Diversitas Lingkungan Kawasan Karst Malang Selatan Dan Diversitas Etnostrategi

Ruddy Agusyanto

Semua mahkluk hidup (organisma) mengalami masalah pokok yang sama, yaitu bagaimana mereka mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya, tak terkecuali manusia. Hanya saja yang membedakan manusia dari mahkluk hidup lainnya (flora dan fauna) adalah cara manusia dalam memenuhi kebutuhannya dalam rangka menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Manusia memang mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar yang sama dengan flora dan fauna sebagai mahkluk biologi seperti kebutuhan akan energi/pangan, air, dan udara tetapi bagaimana manusia untuk bisa memperoleh energi/pangan dan dan minuman, menentukan jenis makanan, cara makan dan minum, menghindari bahaya (tempat berlindung), bereproduksi  atau berketurunan dan seterusnya membuat manusia tidak sekedar sebagai mahkluk biologi (seperti flora atau fauna). Inilah yang membedakan manusia dengan mahluk hidup/organisma lainnya (flora dan fauna).

 

Kebudayaan Dan Adaptasi Budaya

Upaya manusia, dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya – baik kelangsungan hidup secara pribadi maupun kolektif – menuntut pengembangan pola-pola perilaku yang membantunya untuk dapat memanfaatkan lingkungannya (baik lingkungan a-biotik. Biotik maupun sosial) demi kepentingannya untuk memperoleh energi/pangan dan bekal hidup lainnya, menghindari bahaya, bereproduksi atau berketurunan dan lain-lain agar tetap survie. Berkenaan dengan hal tersebut maka konsep kebudayaan menjadi penting dalam upaya manusia untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Makanan meskipun merupakan kebutuhan dasar manusia sebagai mahkluk biologi, tidak termasuk atau bukanlah “kebudayaan”. Namun cara memilih, preferensi makanan, cara mengolah makanan dan menyimpannya, adalah bagian dari kebudayaan. Manusia beradaptasi melalui medium kebudayaan yaitu dengan mengembangkan cara-cara atau pedoman-pedoman untuk melakukan sesuatu sesuai dengan sumberdaya yang dibutuhkan dan yang mereka temukan untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidupnya[1]. Oleh karena itu, selain manusia sebagai mahkluk biologi dan mahkluk sosial, juga disebut sebagai makhluk budaya sebab manusia memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi dengan cara-cara budaya daripada cara-cara biologis, sehingga peluang untuk mempertahankan hidupnya menjadi lebih besar dibandingkan dengan kehidupan organisma atau mahluk hidup lainnya. Pedoman-pedoman hidup yang digunakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup inilah yang disebut dengan kebudayaan.

Sementara itu, di lain pihak, kebutuhan-kebutuhan hidupnya bersumber pada lingkungan fisik (abiotik), biologi (biotik) dan sosial (keberadaan manusia lain) di mana mereka hidup dan tinggal. Oleh karena itu, manusia harus memahami lingkungannya di mana sumber-sumber “kebutuhan hidupnya” itu tersedia dan juga untuk menentukan apa yang bisa menjadi makanannya serta bagaimana cara memakannya. Dan, yang juga tak kalah pentingnya adalah bagaimana agar sumber makanan itu selalu cukup tersedia (konsep konservasi[2]) dan seterusnya sehingga manusia mempunyai jaminan atas kelangsungan hidupnya ke depan. Namun, lingkungannya pun (biotik – binatang dan tumbuh-tumbuhan juga mempertahankan kelangsungan hidupnya, dalam arti harus makan dan minum serta bereproduksi juga seperti manusia); demikian halnya dengan lingkungan a-biotik, ulah manusia mempengaruhi lingkungan biotik dan a-biotik, dan sebaliknya respons abiotik dan biotik atas ulah manusia – sehingga lingkungan di mana manusia hidup dan tinggal juga dinamis. Oleh karena itu, manusia juga perlu menjaga keberlangsungan hidup lingkungan hidupnya (lingkungan biotik dan a-biotik, serta manusia lainnya) demi kelangsungan hidup dirinya dan kolektifnya.

Berdasarkan kenyataan ini, mau tak mau, manusia harus memahami lingkungan hidupnya – baik biotik, a-biotik maupun keberadaan manusia lainnya – dalam rangka menentukan ketersediaan bahan makanannya, pilihan makanannya, cara mengkonsumsi, kelangsungan ketersediaannya dan sebagainya demi kelangsungan hidup pribadi dan “kelompok”nya. Oleh karena itu, konsep adaptasi menjadi penting dalam kebudayaan atau kehidupan manusia. Manusia harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya di mana mereka hidup, yang juga selalu dinamis. Oleh karena itu pula dikenal “budaya sasi[3]” yang berupa larangan-larangan untuk “memanfaatkan” mahkluk hidup (flora dan fauna) dalam periode-periode tertentu karena pada periode-periode tersebut flora dan fauna yang bersangkutan sedang berada dalam periode “berkembang biak atau bereproduksi” atau dilarang memasuki area-area tertentu agar tidak menganggu “keseimbangan hidup” demi kelestarian atas ketersediaan energi/pangan masyarakat manusia yang tinggal dan hidup di sana.

Adaptasi “timbal-balik” ini menghasilkan “keseimbangan dinamis” antara kebutuhan-kebutuhan umat manusia dengan potensi-potensi sumberdaya (sumber energi/pangan, air dan udara dan lain-lain) yang ada di lingkungannya (baik secara langsung mau pun tak langsung – demi kelangsungan hidup). Dengan demikian, adaptasi budaya yang dimaksud bukan dalam pengertian superioritas ras[4] melainkan mengacu pada proses interaksi antara perubahan yang ditimbulkan oleh organisma/mahkluk hidup pada lingkungannya dan perubahan yang ditimbulkan oleh lingkungan pada organisma/mahkluk hidup[5] – yang saling mempengaruhi secara timbal-balik. Oleh karena itu, cara-cara pemenuhan kebutuhan hidup (pengetahuan budaya) harus bersifat adaptif, yaitu sesuai dengan lingkungan fisik/alam (a-biotik), biotik dan sosial di mana mereka hidup dan tinggal, sehingga peluang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya menjadi lebih besar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan itu adaptif sebagai pedoman hidup yang digunakan untuk mewujudkan tindakan-sikap-perilaku dalam rangka menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup.

Oleh karena itu daerah-daerah yang mempunyai karakteristik lingkungan (biotik dan a-biotik) yang mirip akan berkembang pola kehidupan (kebudayaan) yang serupa dan perbedaan lingkungan merangsang tumbuhnya perbedaan kebudayaan. Demikian pula bahwa kebudayaan bisa disimpulkan selalu adaptif terhadap lingkungan biotik dan a-biotik yang menjadi lingkungan hidupnya[6].

Budaya Sebagai Respons Adaptif Terhadap Diversitas Lingkungan Biotik Dan A-biotik Karst: Etno Strategi dan Etno Konservasi

Batu gamping (limestone) sangat dominan mewarnai kawasan karst dan batu gamping tersebut dianggap tidak mampu menyimpan air dalam waktu yang lama. Air hujan di daerah karst diyakini langsung turun ke bawah menuju zona jenuh air kemudian mengalir menuju titik-titik keluaran menjadi mata air atau terbuang ke laut. Oleh karena itu, daerah karst selalu diidentikan dengan kawasan yang kering dan tandus. Oleh karenanya pula, kawasan karst seringkali masih dianggap oleh sebagian besar masyarakat bahkan oleh sebagian besar ahli tambang dan geologi Indonesia hanya memiliki nilai ekonomi dari segi tambangnya saja seperti batu gamping sebagai bahan baku industri semen, bahan bangunan, untuk dijadikan ubin (batu marmer), sebagai bahan untuk perhiasan, maupun macam-macam industri lainnya. Dolomit dan kalsit (CaCO3 yang telah mengalami proses kristalisasi) juga ditambang untuk aneka industri, sementara diluar potensi tambang semuanya dianggap tak bernilai. Maka dari itu sangatlah wajar jika banyak orang, bahkan para ilmuwan menganggap bahwa kawasan karst merupakan wilayah kering yang tidak produktif.

Sebaliknya, jika kita berkeliling di kawasan karst daerah Malang Selatan di mana di sepanjang jalan kita memotong hutan yang ditumbuhi berbagai tanaman endemik seperti kayu jati (tectona gradis), kayu cendana (santalum album), mahoni (swietenia mahagony), kopi, coklat (kakau), cengkeh yang memiliki nilai ekonomis dan berbagai jenis tanaman lainnya menghiasi sepanjang jalan dari Malang menuju Sendang Biru; bahkan tanaman bambu pun juga ada sebagai pertanda bahwa di tanah tersebut sangat cukup kandungan airnya; tak hanya itu, suara aliran sungai atau suara gemercik air pun terdengar sehingga tidaklah keliru jika beberapa daerah di kawasan karst Malang Selatan memiliki nama-nama dengan unsur kata “sendang” (telaga), “tirto” (air) atau “banyu” (air). Di sepanjang jalan nampak pula masyarakat setempat sedang menggarap sawah, berkebun tebu, singkong, pisang dll. Oleh karena itu sangatlah wajar jika desa Sitiarjo, kecamatan Sumber Manjing dahulu dikenal sebagai lumbung padi bagi kecamatan Sumber Manjing.

Secara umum karst memiliki dua dunia kehidupan, yaitu kehidupam exokarst (karst permukaan) dan endokarst (karst bagian bawah). Dua kehidupan ini berbeda tetapi saling terkait dan saling mempengaruhi satu sama lain. Pemahaman manusia yang tinggal dan hidup di kawasan karst tentunya memiliki respons yang berbeda dalam menjalani kehidupannya dibandingkan dengan mereka yang hidup dan tinggal di kawasan non-karst. Sebelum banyak penelitian ilmiah dilakukan, masyarakat setempat sudah hidup dan tinggal di sana bergenerasi-generasi dan terbukti bahwa mereka mampu “survive” – menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidupnya, baik secara pribadi maupun kolektif. Mungkin saja tidak terpikirkan oleh mereka bahwa secara ilmiah kehidupan di endokarst (bawah tanah) seperti goa, sungai bawah tanah atau flora dan fauna yang ada di sana akan mempengaruhi kehidupan yang ada di permukaan tanah atau sebaliknya. Namun, dalam berbagai peristiwa kehidupan yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun, mendorong mereka secara turun-temurun untuk mengembangkan kebudayaan sesuai dengan apa yang dipahaminya. Yang menurut kaca mata ilmiah, apa yang mereka pahami atau jelaskan melalui kebudayaannya memang tidaklah scientific, tapi yang penting dan perlu digaris-bawahi dalam kasus ini sebenarnya justru mereka sudah membuktikan bahwa berhasil merespons secara adaptif atas lingkungan biotik dan a-biotik (baik yang berada di atas atau pun di bawah permukaan tanah) sehingga mereka mampu hidup dan tinggal di sana hingga hari ini.

Sejak ratusan atau ribuan tahun yang lalu masyarakat setempat sudah mengenal keberadaan goa dan sebagian masyarakat di sana beranggapan bahwa goa memiliki unsur magis. Hal ini erat hubungannya dengan pandangan masyarakat terhadap goa sebagai tempat pemujaan, tempat meletakkan sesajen, tempat pertapaan dan kuburan yang dikeramatkan. Masyarakat setempat percaya bahwa goa adalah tempat yang bisa mendatangkan berkah, wangsit, atau terhindar dari musibah, dll. Ini adalah sebuah bentuk respons adaptif dari masyarakat setempat dengan pandangan/keyakinan bahwa selain dunia kehidupan manusia terdapat pula dunia kehidupan yang lain (sering dikenal sebagai “dunia gaib”). Dunia lain ini diyakini mempengaruhi dan bahkan mengendalikan atau menentukan kehidupan manusia. Dalam keyakinan ini, mereka mempunyai atau mengembangkan tata-cara untuk berhubungan dengan dunia gaib tersebut dengan “memberi sajen” atau “mengkeramatkan”; dan dalam hal ini adanya di dunia bawah tanah atau di alam raya bagian atas (langit).

Pada setiap penyelenggaraan upacara tradisional, banyak sendhang, tempat-tempat keramat, dan situs-situs arkeologi “dimuliakan”. Pepohonan besar yang sudah langka dikeramatkan. Beberapa dusun bahkan menerapkan sanksi bagi siapapun yang merusak pepohonan di sekitar lokasi-lokasi seperti itu. “Barang siapa merusak satu pohon, meskipun hanya memotong rantingnya, harus menanam 20 batang pohon sebagai pengganti”. Begitulah kira-kira bentuk sanksi yang ternyata cukup efektif, setidaknya untuk masyarakat di sekitar Luweng Donotirto, Ponjong. Apalagi diperkuat dengan mitos-mitos kemarahan “penunggu” yang dapat mendatangkan bencana bagi orang yang bersangkutan maupun seluruh warga dusun. (Yuwono, “Peran Strategis Tradisi dalam Penggalakan Gerakan Etnokonservasi pada Masyarakat Gunungkidul”, diskusi FORUM KARST GOENOENG SEWOE, 5 Agustus 2003 di FIB UGM). Huruf tebal dari penulis.

Ini adalah bentuk pemahaman masyarakat yang sebenarnya berprinsip pada konsep “konservasi’ atau bisa kita sebut sebagai konservasi tradisional atau etno konservasi. Oleh karenanya, di sana banyak sekali makam-makam, goa-goa atau binatang dan tumbuhan tertentu yang dikeramatkan.

Goa, sebenarnya adalah bekas sungai yang terangkat dan di bawahnya muncul sungai-sungai baru (proses geologi). Menurut data dan kajian arkeologis, manusia purba hidup di sekitar sungai (air tawar) dan berlindung di goa-goa. Oleh karena itu, tidaklah keliru jika sejak jaman prahistori, manusia sudah memanfaatkan goa sebagai tempat tinggal karena ternyata secara “ilmiah” goa memiliki ruangan (chamber) yang mampu menampung orang banyak dan mempunyai sifat yang khas dalam mengatur suhu di dalamnya. Sifat tersebut yang menyebabkan goa digunakan sebagai tempat berlindung, baik oleh manusia atau oleh binatang (Irawan, 2010, http://infokarstdangua.blogspot.com/). Dan, pada jaman Perang Dunia II, goa sering digunakan sebagai tempat pertahanan atau perlindungan seperti yang bisa kita jumpai di berbagai wilayah di Indonesia termasuk di kawasan karst Malang Selatan ini.

Tak cukup sampai di situ, di era informasipun goa digunakan bukan saja sebagai tempat persembunyian/pertahanan tetapi juga untuk menghindari efek radiasi, hal ini terbukti dalam 20 tahun belakangan ini negara-negara maju seperti Amerika Serikat, RRC, dan Swedia giat membangun gua sebagai markas maupun gudang makanan.
Dengan etno konservasi, yaitu dengan mengkeramatkan tempat-tempat seperti goa, pohon besar dan tua atau tempat-tempat tertentu lainnya, ternyata mereka mampu menjaga “kandungan air” dalam dunia lain (endo karst) dan menjaga keseimbangan biotik endokarst (bawah tanah). Hal ini terbukti dari hasil penelitian ilmiah yang mengungkapkan bahwa karst justru merupakan akuifer air yang baik. Konsep epikarst seperti yang dilontarkan oleh ahli hidrologi karst Mangin (dalam Falah & Adiardi, 2011) menyebutkan bahwa lapisan batu gamping yang ada di dekat permukaan karst memiliki kemampuan menyimpan air dalam kurun waktu yang lama. Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut menjadi jelas bahwa kawasan karst memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada hanya sekedar gundukan bahan galian atau tambang untuk industri, yaitu sebagai akuifer air alami yang berperan penting terhadap suplai hidrologi bagi daerah sekitarnya. Sifat alami batu gamping yang memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air hujan dalam kurun waktu yang cukup lama ini, maka etno konservasi masyarakat setempat mampu menjadi kawasan karst sebagai pengendali banjir.

Tak hanya hanya berguna sebagai konservasi kandungan air, ternyata etno konservasi tersebut dengan mengkeramatkan goa juga menyelamatkan ekosistem goa, termasuk jutaan kelelawar yang hidup di sana. Masyarakat tidak mungkin berani berburu kelelawar di dalam goa, kecuali kelalawar yang berada di luar goa, dan ini biasanya untuk obat (traditional medicine) dan itu pun hanya diburu satu-dua ekor sesuai dengan kebutuhan. Sementara itu, kelelawar memiliki kemampuan makan hingga seperempat berat tubuhnya setiap malam atau mampu melahap 800 – 1200 ekor serangga per harinya (Ducummon, 2011) maka ladang atau kebun mereka menjadi jarang diserang oleh hama[7] (anti hama) sebab daya jelajah kelelawar ini mencapai radius kurang lebih sembilan kilometer dari tempat tinggalnya, artinya kelelawar ini memiliki kemungkinan menjaga areal sekitar 255 kilometer persegi () dari ancaman hama serangga petani setempat tidak perlu repot mengeluarkan banyak uang untuk membeli pestisida. Contoh konsep etno konservasi yang lain adalah ritual hari raya “Nyepi” di mana seluruh warga Bali dilarang menyalakan “api” (termasuk memasak dengan menggunakan api, tidak boleh menyalakan lampu), yang sudah dilakukan oleh masyarakat Bali sejak 1934 tahun yang lalu. Sementara WWF menghimbau pada hari penyelamatan bumi untuk mematikan listrik satu jam kepada dunia di tahun ini. Ini sungguh ironis, masyarakat Bali yang dianggap masyarakat “tradisional”, ternyata memiliki konsep etno konservasi jauh “lebih modern” dari WWF.

Namun sayangnya, etno konservasi ini dirusak oleh pengetahuan tentang “nilai tambang bagi industri” dan “pengetahuan tentang pestisida” yang notabene dianggap lebih “maju” atau “modern”. Akibatnya, di beberapa wilayah, masyarakat menjadi gemar menambang batu gamping dan memburu kelelawar tidak sekedar untuk obat atau sebagai lauk pauk sesuai kebutuhan melainkan untuk diperjual-belikan secara komersiial sehingga mengganggu “keseimbangan” ekosistem.

Kini semuanya telah berubah terutama setelah masuknya “modernisasi” yang mengakibatkan terabaikannya atau dianggap “kuno” etno konservasi oleh banyak pihak sehingga keberadaan zona epikarst yang terletak dekat permukaan menjadi rawan mendapatkan gangguan dari aktivitas manusia “modern”, salah satunya adalah perubahan bentuk lahan, baik karena untuk keperluan eksploitasi batu gamping (apalagi dalam skala besar) maupun untuk keperluan pembangunan lainnya. Permukaan karst yang dikupas mengakibatkan bentuknya menjadi lebih pejal dan masif dengan sedikit pori-pori maupun retakan-retakan. Terlebih lagi, ternyata setiap lahan karst yang terkupas membutuhkan waktu yang lama (ribuan tahun) untuk kembali membentuk lapisan epikarst sehingga berfungsi sebagaimana awalnya. Dampaknya, ketika turun hujan, batu gamping tidak lagi mampu menyerap air. Akibatnya, air tidak terserap sehingga berpotensi terjadinya banjir bandang, terutama jika lahan yang terkupas tersebut luas dan kelerengannya signifikan. Oleh karena itu, Malang Selatan yang dulu tidak pernah dilanda bencana banjir, sekarang beberapa kali mengalami banjir bandang. Kebiasaan ternak babi di Sitiarjo pun (penduduk asli) sekarang hilang karena takut dilanda banjir bandang. Tidak disangka bahwa “modernisasi” mempunyai dampak negatif yang sedemikian hebat (disamping juga ada dampak positifnya).

Pemahaman atas lingkungan biotik dan a-biotik ini melahirkan respons adaptif “timbal-balik” (kebudayaan) melalui tindakan-sikap-perilaku adaptif seperti di atas – bagaimana mereka harus merespons lingkungan biotik dan a-biotik untuk merumuskan konsep-konsep strategi pemenuhan kebutuhan hidupnya – yang di dalamnya juga mengandung konsep etno konservasi. Mereka mempelajari kapan dan harus menanam apa; kapan harus mencari ikan dan dengan alat seperti apa, serta kapan dan dimana harus berdagang, siapa yang membutuhkan dan apa yang dibutuhkannya dst sehingga mereka mampu merumuskan strategi-strategi hidup jangka pendek guna memenuhi kebutuhan sehari-hari – termasuk untuk mengatasi masalah cash money – serta kebutuhan jangka menengah dan jangka panjang. Oleh karena itu, dalam konteks ini, respons adaptif ini kami sebut dengan etnostrategi.

Mereka mempunyai pengetahuan untuk merancang keamanan atas ketersediaan sumber energi/pangan dengan cara mengatur waktu tanam masing-masing jenis tanaman sehingga bisa mengatur waktu panennya berdasarkan atau sesuai waktu sosial dan waktu pribadi mereka (sesuai kebutuhan yang berulang dari sepanjang pengalaman hidupnya). Merekapun punya konsep “menjual sebelum panen” atau “menabung” dalam bentuk ternak (ayam, kambing atau sapi) atau dengan menanam berbagai tanaman (singkong, pisang, tebu[8], kelapa, padi, jati, singkong, pepaya, lombok dll) dalam waktu yang berbeda-beda sehingga waktu panennya pun berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan menurut waktu sosial mereka. Memilih dan mengatur waktu tanam dan panen (ternak maupun tanaman) ini merupakan salah satu bentuk strategi untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidupnya, yang berupa strategi pemenuhan kebutuhan sehari-hari, jangka menengah ataupun jangka panjang berdasarkan pemahaman atas karakter lingkungan a-biotik, hewan ternak atau tanaman-tanaman tsb.

Dengan demikian, perwujudan tindakan-sikap-perilaku masyarakat sesungguhnya tidaklah sekedar respons spontan melainkan sebuah proses yang panjang dan mendalam seperti konsep etno konservasi di atas. Dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi terus beradaptasi dan mengembangkan pedoman-pedoman hidup untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidupnya, baik secara individual maupun kolektif. Oleh karena itulah, pihak luar (pemerintah dan para praktisi serta akademisi/ilmuwan) sebaiknya meninggalkan sikap “superioritas” atas etnostrategi masyarakat setempat sehingga tidak merusak atau memutus transmisi (pewarisan) keunggulan dan potensinya. dalam mengkaji dan merumuskan kebijakan pembangunan demi kesejahteraan masyarakat ybs tanpa merusak ekosistem di sana.

Kepustakaan:

Agusyanto, Ruddy.

2010 FENOMENA DUNIA MENGECIL: Rahasia Jaringan Sosial. Depok, Institut Antropologi Indonesia

Agusyanto, Ruddy., dkk.

2006 Pengantar Antropologi. Jakarta: Unibersitas Terbuka.

Ducummon, LS.

2011 Ecological And Economic Importance of Bats, Bat Conservation International, Inc, Austin, Texas

Falah, A.B. Rodhial & Akhmad Zona Adiardi.

2011 “Mengenal Fungsi Kawasan Karst Dan Upaya Perlindungannya”, makalah pada Acintyacunyata Speleological Club dalam Kemah Konservasi BKSDA Propinsi Yogyakarta 26 – 27 November.

Ford, D and William, P.

2007 “Karst Hidrogeology And Geomorphology”, John Wiley & Sons Ltd. The Atrium, Southtern Gate, Chicester West Sussex, England.

Haviland, William A.

1988 Antropologi, jilid 2. Terj. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Irawan, Haris

2010 Aneka Nilai Kawasan Karst Dan Goa, http://infokarstdangua.blogspot.com/

Kroeber, Alfred L.

1931 “The Cultural Area and Age Area Concepts of Clark Wissler” In Rice, Stuart A. (ed.), Methods in Social Science pp. 248-265. University of Chicago Press, Chicago

Robertson, Roland, ed.

1988 Agama: Dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologi (terj. Achmad Fedyani Saifuddin). Jakarta: CV. Rajawali.

Smith, Huston.

1985 Agama-agama Manusia (terj. Saafroedin Bahar). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Yuwono, J Edy Susetyo

2003 “Peran Strategis Tradisi dalam Penggalakan Gerakan Etnokonservasi pada Masyarakat Gunungkidul”, makalah pada diskusi Forum Karst Goenoeng Sewoe, 5 Agustus di FIB UGM.


[1] Kebudayaan bisa dilihat sebagai pedoman untuk menjalani kehidupannya – baik sebagai mahkluk biologi mau pun sebagai mahkluk sosial (pedoman hidup) agar tetap survive.

[2] Semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia merupakan sumber daya alam. Tumbuhan, hewan, manusia, dan mikroba merupakan sumber daya alam hayati, sedangkan faktor abiotik lainnya merupakan sumber daya alam nonhayati. Pemanfaatan sumber daya alam harus diikuti oleh pemeliharaan dan pelestarian karena sumber daya alam bersifat terbatas. (http://bebas.ui.ac.id/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0040%20Bio%201-9a.htm).

[3] Budaya “sasi” dikenal hampir di semua masyarakat dan kebudayaan di wilayah Indonesia.

[4] Puncak evolusi manusia adalah masyarakat Eropa, Agusyanto dkk, 2006.

[5] Antropolgi Jilid 2, Haviland

[6] Lihat teori area kebudayaan.

[7] Kawasan karst selalu memiliki goa yang jumlahnya mencapai belasan hingga ratusan dalam satu kawasan. Goa-goa ini ternyata merupakan hunian bagi sejumlah biota, salah satunya adalah kelelawar. Berbagai jenis kelelawar bisa hidup berdampingan dalam satu goa. Beberapa goa yang memiliki dimensi ruang besar dan lorong yang panjang, mampu menampung ribuan hingga jutaan ekor kelelawar.

[8] Kebiasaan menanam tebu adalah kebiasaan baru. Menanam atau berkebun tebu merupakan respons atas adanya pabrik gula di daerah Malang Selatan.

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s