Analisa Jaringan Sosial (sinopsis)

Jaringan Sosial dan Dinamika Kehidupan
• Pertengkaran antara dua orang yang berbeda agama/skbangsa dapat menjadi konflik nasional tapi juga dapat berhenti di dua orang itu saja.
• Sebuah bank yang bangkrut dapat merusak sistem perbankan nasional tapi dapat pula tidak berpengaruh apa-apa.
• Mengapa persebaran penyakit di suatu daerah lamban, sementara di daerah lain begitu cepat menjadi epidemi
• power di dalam organisasi-organisasi seringkali justru lebih berasal dari tingkat individual di dalam sebuah jaringan, yaitu sebagai pusat dari banyak hubungan (sentral) dibandingkan job title yang disandangnya (dalam struktur formal).
• Jaringan sosial memainkan peran kunci dalam kesuksesan bisnis dan peformance kerja.
• Jaringan menyediakan cara-cara bagi companies untuk memperoleh informasi, menghalangi kompetisi serta seting harga dan kebijakan.

Manusia Adalah Mahkluk Sosial

Semua organisma/mahkluk hidup mempunyai “kebutuhan dasar” yang harus dipenuhi agar bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya, tak terkecuali manusia. Kebutuhan akan energi/pangan, air, udara, berkembang biak dan seterusnya – sesuai dengan jenis organisma/mahkluk hidup yang bersangkutan – yang mau tak mau, harus mereka penuhi agar bisa tetap mempertahankan hidupnya sebagai mahkluk/organisma. Sementara itu, dalam upaya pemenuhan kebutuhan tersebut, manusia tidak bisa melakukanya seorang diri, ia memerlukan keberadaan atau bantuan orang lain – sebagai misal dia harus punya keturunan (reproduksi) untuk menjaga kelangsungan hidupnya (eksistensi) maka ia membutuhkan orang lain sebagai “pasangan”nya (suami atau istri). Berdasarkan hal ini maka manusia – mau tak mau – harus membina kerjasama dengan manusia lainnya, yang pada akhirnya membentuk satu kesatuan sosial – baik demi kelangsungan hidup sebagai pribadi (individu) mau pun kolektif sehingga manusia dalam kehidupannya cenderung hidup mengelompok. Oleh karena itu pula, selain sebagai makhluk biologi, manusia juga digolongkan sebagai mahkluk sosial. Dengan kata lain, manusia adalah mahkluk biologi yang sekaligus juga sebagai mahkluk sosial dengan segala kebutuhan-kebutuhan sosialnya.

Terbentuknya Jaringan Sosial
• Manusia selalu membina hubungan sosial dengan manusia lain di mana dia tinggal dan hidup
Namun manusia tidak sanggup membina hubungan atau berhubungan dengan semua manusia yang ada – selalu terbatas pada sejumlah orang tertentu. Oleh karena itu mengapa setiap individu/manusia membina hubungan sosial dengan individu/manusia tertentu dan tidak dengan individu/manusia lainnya.
• Setiap individu belajar melalui pengalamannya untuk masing-masing memilih dan mengembangkan hubungan-hubungan sosial yang tersedia dalam masyarakatnya, disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada pada diri individu yang bersangkutan. Manusia membina hubungan sosial dengan manusia lainnya tidak terjadi secara acak
• Oleh karena itu, tingkah laku (tindakan, sikap dan perilaku) yang diwujudkan dalam suatu interaksi sosial itu sistematik, meskipun para pelakunya belum tentu menyadarinya, ada pengulangan untuk hal-hal yang sama dan dalam situasi yang sama, ini menandakan adanya:
– Keteraturan
– “Aturan”. Semacam aturan yang disepakati bersama, yang membuat tingkah laku yang diwujudkan menjadi ‘teratur‘

Jaringan Sosial Menjadi Penting & Semakin Relevan
• Manusia tidak selalu menggunakan semua hubungan sosial yang dimilikinya dalam mencapai tujuan-tujuannya, tetapi disesuaikan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya atau konteks sosialnya. Oleh karena itu, dalam rangka pencapaian tujuan, biasanya selalu diikuti dengan konfigurasi jaringan hubungan sosial tertentu (satu tujuan = satu konfigurasi hubungan sosial = satu jaringan sosial).

Analisa jaringan (hubungan) Sosial
 Bila hakekat/prinsip dari hubungan-hubungan sosial yang mengikat para aktor dalam jaringan sosial yang bersangkutan diketahui maka dapat dibuat prediksinya tentang struktur sosial (logika situasional) yang terciptakan, jenis kontrol dan jenis-jenis pertukarannya.
 Selain itu, analisa jaringan sosial dengan masing-masing struktur sosial yang diciptakannya dapat menjelaskan sejumlah konflik sosial, perubahan dan pengendalian di dalam organisasi, negara dan masyarakat dll
Dengan demikian
• Analisa Jaringan Sosial (AJS) mampu memperlihatkan bagaimana suatu aturan-aturan, nilai-nilai dan norma-norma yang sudah mapan (bisa) diterapkan atau tidak (termasuk aturan-aturan yang telah distrukturkan secara formal di dalam sebuah organisasi atau masyarakat)
• Standar-standar yang jadi pegangan (logika situasional) membentuk kemungkinan-kemungkinan dan batasan-batasan bagi alternatif tindakan, sikap dan perilaku, di mana standar-standar ini sebenarnya merupakan hasil tawar-menawar dari pasangan-pasangan hubungan diadik yang ada dalam jaringan sosial ybs dan bukan secara langsung berasal dari sesuatu yang abstrak seperti kebudayaan, sistem nilai atau tatanan moral.

Referensi
– Jaringan Sosial Dalam Organisasi, 2007, Jakarta: Rajagrafindo

– FENOMENA DUNIA MENGECIL: Rahasia Jaringan Sosial, 2010, Depok: Institut Antropologi Indonesia

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s