PESONA ATRIBUT

Pesona Atribut
(Esquire, edisi Oktober 2011)

ATRIBUT adalah salah satu instrumen untuk memperkenalkan diri sebab atribut memuat informasi tentang siapa pemakainya. Pakaian, perhiasan, model rambut, bahasa, dan sejenisnya bisa menunjukkan jati diri orang yang memakainya. Apabila seseorang mengenakan surban dan memegang tasbih maka ia berniat memperkenalkan dirinya sebagai Ustadz dan dengan demikian ia berharap orang lain akan memperlakukannya sebagai Ustadz. Oleh karena itu, banyak orang cenderung menampilkan atribut-atribut yang dianggap akan menguntungkan dirinya ketika melakukan berbagai interaksi sosial. Akhirnya, kebanyakan orang lebih menghargai pakaian, perhiasan, mobil, handphone atau seberapa banyak gelar akademis yang disandang seseorang ketimbang kualitas si pemakainya itu sendiri. Ini membuat penilaian kita seringkali menjadi tidak obyektif atas kualitas seseorang. Dengan demikian dapat pula dikatakan sebenarnya atribut sering mengelabui panca indra kita.

Memang tidak keliru jika atribut sering dimanfaatkan seseorang untuk memanipulasi orang lain demi mencapai tujuan-tujuan yang diinginkannya. Seorang penipu misalnya, bisa mengelabui calon korbannya dengan menampilkan atribut-atribut tertentu seperti kasus penipuan bermodus gendam (mengandalkan pesona). Ia menghipnotis calon mangsanya dengan menampilkan atribut-atribut selayaknya pemuka agama, orang asing, pebisnis sukses atau kombinasi semua atribut tersebut, ditambah dengan bahasa tubuh dan kata-kata untuk meyakinkan calon korbannya. Begitu calon korban mulai terbius oleh rasa kagum akibat daya pikat atribut-atribut yang digunakannya, penipu segera melaksanakan aksinya – menguras uang atau harta benda milik si korban. Setelah sang penipu pergi barulah si korban menyadari bahwa dirinya telah terpedaya oleh kemilau berbagai atribut yang ditampilkan sang penipu tadi. Meski sudah banyak korban, anehnya tetap saja banyak orang masih meyakini bahwa atribut lebih menentukan kualitas pemakainya.

Pesona atribut memang demikian luar biasa, sampai-sampai masih banyak orang meyakini bahwa orang yang berasal dari keluarga beruntung (status sosial-ekonomi yang baik) niscaya akan mempunyai peluang sukses lebih besar dari pada yang berasal dari keluarga kurang beruntung. Sebaliknya, jika berasal dari keluarga yang kurang beruntung, tipis harapan orang tersebut untuk mengubah nasibnya. Anggapan ini tentu saja tidak benar. Atribut bukanlah penentu nasib. Banyak orang pintar dan rajin yang gagal dalam hidupnya. Sebaliknya, banyak orang yang bodoh dan pemalas tapi sukses. Demikian juga banyak orang berpendidikan tinggi namun mempunyai atasan yang tak setinggi tingkat pendidikan dirinya.

Manusia membutuhkan orang lain untuk bisa memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Sebuah keluarga besar yang solid sekali pun pasti akan membutuhkan orang lain selain anggota keluarganya. Untuk keperluan makan misalnya, mereka harus membeli beras dari sebuah toko. Beras diperoleh melalui beberapa tangan manusia, mulai dari petani yang entah dimana letak sawahnya, kemudian dibeli pedagang dan seterusnya hingga akhirnya sampai ke keranjang belanjaan kita. Begitu pula untuk memenuhi kebutuhan lainnya, mulai dari kebutuhan biologis, psikologis, kehormatan sampai kebutuhan tetek bengek lainnya, pastilah seseorang selalu memerlukan orang lain.

Kenyataan inilah yang membuat manusia harus membina hubungan dengan manusia lainnya. Tiap-tiap orang akan berusaha saling mengurangi perbedaan yang ada untuk mencapai kesepakatan, agar setiap kebutuhan setiap pihak bisa terpenuhi. Kesepakatan-kesepakatan ini selalu dievaluasi setiap saat, sesuai dengan dinamika kebutuhan para pelaku. Keterhubungan ini akhirnya mengikat mereka menjadi satu satuan sosial atau jaringan sosial – yang ditandai dengan lahirnya aturan (tak tertulis) sebagai hasil kesepakatan yang ada. Aturan jaringan ini menjadi pedoman perilaku diantara anggotanya sehingga di dalam keterhubungan tersebut ada semacam hak dan kewajiban, yang jika dilanggar bisa mengakibatkan terganggunya hubungan-hubungan sosial yang sudah terbina. Dampak yang langsung terasa dengan terganggunya hubungan sosial tersebut adalah terganggunya kebutuhan hidup. Ini menjelaskan alasan biasanya banyak orang berani melanggar aturan institusi tempat ia bekerja tetapi tidak berani melanggar aturan jaringan sosial.
Namun dalam kehidupan, ada kerjasama tetapi juga persaingan. Jika sesuatu yang diinginkan merupakan sumberdaya yang langka atau terbatas ketersediaannya seperti kursi pimpinan, jabatan strategis, atau proyek (yang tak mungkin disediakan untuk semua orang) maka persainganpun tak bisa dihindari. Kerjasama dan persaingan dalam kehidupan adalah hal yang wajar. Seseorang bisa menjadi kawan saat bekerjasama dan menjadi lawan ketika bersaing. Dalam pemilu legislatif April 2009 misalnya, semua parpol bersaing untuk memperoleh suara. Namun, saat pemilihan presiden, beberapa parpol berkoalisi demi memenangkan calon presiden yang diusungnya. Memang, hubungan sosial kadang menguntungkan dan kadangkala saat harus bersaing, merugikan. Hubungan sosial bisa dianggap menguntungkan jika produktif, artinya mampu mendatangkan keuntungan atau mencegah kerugian. Oleh karena itu, hubungan sosial sering disebut modal sosial ketika produktif.
Hubungan sosial ibarat sebuah pipa yang menghubungkan kita dengan relasi kita, yang bisa dialirkan berbagai hal seperti informasi, peluang, sumberdaya, atau bantuan lainnya. Maka, berbagai kesuksesan (peformance atau rewards) bisa dikatakan merupakan fungsi dari hubungan sosial, yaitu bagaimana seseorang mampu memanfaatkan sumberdaya yang dikuasai oleh relasi-relasinya. Oleh karena itu, sering terjadi peluang kerja (apalagi untuk posisi penting) akan diberikan kepada orang yang dianggap teman. Posisi tersebut bisa diperoleh karena ada pemberi referensi (sistem referensi), yaitu orang yang punya hubungan dekat – baik dengan calon pegawai maupun dengan pencari pegawai.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pintar, rajin, kerja keras akan bermakna jika berada dalam jaringan hubungan yang tepat. Jika tidak, maka semua atribut yang dimiliki seseorang itu tak banyak gunanya. Disinilah jaringan sosial memainkan peran kunci dalam meraih sukses dan peformance kerja. Jaringan sosial mampu menyediakan cara-cara dalam memperoleh informasi, menghalangi kompetisi, berkolusi, berkoalisi untuk mengatur dan menentukan harga dan kebijakan. Oleh karena itu, yang terpenting adalah bagaimana membangun pipa-pipa yang bisa menghubungkan ke banyak orang.

Ruddy Agusyanto

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s