PASAR MURAH BUKANLAH SOLUSI

Setiap menjelang Lebaran atau hari raya lainnya, harga-harga kebutuhan pokok hampir selalu bergerak naik, bahkan boleh dibilang melambung karena sudah melampaui kewajaran dari sebuah kenaikan harga, Kejadian seperti ini hampir setiap tahun terus berulang. Oleh karenanya setiap menjelang Lebaran selalu marak dengan berdirinya “pasar-pasar murah temporer”. Terlepas dari semua itu, “pasar murah” kali ini agak sedikit berbeda dari yang biasanya. Kali ini yang semarak mendirikan pasar murah adalah pihak negara atau pemerintah yang fokusnya pada kebutuhan-kebutuhan pokok – seolah-olah menjadi “program negara/pemerintah”. Jika ini memang benar adalah program pemerintah untuk mengatasi fluktuasi harga-harga kebutuhan pokok maka pertanyaannya adalah “apakah program pasar murah ini memang ampuh untuk menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok?” Lalu, apakah pasar murah ini akan selalu hadir ketika harga-harga kebutuhan pokok naik?” Atau hanya ada ketika harga melonjak tak wajar? Pertanyaan yang lebih konyol lagi, “apakah hanya karena menjelang pemilu 2014?”

 

Maraknya pihak pemerintah mengadakan pasar-pasar murah, selain menimbulkan banyak pertanyaan, juga bisa menggambarkan “apa yang sebenarnya sedang terjadi pada perekonmian negeri saat ini?” Dari maraknya pasar murah yang sedang bertebaran di berbagai lokasi yang diinisitif oleh pemerintah bisa diasumsikan bahwa: (1) daya beli rakyat memprihatinkan sebab masih berkisar pada daya beli kebutuhan pokok dan itupun tidak kokoh. Mungkin sudah hampir mencapai ambang batas “ketidakberdayaan” sehingga pasar murah menjadi urgent; (2) negara tidak mampu mengendalikan “pasar”, dan; (3) upaya “pembangunan” yang dilakukan oleh negara gagal meningkatkan daya beli rakyatnya yang “lemah” (manfaat pembangunan tidak merata dan adil karena negara tidak mampu mencegah terjadinya “survival of the fittest”). Lalu, apakah pasar murah sebagai solusi yang diambil oleh negara atau pemerintah mampu mengatasi permasalahan – yaitu menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok (mengendalikan pasar)?” Pasar murah memang banyak menolong mereka yang berdaya-beli “lemah”. Berdasarkan asumsi di atas, jelas bahwa pasar murah mampu meredam gejolak sosial akibat “ketidakberdayaan” rakyat memenuhi kebutuhan pokoknya. Mungkin alasan ini yang paling urgent. Namun, secara pasti, pasar murah tidak akan bisa mengendalikan flukstuasi harga-harga kebutuhan pokok, apalagi meningkatkan “daya beli” rakyat (atasi kerentanan daya beli). Sebab, Pembangunan selama ini mengandalkan pengusaha dan negara berharap dari “tetesan” (trickle down effect) pengusaha untuk mensejahterakan rakyatnya (meningkatkan daya beli rakyat). Posisi tawar negara “lemah” dihadapan para pemilik modal – terutama pemilik modal besar. Jadi, kita tidak perlu lagi bertanya “apakah program pasar murah mampu menyelesaikan akar permasalahan di balik terjadinya gejolak pasar dan kerentanan daya beli masyarakat”.

 

Pasar murah hanyalah “solusi antara atau sementara” yang berfungsi sebagai “peredam” gejolak sosial akibat rakyat ketidakberdayaan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Mengapa pasar murah mampu berfungsi sebagai peredam gejolak sosial, sebab manusia mati secara absolut adalah mati sebagai mahkluk biologi. Oleh karena itu kebutuhan pokok (perut) tetap menjadi perioritas utama atau paling mendasar bagi umat manusia.

 

Sementara itu, kenyataan yang lain, pasar murah ternyata juga diserbu oleh masyarakat yang oleh negara dikategorikan sebagai “kelas menengah”. Hal ini semakin menegaskan bahwa jumlah rakyat Indonesia yang masih bermasalah dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok lebih banyak dari hitungan pemerintah. Artinya, biro statistik negara juga tidak menjalankan fungsinya dengan baik – menciptakan dan menggunakan tolok ukur yang tidak tepat atas “daya beli” masyarakat. Banyak rakyat Indonesia yang mempunyai “daya beli semu” karena fasilitas berhutang atau kredit.

 

Bicara masalah “kebutuhan pokok” dan “pasar murah”, sebenarnya memang sangat menyedihkan dan “tak habis pikir”. Indonesia ini terletak di wilayah tropis di mana merupakan sebuah wilayah yang didam-idamkan oleh seluruh umat manusia karena diversitas dan volume sumberdaya kehidupannya yang kaya. Tropis dikenal sebagai gudangnya sumberdaya kehidupan (energi dan pangan). Oleh karena itu, berdasarkan bukti-bukti arkeologi dan sejarah, menunjukkan bahwa sejak jaman manusia purba umat manusia bergerak menuju tropis, bahkan hingga hari ini. Jika saat ini rakyat Indonesia mengalami kendala dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok, tentunya sudah dapat dipastikan bahwa negara telah melakukan “kesalahan mendasar”.

 

Merujuk pada Susan Wise Bauer yang menulis tentang asal mula atau lahirnya konsep “negara” dalam bukunya yang berjudul “SEJARAH DUNIA KUNO”. Ia menyatakan bahwa “Seseorang harus memastikan bahwa para petani, yang menanam bebijian lebih banyak daripada keperluan keluarganya, menjual makanan kepada orang-orang bukan petani (pembuat keranjang, perajin kulit, dan tukang kayu) yang tidak menanam bebijian sendiri. Hanya di suatu tempat yang tidak bersahabat dan liar birokrasi semacam ini – ciri khas sejati suatu peradaban – diperlukan” (Bauer, 2012). Singkatnya, negara lahir karena kondisi keterbatasan sumberdaya kehidupan yang dihadapi oleh sebuah masyarakat di teritori geografisnya. Dengan kata lain, dalam kondisi keterbatasan sumberdaya kehidupan, dengan adanya negara maka seluruh warganya tetap mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Negara tetap mampu mewujudkan ketertiban sosial meskipun dalam kondisi keterbatasan, karena mampu mengelolanya dengan baik dan mampu mencegah terjadinya “survival of the fittest” di antara warganya. Sementara Indonesia yang beriklim tropis (yang dikenal dengan diversitas dan volume sumberdaya kehidupan yang luar biasa kaya) seharusnya beban negara tidak seberat beban negara-negara non-tropis. Oleh karena itu, perlu adanya koreksi terhadap paradigma pembangunan yang selama ini dijalankan oleh negara.

 

Terlepas dari apapun kelemahan program pasar murah, ia memberikan masukan (sisi positif) a.l.:

  • Memberikan informasi yang sesungguhnya tentang berapa banyak warga yang masih bermasalah dalam pemenuhan kebutuhan pokok;
  • Meredam gejolak sosial sebab sebagian besar rakyat sedang berada pada kondisi ambang batas kerentanan daya beli (ketidakberdayaan).

 

Merujuk pada Sutjipto, pasar dikenal ada dua kategori jika dilihat dari sejarah terbentuknya pasar, yaitu pasar alamiah dan pasar artificial karena campur tangan kekuasaan (Sutjipto, 1970). Pasar tipe pertama, yang terbentuk secara alamiah, biasanya pada lokasi-lokasi “strategis” yang merupakan titik-titik persimpangan/pertemuan dari jalur-jalur lalu-lintas seperti di pertemuan beberapa sungai bagi masyarakat yang menggunakan jalur transportasi utamanya adalah sungai. Di wilayah tropis, sejarah terbentuknya pasar umumnya lahir secara alamiah sebelum “konsep negara” (kerajaan) masuk ke wilayah tropis. Sedangkan, terbentuknya pasar tipe kedua adalah terbentuk karena adanya campur tangan pusat-pusat kekuasaan. Terbentuknya pasar tipe kedua ini yang umumnya terjadi pada masyarakat non-tropis. Pasar tipe kedua ini, tidak bisa hanya berdasarkan pada prinsip saling membutuhkan secara murni seperti “pertukaran” yang berlaku pada masyarakat tropis (masyarakat archaic). Dalam pasar artificial, unsur “power” sangat penting untuk menentukan bargaining position dalam membangun kesepakatan dalam proses pertukaran atau hubungan sosial perdagangan yang terjadi.

 

Oleh karena pasar murah ini hanyalah program antara, maka diperlukan program-program lainnya sebagai tindak-lanjut untuk mengatasi permasalahan pengendalian pasar dan kerentanan daya beli rakyat terhadap kebutuhan pokok. Tentu saja diperlukan paradigma pembangunan yang baru (dengan geographical awareness) sehingga negara mempunyai posisi tawar yang lebih baik (setara) – baik terhadap pasar (nasional dan global) maupun terhadap pemilik modal swasta – sebab “pasar” yang ada saat ini adalah “pasar artificial” di mana bargaining position sangat menentukan.

 

Dengan posisi tawar negara yang setara, maka program pasar murah bisa dilanjutkan (atau secara simultan) dengan program-program yang lebih mengarah pada upaya pencegahan terjadinya “survival of the fittest” agar pembangunan bisa dinikmati oleh seluruh rakyat sehingga mampu meningkatkan daya beli masyarakat dan mampu mengendalikan pasar.

 

 

 

Kepustakaan:

 

Agusyanto, Ruddy.

2013   Budaya Sontoloyo: Matahari itu berkah atau kutukan? Budaya Tropis adalah Awal dan Pusat Peradaban. Depok: Institut Antropologi Indonesia.

 

Anjarwati, Elfrida.

2009   Early Man Civilization in Sangiran Dome (Kehidupan Manusia Purba di Kubah Sangiran). Sragen: Pemerintah Kabupaten Sragen.

 

Bauer, Susan Wise.

2012   Sejarah Dunia Kuno: Dari cerita-cerita tertua sampai jatuhnya Roma. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia.

 

Hoebel, E Adamson.

1954   The Law of Primitive Man. Cambridge, MA: Harvard University Press.

1958   Man in the Primitive World. USA: The McGraw Hill Book Company, Inc.

 

Lang, KR.

2003   The Cambridge Guide to the Solar System. Cambridge: Cambridge University Press.

2006   Sun, Earth, and Sky. Canada: Springer.

 

Nastiti, Titi Surti.

2003    Pasar Di Jawa: Masa Maram Kuna Abad VIII-XI Masehi. Jakarta: Pustaka Jaya.

 

Sutjipto, F A.

1970   “Beberapa Tjatatan singkat tentang pasar-pasar di djawa tengah (abad 17-18)”, Buletin Fakultas Sastra dan Kebudayaan, No.3: 36-70.

 

Syamsidar (ed.).

1991   Peranan Pasar pada Masyarakat Pedesaan di Daerah Riau. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Wallerstein, I. M.

1980   The Modern World System II: Mercantilism and the Consolidation of the European World-Economy, 1600–1750. New York: Academic Press.

1982   The Rise and Future Demise of the World Capitalist System: Concepts for Comparative Analysis. In Introduction to the Sociology of “Developing Societies,” ed. H. Alavi and T. Shanin, pp. 29–53. New York: Monthly Review Press.

2004aThe Decline of American Power: The U.S. in a Chaotic World. New York: New Press.

2004bWorld-Systems Analysis: An Introduction. Durham, NC: Duke University Press.

 

Ruddy Agusyanto

Pusat Analisa Jaringan Sosial (PAJS)

Institut Antropologi Indonsia (IAI)

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke PASAR MURAH BUKANLAH SOLUSI

  1. Fineransa Finer berkata:

    Kalau mengendalikan harga … seharusnya jauh2 sebelum harga2 melonjak. Karena berdasarkan statistik sudah diketahui saat2 lonjakan … mengapa pasar murah ditebar setelah harga2 melopnjak … bukankah lebih baik sebelumnya. jadi motivasinya apa?

  2. pajs indonesia berkata:

    Pasar murah memang merupakan salah satu tanda bahwa negara gagal mengendalikan harga (spt yg tertulis pada poin 2 dlm artikel tsb)… Kenapa menjadi urgent krn daya beli rakyat (sebagian besar) adalah lemah , bahkan sudah berada diambang batas ketidakmampuan atau ketidakberdayaan. jd, pasar murah bisa dibilang lebih berfungsi sebagai “peredam gejolak sosial”. Kalau soal motivasi lainnya, politikus yg tahu (hampir semua pejabat di legislatif, eksekutif dan yudikatif adalah politikus atau kader parpol) – mengapa mereka serentak melakukan hal ini (program pasar murah)….mungkin ada kaitannya dengan menjelang pemilu 2014…???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s