejak kecil, hampir semua warga Indonesia disosialisasikan untuk hidup berhemat agar bisa menabung – mulai dari lingkungan keluarga, sekolah hingga dunia kerja. Hemat adalah pangkal kaya masih diyakini kebenarannya. Oleh karena itu, hemat untuk menabung terus disosialisasikan atau  dibudayakan hingga sekarang. Bahkan belum lama ini Presiden SBY mencanangkan “Gerakan Menabung Nasional”. Namun, sungguh ironis jika kita melihat dalam kehidupan nyata, rasa-rasanya belum ada konglomerat yang menjadi kaya karena berhemat atau menabung.

Semasa kanak-kanak, kita diajarkan menabung karena ingin membeli sesuatu atau mainan yang diinginkan. Orang tua meski mampu membelikannya, dengan sengaja menahan diri untuk memenuhi keinginan anaknya agar bisa mengajarkan dan membiasakan si anak untuk menghemat uang jajannya agar ditabung. Pada saat tabungan sudah cukup jumlahnya untuk membeli mainan yang diidam-idamkan ternyata harga mainan tersebut naik (terjadi inflasi nilai mata uang) . Pada saat itu, orang tua seolah-olah dengan terpaksa harus menutupi kekurangan tersebut sebagai rewards kepada si anak yang sudah bersedia menabung tanpa pernah mengajarkan tentang “inflasi mata uang”.

Sementara itu, pada kejadian yang lain, ketika si anak ingin membeli sebuah mainan yang dilarang oleh orang tuanya. Dengan bekal pengalaman tersebut si anak menabung secara sembunyi-sembunyi. Hal yang sama pun terulang kembali di mana hasil tabungannya ternyata kurang karena harga mainan tersebut sudah naik harganya. “Apa yang salah dari menabung?” Bahkan sampai dia dewasa belum menemukan jawabannya. Meski demikian, mereka tetap saja mensosialisasikan “berhemat agar bisa menabung sebab “hemat adalah pangkal kaya” kepada anak-anaknya di kemudian hari. Hampir semua orang tua melakukan hal yang sama. Oleh karena itu pula prinsip hidup “Hemat Pangkal Kaya” masih ada sampai saat ini sehingga budaya menabung juga masih hidup di Indonesia.

Dalam kenyataan yang lain, tidak mungkin menjadi kaya dengan cara berhemat atau menabung sebab derajat pertumbuhan pendapatan hampir selalu tidak sanggup mengejar pertumbuhan kebutuhan dan keinginan yang harus dipenuhi seseorang. Sudah berhemat sekian lama ternyata tak membuatnya kaya atau mampu memenuhi keinginan-keinginannya. Oleh karena pendapatan hampir selalu tidak mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan. Jika dipaksakan untuk menabung maka yang terjadi adalah berhemat bukan karena “berlebih” atau karena ada sisa pendapatan. Akibatnya,  satu atau beberapa kebutuhan hidupnya terpaksa harus dikorbankan. Oleh karena itu pula sering kita lihat dalam sebuah rumah tangga yang hampir setiap bulannya kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya tetapi mampu memiliki barang-barang elektronik yang cukup mahal (berani kredit, karena kredit “dianggap” merupakan bentuk lain dari menabung).

Permasalahannya adalah terletak pada tujuan menabung yang diajarkan hanya untuk konsumsi (membeli barang-barang konsumtif). Oleh karena itu “kaya” yang dimaksud (tanpa disadari) dipahami sebagai kemampuan untuk membeli sesuatu yang konsumtif (furniture, Black Berry, mobil baru dan seterusnya), Hal ini secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai konsumerian. Setelah tabungannya cukup, lalu dibelanjakan dan habis. Selanjutnya, menabung lagi dan untuk dihabiskan lagi… begitu seterusnya. Lalu sampai kapan harus menabung? Menabung dalam konteks ini berarti harus bekerja – lalu, sampai kapan harus bekerja? Oleh karena itu, seringkali kita lihat banyak orang yang sudah renta terpaksa harus tetap bekerja keras agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kata lain, seolah-olah seumur hidup kita ditakdirkan sebagai “pekerja sejati” yang tak mengenal kata “pensiun”.

“Hemat pangkal kaya” hanya mengajarkan kita kreatif di saat kondisi “minus” sebab di saat kondisi minus (tetap harus bisa berhemat) kita tetap mampu memiliki tabungan. Namun, di saat kita sudah memiliki tabungan (surplus) justru kita akan membelanjakannya untuk barang-barang konsumtif. Kita tidak diperkenalkan dengan kosakata “investasi”. Artinya, tanpa konsep investasi maka budaya menabung secara tidak langsung justru mengajarkan kita untuk konsumtif. Di sisi lain, jika kita memiliki tabungan, yang berarti kita memiliki “surplus” tetapi oleh karena tidak mengenal kosakata investasi maka surplus yang kita miliki (tabungan) tidak mampu membuat kita berubah menjadi kaya. Dengan kata lain, “menabung pangkal kaya” tidak mengajarkan pengetahuan tentang bagaimana mengelola surplus dan bagaimana membedakan antara barang-barang konsumtif atau “liabilitas” dengan “aset”. Selain konsep “investasi” dan “aset”, dalam sosialisasi “menabung” juga tidak diajarkan konsep “inflasi nilai mata uang” meskipun dalam kebiasaan menabung kita selalu mengalami terjadinya inflasi nilai mata uang. Oleh karena itu, menabung di Bank pada saat ini justru membuat kita mengalami “kerugian” sebab nilai bunga Bank lebih kecil dari nilai inflasi rupiah.

Sementara itu, konglomerat atau orang kaya juga mensosialisasikan hal yang sama, tetapi bedanya adalah jika menabung, si kaya tidak membelanjakan tabungannya untuk barang-barang konsumtif melainkan untuk belanja aset (investasi). Mereka diajarkan bagaimana mengelola aset dengan kreatif (akumulasi aset) dan selalu memperhitungkan adanya inflasi nilai mata uang. Konsep-konsep ini yang tidak pernah disosialisasikan oleh orang tua, sekolah dan lingkungan sosial kita.

Oleh karena itu pula, kita sudah terbiasa dan terlatih hidup dalam kondisi minus, sehingga seminus apapun yang tak pernah terbayangkan oleh orang lain/asing, bangsa kita masih mampu bertahan hidup. Masih banyak warga Indonesia yang berpenghasilan dibawah Rp.10.000,- / hari, tetapi mereka tetap bisa bertahan hidup. Sebaliknya, apabila mereka dengan tiba-tiba dibantu oleh pihak lain sehingga penghasilan mereka melonjak menjadi Rp.100.000,-/hari, apa yang terjadi? Bukannya mereka menjadi lebih sejahtera dan bahagia hidupnya, melainkan sebagian besar dari mereka justru menjadi terlibat hutang di sana-sini, menjadi konsumtif dan tak jarang akhirnya terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Hal ini tidak terjadi pada mereka yang tingkat pendidikannya rendah saja, sebagai contoh perusahaan yang biasa mengerjakan proyek-proyek pembangunan (umumnya organisasi yang terdiri dari orang-orang yang profesional dalam bidangnya) akan dibayar sesuai dengan progres pekerjaan (sering disebut dengan per termin). Begitu, disediakan dana 100%, apa yang terjadi? Pekerjaan tidak selesai, danapun tidak bersisa. Memang ironis. Kita memang tidak siap untuk hidup dalam kondisi ‘surplus’ karena kita memang hanya diajarkan dan dilatih untuk menghadapi kondisi minus, yaitu kreatif untuk mengatasi kondisi ‘minus’.

Tanpa disadari “hemat atau menabung Pangkal Kaya” hanya membiasakan kita “sepanjang hidup harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup”. Dampak lebih jauh, adalah rawan terjadi gejolak sosial karena semakin lama ketimpangan antara lapangan kerja yang tersedia semakin jauh tertinggal dari tingkat pertumbuhan penduduk yang mengakibatkan bangsa kita menjadi sangat tergantung pada tersedianya lapangan kerja. Ini akan menjadi beban sosial yang besar bagi pemerintah atau negara – siapapun pemimpinnya. Selain itu, bangsa kita hanya akan menjadi target pasar yang sangat potensial bagi negara-negara lain karena kita adalah bangsa yang konsumtif.

 

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s