Tropis adalah Awal dan Pusat Peradaban – BUDAYA SONTOLOYO: Matahari itu Berkah atau Kutukan?

sontoloyo-2

IDR Rp. 77.000,-

Penulis : Ruddy Agusyanto

Editor Bahasa : Hosiana Gurning
Desain Cover : Revozan David Agustinus

Layout: Raymond MM

Penerbit: Institut Antropologi Indonesia

“Amnesia kultural harus disembuhkan…

Negara Tropis membutuhkan geographical awareness

untuk menghadapi modernisasi dan globalisasi”

Buku ini bertutur tentang pemikiran seorang antropolog yang mengupas paradoksal perilaku dan tipologi kultural masyarakat yang hidup di kawasan tropis dan non-tropis. Kupasan dan bahasan disajikan dengan mengkolaborasikan kumpulan catatan, data, fakta, dan referensi sejarah dari berbagai sumber yang disusun secara apik dan sistematis. Penulis mampu mendeskripsikan dinamika geografis dan klimatologis dari masyarakat tropis maupun non-tropis secara cerdas, sehingga terbangun suatu hipotesis awal tentang karakter dan tipologi kultural keduanya yang kontradiktif.

Dari perspektif Geopolitik, buku ini seolah ingin menggugat kesadaran masyarakat daerah tropis (khususnya Indonesia) terhadap ruang hidupnya yang strategis. Melalui buku ini, geographical awareness masyarakat daerah tropis dikritisi dari berbagai aspek sosial secara komprehensif dan kontekstual. Deskripsi antropologis yang disajikan secara lengkap, mampu memberikan gambaran amnesia kultural yang dialami masyarakat bangsa tropis hingga kini.

Di era moderenisasi dan globalisasi yang merepresentasikan kolonisasi dalam bentuk lain, buku ini layak dijadikan sebagai renungan antropologis untuk melakukan introspeksi kolektif berbagai komponen bangsa, utamanya para perumus dan penentu kebijakan di berbagai tataran, dalam membangkitkan kembali geographical awareness, rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaaan ke-Indonesia-an menuju keadilan dan kemakmuran sejati.

(Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, DEA – Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional RI).

————————————————————————————————–

Ketika kebudayaan suatu bangsa dapat “dikuasai” oleh bangsa lain, maka akan sangat mudah bagi bangsa lain itu untuk mengendalikan bangsa yang telah berhasil didominasinya. Bangsa yang terdominasi itu bisa saja merupakan negara merdeka dan berdaulat. Namun, dalam kenyataannya, bagian terbesar dari kehidupannya dikendalikan oleh bangsa yang lain yang mendominasinya, karena semua standar kehidupannya mengacu pada budaya penguasa itu. Hal ini bisa terjadi pada bangsa Indonesia. Disinilah pentingnya kebudayaan nasional sebagai upaya pengintegrasian masyarakat Indonesia yang multikultur menjadi satu bangsa (dengan prinsip bhinneka tunggal ika), sehingga kebudayaan nasional menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta sebagai pertahanan bangsa dalam membangun masa depan. Untuk itu, bangsa Indonesia harus sembuh dari amnesia kultural.

(Prof. DR. Meutia Hatta – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Bidang Pendidikan dan Kebudayaan)

————————————————————————-

PENGANTAR

Buku ini tidak bermaksud untuk membahas apakah letak “surga” berada di Indonesia atau bukan seperti thesis yang dikemukakan oleh Santos dalam Atlantis The Lost Continent Finally Found; juga tidak bertujuan untuk menemukan jejak-jejak peradaban Asia Tenggara dalam rangka untuk membuktikan bahwa peradaban Asia Tenggara adalah peradaban tua dan telah menyuburkan budaya-budaya hebat di dunia seperti yang dikemukakan oleh Oppenheimer dalam Eden in The East (Oppenheimer,2010). Tetapi, lebih memfokuskan diri pada: (1) mengapa daerah yang benar-benar subur (yang disebut sebagai surga) disimpulkan sebagai awal dan pusat peradaban manusia; (2) mengapa masyarakat yang teritori geografisnya berkelimpahan (subur dan kaya sumberdaya energi/pangan), kehidupannya justru tidak sejahtera, sementara masyarakat yang teritorinya “miskin” atau langka sumberdaya energi/pangannya justru hidup lebih sejahtera.

Pertama, baik Santos maupun Oppenheimer sepakat bahwa Atlantis (Santos) atau Asia Tenggara (Oppenheimer) yang benar-benar subur (kaya sumberdaya energi/pangan) mempunyai peradaban yang jauh lebih tua dibandingkan peradaban lainnya, bahkan Santos menyimpulkan bahwa Atlantis adalah awal peradaban manusia; sementara Bauer mempunyai pendapat yang bertolak belakang dengan mereka. Menurut Bauer, justru lingkungan yang “kejam” (langka sumberdaya energi/pangan), yang justru menjadi pemicu utama tumbuhnya “peradaban”.

Sesungguhnya, peradaban tampak sebagai hasil dari suatu dorongan yang lebih dasar: memastikan bahwa tak seorang pun merebut terlalu banyak makanan atau air. Peradaban berawal di sabit subur, bukan karena itu adalah suatu tempat bagaikan Firdaus yang melimpah sumber daya alamnya, tetapi karena kawasan itu sedemikian keras perlawanannya terhadap pemukiman sehingga sebuah desa seberapa pun ukurannya memerlukan pengelolaan yang cermat agar tetap bertahan… Hanya di suatu tempat yang tidak bersahabat dan liar birokrasi semacam ini – ciri khas sejati suatu peradaban – diperlukan. Di tempat-tempat yang benar-benar subur, yang memiliki air berkelimpahan, makanan, buruan, mineral dan kayu, orang-orang pada umumnya tidak mempedulikannya (Bauer, 2012).

Kesimpulan Bauer ini, jelas terpengaruh oleh pemikiran evolusionisme Darwin yang rasialis dan teori seleksi alamnya Spencer (survival of the fittest) sehingga ia mempunyai kesimpulan seperti itu. Ia menolak pendapat bahwa peradaban lahir dari tempat yang subur, meskipun ia sepakat bahwa tanda peradaban adalah adanya “keteraturan sosial” yang dinyatakannya dalam kutipan di atas: “peradaban tampak sebagai hasil dari suatu dorongan yang lebih dasar: memastikan bahwa tak seorang pun merebut terlalu banyak makanan atau air”. Bauer meyakini bahwa justru tempat yang tidak berkelimpahan adalah awal tumbuhnya peradaban sebab di sana tumbuh “organisasi politik” – pengendalian sosial – (istilah Bauer adalah birokrasi, yang diyakininya sebagai tanda dari sebuah peradaban) untuk mewujudkan keteraturan sosial. Dan, sebaliknya dikatakan bahwa “Di tempat-tempat yang benar-benar subur, yang memiliki air berkelimpahan, makanan, buruan, mineral dan kayu, orang-orang pada umumnya tidak mempedulikannya”.

Kesimpulan Bauer ini jelas menyiratkan sebuah “kebingungan” sebab di satu sisi ia katakan bahwa di tempat yang benar-benar subur tidak memerlukan “birokrasi” (untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tertib, mereka tidak harus saling berebut sebab semua kebutuhan hidupnya tersedia berkelimpahan). Di sisi lain, ia sendiri tidak pernah membantah bahwa di daerah yang benar-benar subur, meskipun tidak ada “birokrasi” yang dimaksud (seperti yang ada pada masyarakat yang hidup di daerah yang tidak bersahabat dan liar (langka sumberdaya energi/pangan) tetap ada keteraturan sosial.

Ini pula yang menyebabkan mengapa para ilmuwan menyebutkan bahwa pengendalian sosial itu selalu melibatkan power untuk mewujudkan kepatuhan warga masyarakat agar tercipta ketertiban sosial sehingga apa yang dimaksud oleh Bauer bisa terwujud.

Seseorang harus memastikan bahwa para petani, yang menanam bebijian lebih banyak daripada keperluan keluarganya, menjual makanan kepada orang-orang bukan petani (pembuat keranjang, perajin kulit, dan tukang kayu) yang tidak menanam bebijian sendiri.

Masalahnya, mengapa di daerah yang benar-benar subur, meskipun tidak ada pengendalian sosial semacam itu tetap ada ketertiban sosial; Sebagaimana halnya kehidupan sosial yang damai di daerah yang benar-benar subur, yang digambarkan oleh Marshall Sahlin, Dentan, atau Wallace. Ini yang dilupakan.

Kembali pada “hukum kehidupan” bahwa semua makhluk hidup mempunyai masalah mendasar yang sama, yaitu bagaimana mempertahankan kelangsungan hidupnya sehingga semua mahkluk hidup selalu berupaya untuk menghindari kematian sebagai makhluk biologi (kematian absolut). Oleh karena itu pula, sepanjang sejarah, sejak jaman manusia purba selalu mobile mengikuti pergerakan binatang buruannya (yang menjadi sumber pangan mereka), dimana binatang-binatang tersebut juga dalam pergerakannya selalu mencari sumber-sumber air (sungai atau danau) karena air merupakan “tanda kehidupan” atau terdapatnya sebuah ekosistem “kehidupan berkelanjutan”. Dengan kata lain, stabilitas ketersediaan sumber energi/pangan merupakan penentu dari keberadaan ekosistem kehidupan. Dengan demikian, di daerah yang sering mengalami krisis sumber pangan akan terus bergolak (saling berebut) dan dapat dipastikan bahwa ketertiban sosial adalah sesuatu yang sulit dicapai meskipun organisasi politik yang ada begitu powerful ketika ketersediaan sumberdaya energi/pangan yang ada tak mampu memenuhi kebutuhan dasar minimal para warganya. Apalagi pada masa berburu-meramu, dimana manusia sangat tergantung secara absolut pada ketersediaan sumberdaya energi/pangan (liar) yang terdapat di lingkungan teritori geografisnya.

Berdasarkan hal ini, jelas bahwa birokrasi yang ada di daerah berkelimpahan dan daerah yang miskin sumberdaya energi/pangan adalah berbeda. Di daerah berkelimpahan, manusia beradaptasi dengan menjaga keharmonisan dirinya dengan alam (konservasi) dan keharnonisan dirinya dengan orang lain sehingga prinsip hidup kerjasama mendominasi kehidupan sosial (organisasi sosial) di sana; sebaliknya, di daerah yang sering mengalami krisis pangan, mereka akan beradaptasi dengan cara menaklukkan alam (eksploitasi dan investasi) dan organisasi sosial mereka dominan diwarnai dengan prinsip hidup persaingan (survival of the fittest).

Kedua, terlepas dari semua itu, sungguh ironis saat ini, negeri tropis yang berkelimpahan, masyarakatnya malah tidak bisa menikmatinya, bahkan sungguh tak masuk akal bahwa ada warganya yang mati karena kelaparan; sebaliknya, justru masyarakat non-tropis yang menguasainya, padahal kelimpahan sumberdaya energi/pangan tersebut bukan miliknya. Masyarakat tropis tidak bisa memanfaatkan berkah sinar matahari yang selalu bersinar sepanjang tahun di teritorinya dengan sumberdaya energi/pangan yang berkelimpahan untuk kehidupannya, sementara masyarakat non-tropis justru berhasil memonopoli kekayaan bumi tropis tanpa memikirkan nasib pemilik kekayaan alam yang dikuasainya. Kondisi semacam ini memang benar-benar sontoloyo!

Jakarta, Desember 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Lembar Terima Kasih

Kata Pengantar

I. PENDAHULUAN

II. MATAHARI DAN ESENSI KEHIDUPAN
1. Matahari dalam Belief System dan Kehidupan
2. Matahari dan Kebutuhan Dasar Kehidupan

III. MATAHARI DAN PERADABAN MANUSIA
1. Matahari dan Kebudayaan
2. Kerjasama Dan Persaingan: Pemenuhan Kebutuhan hidup
2.1 . Kerjasama-Persaingan Budaya Tropis
2.2 . Kerjasama dan Persaingan Budaya Non-Tropis

IV. TROPIS DAN NON-TROPIS: Evolusi Budaya Dan Keanekaragaman Budaya
1. Evolusi Rasialisme dan Relativisme
2. Adaptasi Budaya Masyarakat Tropis dan Non-Tropis
3. Awal Tumbuhnya Peradaban

V. Pertemuan Budaya Non-Tropis dan Tropis: Perdagangan, Industrialisasi dan Kolonisasi
1. Barter Dan Perdagangan Alam Non-Tropis
2. Perdagangan dan Kolonisasi
3. Industrialisasi, Perdagangan dan Negara
4. Revolusi industri dan Negara
5. Modernisasi dan Kemanusiaan
6. Modernisasi merupakan keharusan atau sebuah pilihan?
7. Globalisasi dan world system

VI. NEGARA DAN BELIEF SYSTEM: ORGANISASI POLITIK DAN PENGENDALIAN SOSIAL
1. Organisasi Sosial Versus Organisasi Politik
2. Menuju Kemakmuran dan Keadilan Sejati

VII. KEHIDUPAN TROPIS ADALAH IMPIAN DUNIA

KEPUSTAKAAN

INDEKS

Bisa diperoleh di:

– Gramedia

– Cak Tarno, Kober – Depok (08174967203

atau

Contact persons:

Emond: 0818773245

Reza: 08561454435

Ochi: 082110200099

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Tropis adalah Awal dan Pusat Peradaban – BUDAYA SONTOLOYO: Matahari itu Berkah atau Kutukan?

  1. Ping balik: BUDAYA SONTOLOYO: Matahari itu Berkah atau Kutukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s