PEREMPUAN DIMULIAKAN TAPI TAK PUNYA WEWENANG: Latah dan Budaya Patriarki

Ruddy Agusyanto

Latah adalah sebuah reaksi spontan (refleks)seseorang yang tidak terkendali (hilang kendali) ketika kaget seperti mengikuti perkataan, perbuatan atau tindakan orang lain. Singkatnya, manifestasi penderita latah ini berbeda-beda, al

Ekolalia           : mengulangi perkataan orang lain

Ekopraksia         : meniru gerakan orang lain

Koprolalia         : mengucapkan kata-kata yang dianggap

tabu/kotor

Automatic obedience`: melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut, misalnya; ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti “tiarap” atau “lompat”, ia akan segera melakukan perintah itu.

Berdasarkan kenyataan bahwa latah adalah sebuah “kebiasaan refleks” ketika mengalami keterkejutan maka dengan kata lain, umumnya, si penderita adalah orang yang mudah kaget atau panik dan di saat kaget ia hilang kendali atau disoriented seperti berada pada situasi unstructured (hilangnya tatanan sosial) sehingga ia tak mampu mengenali dirinya/menempatkan dirinya karena struktur sosial yang biasanya menjadi pegangan dalam menempatkan dirinya dan harus berbuat apa tiba-tiba hilang. Sementara itu, kenyataan yang lain, dari hasil studi selama ini. latah diderita oleh mayoritas perempuan Asia Tenggara atau rumpun Melayu.

Berdasarkan dua kenyuataan di atas maka dapat diasumsikan bahwa perempuan Asia Tenggara mudah kaget/terkejut dan ketika kaget/terkejut ia kurang atau tidak mampu untuk segera mendefinisikan kembali struktur sosial yang hilang dengan tiba-tiba (yang berlaku) tersebut. Akibatnya, pada saat ia panik dan kehilangan “pegangan” (struktur sosial), secara refleks ia mengikuti apa yang ia lihat dan dengar – seperti jika kita berada pada situasi chaos, di mana tiba-tiba banyak orang berlari serentak bisa membuat kita ikut lari bersama mereka. Respons spontan ketika kaget ini biasanya disebut latah. Lalu, “mengapa latah cenderung menjangkiti perempuan dan mengapa Asia Tenggara?

Budaya Patriarki dan Latah

Asia Tenggara adalah sebuah wilayah yang termasuk beriklim tropis. Kita semua tahu bahwa tropis adalah sebuah wilayah di mana sepanjang tahun matahari selalu bersinar sehingga wilayah tropis dikenal dengan kelimpahan sumberdaya kehidupan (kaya sumberdaya alam dan mempunyai biodiversitas yang kaya)[1]. Oleh karena itu (berdasarkan bukti-bukti arkeologis dan sejarah) sejak manusia purba, manusia bergerak menuju daerah-daerah tropis.

Kehidupan manusia purba Sangiran yang dikenal dengan homo erectus hidup secara berkelompok, dan masih sangat bergantung kepada alam lingkungan yang menyediakan sumber kehidupan. Kebanyakan mereka hidup di sepanjang sungai atau di dekat danau karena air dianggap sebagai sumber utama kehidupan bagi semua mahkluk di dunia ini termasuk binatang-binatang (yang merupakan obyek buruan). Mereka hidup secara berpindah-pindah (nomaden) mengikuti arah binatang-binatang mengembara mencari makanan (Anjarwati, Kehidupan Manusia Purba di Kubah Sangiran, 2009, hal. 27).

Berdasarkan pernyataan Anjarwati di atas maka dapat disimpulkan bahwa daerah tropis merupakan daerah resapan air yang ditandai dengan banyaknya sungai dan danau (suhu/panas sinar matahari yang “ideal” membuat air tetap dalam bentuknya yang cair) sehingga pada akhirnya manusia tanpa sadar, dengan mengikuti binatang buruannya menuju daerah-daerah tropis. Berdasarkan hal ini pula, manusia purba jenis homo erectus yang ditemukan di wilayah Sangiran berjumlah lebih dari 100 individu yang mengalami masa evolusi tidak kurang dari 1 juta tahun. Dan, ternyata jumlah ini merupakan 50% dari jumlah fosil sejenis yang ditemukan di dunia (Widianto, et.al., 1996). Temuan di sini hanya mengacu pada Sangiran (belum termasuk penemuan di wilayah lain di Indonesia). Bahkan hingga hari ini masih bisa kita lihat bahwa masyarakat non-tropis berlomba-lomba menuju daerah-daerah tropis demi kekayaan (mengeksploitasi) yang terkadung di dalamnya.

Berkenaan dengan masalah “ketersediaan” sumberdaya kehidupan (energi/pangan) maka secara tidak langsung bisa dikatakan bahwa masyarakat yang hidup di belahan bumi yang berkelimpahan seperti wilayah tropis, prinsip hidup “kerjasama” cenderung dominan dalam kehidupan sosial mereka karena tidak harus saling berebut karena takut kehabisan persediaan sumberdaya energi/pangan di teritori geografisnya (untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidupnya). Prinsip hidup kerjasama dan demokratis cenderung tumbuh subur dan dominan di sana. Oleh karena itu banyak antropolog menyatakan bahwa “semakin masyarakat itu hidup subsisten maka ia semakin egaliter” (lihat kottak 2011). Artinya posisi laki-laki dan perempuan adalah setara dengan kewajiban yang berbeda (berdasarkan prinsip hidup kerjasama – saling melengkapi). Sebaliknya, daerah-daerah yang “langka sumber kehidupan” atau sering mengalami “krisis pangan”, menuntut manusia harus “bekerja keras” untuk mengatasi kendala “kelangkaan sumberdaya” tersebut agar terhindar dari kematian atau kepunahan absolute. Pedoman-pedoman hidup (kebudayaan) yang dikembangkan oleh masyarakat yang tinggal di daerah beriklim non-tropis tentunya akan berpangkal pada “prinsip kelangkaan sumberdaya” sebagai respons adaptif mereka sehingga dominan dengan prinsip “persaingan” di kehidupan sosial di sana. Oleh kerena itulah di sana berlaku prinsip “survival of the fittest”, di mana power menjadi unsur utama atau penentu dalam kehidupan.  Demikian halnya dengan budaya ekspansif (karena tidak memungkinkan untuk bergantung sepenuhnya pada apa yang tersedia di wilayah teritori geografisnya) dan eksploitatif yang juga merupakan respons adaptif atas kelangkaan sumberdaya kehidupan masyarakat non-tropis. Sebagai konsekuensi atas prinsip hidup “persaingan”, dalam kehidupan sosial masyarakat non-tropis terwujud dalam stratifikasi sosial berdasarkan power, di mana masing-masing strata mempunyai hak yang berbeda sesuai dengan power yang dimilikinya. Konsekuensi selanjutnya, mereka yang relatif lemah (powerless) akan rawan terdominasi oleh mereka yang relatif lebih kuat (powerful). Oleh karena itu pula, dalam sejarah kehidupan mereka diwarnai dengan peperangan, saling menaklukkan, perbudakan, penjajahan, pemberontakan atau penggulingan kekuasaan raja/negara ketika lemah.

Dalam konteks latah, stratifikasi sosial (yang paling mendasar) non-tropis dimulai dengan gender, laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda berdasarkan power. Laki-laki dalam dunia persaingan (kelangkaan sumberdaya), ia mempunyai posisi yang menentukan dalam menjaga kelangsungan hidup di sana – seperti menjadi pelindung kelompok sosialnya, baik dari ancaman kekejaman alam maupun dari ancaman kelompok sosial lain. Pada akhirnya, lahirlah budaya patriarki.

Sekali lagi, berdasarkan budaya non-tropis yang bersumber pada kerangka pikir “kelangkaan sumberdaya” (kontestasi power) maka pihak yang lemah akan mempunyai respons adaptif yang berbeda atas budaya yang berlaku dalam kehidupan sosialnya. Yang pasti, ingin melepaskan diri dari dominasi pihak lain. Oleh karena itu mereka memiliki karakter “pemberontak” (survival the fittest). Jadi tidak mengherankan jika perempuan non-tropis juga mempunyai karakter “pemberontak” – ingin menyetarakan posisi sosialnya (powernya)dengan segala upaya perjuangan persamaan hak atas kaum laki-laki (dunia/budaya patriarki). Perempuan, meskipun kini mempunyai posisi relatif setara (hasil dari perjuangan persamaan hak), mereka tetap mempunyai wewenang yang tidak sama dengan kaum laki-laki (karena masih tetap berdasarkan kontestasi power). Oleh karena itu, kaum perempuan di sana tetap atau terus “berjuang” (memberontak/berusaha keluar dari dunia patriarki) hingga detik ini.

Lalu bagaimana dengan kenyataan bahwa latah itu mayoritas diderita oleh perempuan Asia Tenggara yang hidup di budaya Tropis. Dengan adanya perkembangan teknologi transportasi sedemikian rupa, akhirnya masyarakat non-tropis menjadi semakin intens bergerak menuju wilayah tropis. Hingga pada masa tertentu, yaitu masa kolonialisme, di mana bangsa-bangsa Eropa berbondong-bondong menuju tropis (termasuk bangsa-bangsa Timur-Tengah) dan ingin menguasai sumberdaya kehidupan yang ada di wilayah tropis. Maka sejak itu pula, budaya non-tropis (prinsip hidup persaingan) dan tropis berinteraski secara intens (pertemuan budaya – terjadi saling sosialisasi). Persoalannya, oleh karena bangsa-bangsa non-tropis mempunyai target ingin menguasai atau paling tidak bisa mengakses sumberdaya-sumberdaya kehidupan yang terkandung di bumi tropis maka secara sadar pula mereka melakukan upaya “dominasi atau penaklukkan”, baik dengan kekerasan (perang) ataupun tidak (seperti pembentukan masyarakat seideologi, termasuk penyebaran belief system tradisi besar sampai dengan isyu-isyu atas nama kemanusiaan) yang pada akhirnya, budaya non-tropis melanda seluruh kehidupan dunia tropis, termasuk budaya patriarki. Sementara itu masyarakat tropis yang hidup dan tinggal dalam teritori yang berkelimpahan sumberdaya kehidupan tentunya mempunyai respons adaptif yang berbeda dengan masyarakat non-tropis yang langka sumberdaya kehidupan terhadap budaya patriarki. Dengan dominannya budaya patriarki (non-tropis) melanda kehidupan masyarakat tropis (akibat kolonisasi dan pembentukan masyarakat seideologi tadi, bahkan hingga hari ini kolonisasi masih berlangsung) maka respons adaptif masyarakat tropis sebagai upaya menjaga kelangsungan hidupnya tidak dengan “jiwa pemberontak” (mereka tidak memiliki akar budaya persaingan).

Kembali pada persoalan gejala latah, maka kondisi “kaget atau panik” bisa dikatakan sebagai sebuah keadaan di mana seseorang yang kaget atau terkejut adalah berada pada situasi seperti “chaos” atau “unstructured” sehingga yang bersangkutan menjadi panik harus segera menentukan (mengambil keputusan) struktur sosial yang mana yang harus diberlakukan sehingga ia dapat menentukan posisi dirinya dan harus bertindak/bersikap/berperilaku seperti apa. Oleh karena itu, mengapa kaum laki-laki tropis (Asia Tenggara) jarang terkena latah. Salah satu penyebabnya adalah budaya patriarki yang juga berlaku dominan dalam kehidupan sosial tropis saat ini, kaum laki-laki tropis mempunyai posisi sosial sebagai “pengambil keputusan” atau mempunyai wewenang untuk menentukan nasib dirinya dan kolektifnya pada budaya patriarki, sehingga pada keadaan kaget atau terkejut, ia tidak mengalami kondisi unstructure karena ia segera mampu merespons dengan mengambil keputusan struktur sosial yang mana yang ia berlakukan dan harus berbuat apa – sebab sebagai laki-laki dalam budaya patriarki memang sudah menjadi wewenangnya. Berbeda dengan kaum perempuan, meskipun saat ini ada gerakan emansipasi perempuan, dalam kehidupan sosial tetap berpegang pada kerangka pikir budaya patriarki di mana laki-laki masih merupakan pengambil keputusan di saat-saat kondisi unstructured (dalam budaya patriarki di Tropis, perempuan posisinya dimuliakan tetapi tidak punya kewenangan sebagai pengambil keputusan dalam kehidupan kolektif). Oleh karena itu, dalam kondisi unstructured (tak terstruktur) ia tidak punya kewenangan untuk menentukan atau mengambil keputusan (terutama di dalam keluarga dan primary groupnya mengalami powerless). Oleh karena itu pula, respons spontan seorang perempuan yang dalam kehidupan sosialnya ketika tiba-tiba berada pada kondisi “tak menentu” adalah “panik” dan mempunyai kecenderungan latah karena dalam situasi seperti itu ia tak punya kewenangan untuk mengambil keputusan atau memutuskan tindakan/sikap/perilakunya (yang biasanya ada laki-laki atau orang lain disampingnya yang menentukan struktur sosial yang berlaku). Ia “mengikuti” perkataan atau tindakan atau perintah dari orang disekitarnya. Respons spontan penderita latah ini seringkali terlihat “lucu” bagi orang lain sehingga kita sering melihat/menyaksikan penderita latah dijadikan “hiburan” yaitu dengan membuatnya berada dalam kondisi unstructured dengan cara mengagetkan dirinya.

Sedangkan bagi laki-laki yang kebetulan mempunyai kecenderungan latah, tentunya secara asumtif bisa dikatakan bahwa ia mengalami kondisi sosial seperti yang dialami oleh “perempuan tropis dalam dunia/budaya patriarki”, sehingga laki-laki yang latah cenderung juga memiliki unsur “feminis”.

Berdasarkan penjelasan di atas maka latah merupakan gejala budaya. Selain itu, gejala latah juga bisa terjadi karena proses rekonstruksi dan reproduksi, yaitu terjadi saling sosialisasi secara horizontal dan vertical melalui interaksi dan hubungan sosial, yang oleh banyak pihak dinyatakan bahwa gejala latah adalah menular. Sebagai contoh, ada seorang laki-laki aktivis yang kebetulan concern pada persoalan HAM pada kaum “banci” (yang sebagian besar mereka latah). Oleh karena ia sering menggoda kelatahan kliennya (kaum banci) maka dalam perjalanan waktu, akhirnya ia juga terbiasa latah. Namun, setelah ia mendapat tawaran untuk berlayar setelah menyelesaikan studinya (berlayar selama enam bulan) dan ketika kembali ke Jakarta ia pun kembali normal[i].

Bagi penderita latah yang awalnya memang disengaja oleh pelaku adalah kasus yang berbeda. Tentunya, penyebabnya sebenarnya adalah serupa, seperti ingin cari perhatian  atau ingin menjadi perhatian karena pengalaman atas keberadaan dirinya yang terabaikan oleh lingkungan sosial-budayanya. Jika dilihat secara seksama, latah yang berawal dari keinginan menjadi perhatian, mereka sebenarnya juga mengalami hal serupa (tidak berbeda penyebab latah pada umumnya – powerless), yaitu tidak memiliki atau tidak diakui “wewenang’nya – padahal sebagai laki-laki (budaya patriarki) ia adalah yang memiliki kewenangan pengambil keputusan dalam kehidupan sosial (keluarga dan lingkungan sosial non-keluarga). Melalui “latah” ia memperoleh “solusi” atas terabaikannya keberadaan dirinya sebab ia belajar (reflektif) dari respons masyarakat terhadap orang latah yang justru menjadi pusat perhatian. Bahkan akhir-akhir ini, latah menjurus menjadi gaya hidup.

Penutup

Berdasarkan prinsip hidup tropis dan non-tropis maka latah sebagai gejala budaya dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pertama, Sejatinya, masyarakat tropis adalah masyarakat egaliter dan demokratis, dan cenderung menghindari konflik sebab prinsip hidupnya menekankan pentingnya menjaga “keharmonisan”, baik dalam kehidupan sosial maupun dengan lingkungan alam – biotik dan abiotik (Agusyanto, 2013). Oleh karena itu pula dalam konteks latah, mengapa cenderung tumbuh subur pada masyarakat tropis – terutama pada kaum perempuan dan jarang menjangkiti kaum laki-lakinya karena kewenangan menentukan struktur sosial dalam budaya patriarki tetap ada di tangan kaum laki-laki.

Kedua, berdasarkan masalah budaya “persaingan” (budaya patriarki dan prinsip kontestasi power) dan situasi atau kondisi unstructured maka seharusnya semua perempuan atau pun laki-laki sebenarnya bisa berpotensi menderita gejala latah jika mengalami kondisi atau situasi serupa (powerless).

Ketiga, berdasarkan poin kedua di atas maka latah sebenarnya bisa juga menghinggapi masyarakat non-tropis (meskipun tidak menggejala seperti di tropis) ketika mengalami situasi dan kondisi serupa (unstructured) karena tidak mampu/gagal beradaptasi terhadap budaya kontestasi power sehingga jiwa pemberontaknya tidak muncul dalam pada saat kondisi yang tak terstruktur itu muncul seperti kajian winzaler 1995 yang menemukan latah tidak hanya pada masyarakat melayu – latah juga terjadi pada orang siberia, afro-arab juga Canada. Di Indonesia, warga negara keturunan asing seperti keturunan Arab, India dan Cina juga dijumpai terjangkit latah.

Kepustakaan

Abdullah, Irwan.

1997   “Antropologi di Persimpangan Jalan: Refleksi dari Pemahaman akan Tindakan Kaum Muda”, dalam Antropologi Indonesia No.54, Th XXI, Desember 1997 – April 1998)

Adams, RN dan RD Fogelson.

1977    The Anthropology of Power. New York.

Agusyanto, Ruddy.

2004   “Struktur Sosial Dunia Kerja Di Perusahaan: Kasus Perusahaan TH di Gerbang Barat” (laporan hasil penelitian) dalam Konvensi Wanita di Indonesia (Sulityowati dan Archie Sudiarti, ed). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hlm, 75 – 88.

2007   Jaringan Sosial Dalam Organisasi. Jakarta: Rajagrafindo Press.

2010   Fenomena Dunia Mengecil: Rahasia Jaringan Sosial. Depok: Institut Antropologi Indonesia.

2013   Budaya Sontoloyo: Matahari itu Berkah atau Kutukan? Tropis adalah Awal dan Pusat Peradaban. Jakarta: Institut Antropologi Indonesia.

Amstrong, Karen.

2012   SEJARAH TUHAN: Kisah 4.000 tahun Pencarian Tuhan dalam Agama-agama Manusia. Jakarta: Mizan.

Anggraini, Henni.

2013   “Pengembangan Self-Control Untuk Mengurangi Reaksi Acholalia Pada Remaja Latah”, dalam  Jurnal Sains Dan Praktik Psikologi,  Volume I (2), 153 – 166

Anjarwati, Elfrida.

2009   Early Man Civilization in Sangiran Dome (Kehidupan Manusia Purba di Kubah Sangiran). Sragen: Pemerintah Kabupaten Sragen.

Bauer, Susan Wise.

2012   SEJARAH DUNIA KUNO: Dari cerita-cerita tertua sampai jatuhnya Roma. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia.

Blau, Peter.

1964 Exchange and Power in Social Life. New York: Free Press.

Boissevain, Jeremy.

1972   “Preface”, Network Analysis Studies in Human Interaction. Paris: Mouton & Co. Hlm. vii – xiii.

Bott, E.

1971   Family and Social Network. London: Tavistock.

Bottero, Jean.

2001   Religion in Ancient Mesopotamia. Chicago: University of Chicago Press.

Chambert-Loir, Henri dan Claude Guillot.

2007   Ziarah dan Wali di Dunia Islam. Jakarta: Serambi.

Christakis, Nicholas A dan James H Flower.

2010   Connected (terj.). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Dahrendrof.

1959   Class and Class Conflict in Industrial Society. California: Standford University Press.

Darwin, Charles.

1966   On The Origin of Species by means of Natural Selection. London: John Murray.

Dentan, Robert Knox.

1968   The Semai : a nonviolent people of Malaya. New York : Holt, Rinehart and Winston.

Engels, F.

1972   The origin of the family , private property and the state, ed. and intro. by E. Leacock. New York: International Publishers (first published 1881).

Harris, M.

1975   Culture, People, Nature: An Introduction to General Anthropology. New York : Thomas Crowe ll.

Haviland, William A.

1988   Antropologi, jilid 1 dan 2 (terj.). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hoebel, E Adamson.

1954   The Law of Primitive Man. Cambridge, MA: Harvard University Press.

1958   Man in the Primitive World. USA: The McGraw Hill Book Company, Inc.

Hobbes, Thomas.

1994   Leviathan, ed Edwin Curley (Hackett, Indianapolis).

Jacob, T.

1976                   “Early Population in The Indonesian Region”, dalam R.L. Kirk and A.G. Thone (eds.), The Origins of The Australians. Canbera, Australia Government Printers.

Kadir, Andul Hatib.

2009 “Menafsir Fenomena Latah Sebagai Emosi Kebudayaan Masyarakat Melayu (Studi Kajian Psikoantropologi)”, dalam Psikobuana, vol. I, No. 1, 49-59.

Kottak, Conrad Philip.

2011 Cultural Anthropology: Appreciating Cultural Diversity (International Edition). Michigan, USA: McGraw-Hill, Inc.

Kroeber, Alfred L.

1931 “The Cultural Area and Age Area Concepts of Clark Wissler” In Rice, Stuart A. (ed.), Methods in Social Science pp. 248-265. University of Chicago Press, Chicago.

Lang, KR.

2003   The Cambridge Guide to the Solar System. Cambridge: Cambridge University Press.

2006   Sun, Earth, and Sky. Canada: Springer.

Lloyd, S dan Sreedhar.

2008   Hobbes’s Moral and Political Philosophy (http://plato.stanford.edu/entries/hobbes-moral/).

Lomas, William

2009   “Conflict, Violence, and Conflict Resolution in Hunting and Gathering Societies,” Totem: The University of Western Ontario Journal of Anthropology: Vol. 17: Iss. 1, Article 13.

MacPherson, C B.

1962   The Political Theory of Possessive Individualism: From Hobbes to Locke (1962). Oxford University.

Maximoff, G. P.

1953   “Introduction to The Political Philosophy of Bakunin” (a comprehensive selection from the writings of Marx’s great historical rival, compile and edited by G. P. Maximoff), London, 1953, pp. 17 – 27.

Sanday, P. R.

1974   Female Status in the Public Domain. In Woman, Culture, and Society, ed. M. Z. Rosaldo and L. Lamphere, pp. 189–206. Stanford, CA: Stanford University Press.

Sartre, Jean-Paul.

2001   Colonialism and neo-colonialism. Routledge.

Schoorl, J W (eds,.).

1981   Modernisasi. Jakarta: Gramedia.

Stoler, A.

1977   Class Structure and Female Autonomy in Rural Java. Signs 3: 74–89.

Swasono, Sri-Edi.

2012   “Ekonomi dan Kooperativisme”, dalam Suara Pembaharuan. kamis, 12 Juli 2012.

Whittaker, Robert J and Jose Maria F.

2007   Island Biogeography Ecology, Evolution and Conservation. New York: Oxford University Press, Inc.

Whiting, W.M. dkk.

1982   “Winter Temperature as a constraint to the Migration of Preindustrial Peoples”, American Anthropologist, 1982, 84: 289.

Widianto, et.al.

1996   “Sangiran Research Report: The research about early man, culture, and their environment”. Berita Penelitian Arkeologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Winzeler, R. L. (1995). Latah in Southeast Asia: The his­tory and ethnography of a culture-bound syndrome. UK: Cambridge University Press. Diakses dari http:// books.google.co.id/books?isbn=0521472199, tanggal 5 juni 2013.

Sumber internet:

Deepak, S. 2003  “Ra, Surya, Rangi, Atea Myths of Sun God” Kalpana.(http://www.kalpana.it/eng/writer/sunil_deepak/sun_myths.htm. Diakses pada 16 Juni 2011).

Hobbes, Thomas, 1588-1679 . Philosophicall rudiments concerning government and society. Electronic Text Center, University of Virginia Library, dalam http://etext.lib.virginia.edu/etcbin/toccer-new2?id=HobDeci.xml&images=images/modeng&data=/texts/english/modeng/parsed&tag=public&part=1&division=div2

Hobbes: Moral and Political Philosophy, dalam http://www.iep.utm.edu/hobmoral/

Khatry, Prem K (1984) From Hunting-Gathering to Food Production: A Brief Look on Impact of Early Man’s Shift to Farming dalam Himalaya.sosanth.com.oc.uk/collection/journal/ancientnepal/pdf/ancient_nepal_84_02.pdf


[1] Semakin hangat semakin bervariasi atau beragam jenis flora dan fauna (Hoebel, 1958).


[i] Penyembuhan latah umumnya adalah upaya pengkondisian dalam kehidupan sosial yang “tenang” (terstruktur); dengan kondisi sosial yang “tenang” maka ia secara penuh mampu menydari posisi sosial/budaya di mana ia berada saat itu (saat terkejut atau kaget). Dengan demikian, mereka juga perlu terapi “konsentrasi”atau latihan “relaksasi”.

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s