BANJIR, LANGKA AIR (BAHAN BAKU AIR BERSIH) DAN KEMACETAN LALU-LINTAS AKAN MELANDA SELURUH KOTA DI INDONESIA: TINGGAL MENUNGGU WAKTU

Dalam “MENENTANG BANJIR”, Ekspedisi Geografi Indonesia 2013″. Cibinong: Badan Informasi Geospasial

(Ruddy Agusyanto)

BANJIR, LANGKA AIR (BAHAN BAKU AIR BERSIH)

DAN KEMACETAN LALU-LINTAS

AKAN MELANDA SELURUH KOTA DI INDONESIA:

TINGGAL MENUNGGU WAKTU

(Ruddy Agusyanto)

Indonesia adalah daerah “resapan air”, yang ditandai dengan banyaknya sungai, anak sungai dan danau. Hal ini dikarenakan secara geografis Indonesia terletak di wilayah yang beriklim tropis sehingga air tetap dalam wujudnya yang cair (mendapat suhu sinar matahari yang pas/ideal). Air dalam suhu yang terlalu panas akan menguap dan sebaliknya ia akan membeku jika terlalu dingin.

Sungai dan anak sungai melintasi hampir seluruh bagian dari daratan yang ada. Oleh karena itu, sangatlah wajar bila pada jaman dulu (ratusan atau ribuan tahun yang lalu), sungai menjadi prasarana transportasi utama leluhur nusantara. Mereka membangun hunian di sisi kanan-kiri sepanjang sungai dan anak sungai (sebab air adalah tanda kehidupan) sehingga masing-masing hunian terkoneksi satu sama lain oleh sungai atau anak sungai tersebut.

Dalam perjalanan waktu, interaksi antar kebudayaan semakin intens sejalan dengan perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi (informasi). Tanpa disadari, Indonesia telah mengadopsi “paradigm continent” (Eropa Barat dan Amerika Serikat) – yang bukan daerah resapan air (miskin sungai dan anak sungai) dalam merumuskan design pembangunan. Oleh karena itu pula, daratan non-resapan air seperti Eropa dan Amerika mengembangkan “transportasi darat”. Tanpa disadari, Indonesia merubah paradigm tansportasi – dari transportasi air menjadi transportasi darat. Berdasarkan hal ini maka dampak yang signifikan adalah:

  1. Sungai dan anak sungai (serta danau) beralih fungsi, “dari prasarana utama trasportasi menjadi drainage”. Akibatnya, sungai dan anak sungai serta danau dalam mindset (budaya) masyarakat menjadi “tempat pembuangan limbah/sampah”. Akibatnya, terjadi penyempitan dan pendangkalan sungai, anak sungai dan danau (turunnya daya tampung air).
  2. Dampak selanjutnya adalah “pemborosan ruang” sebab prasarana trasportasi yang sudah ada, tidak dipergunakan lagi (dimatikan) sehingga harus menyediakan ruang/lahan baru untuk membangun prasarana transportasi darat.
  3. Konsekuensi dari prasarana trasportasi yang baru ini adalah juga diperlukannya ruang/lahan baru di sepanjang prasarana trasportasi darat (jalan raya) tersebut untuk hunian dan aktivitas lainnya. Dengan demikian, ruang/lahan baru yang diperlukan tak hanya untuk keperluan prasarana trasportasi, tetapi juga ruang untuk hunian dan untuk aktivitas lainnya di sepanjang “jalan darat” yang dibangun. Akibatnya, kelangkaan ruang semakin cepat seiring dengan pembangunan yang dilakukan.
  4. Dengan kebutuhan ruang/lahan untuk prasarana transportasi darat dan hunian atau ruang untuk aktivitas lainnya maka semakin banyak lahan terbuka yang hilang (resapan air). Pada akhirnya, persediaan air (bahan baku air bersih) semakin hari semakin langka dan permukaan tanah semakin turun sebagai akibat dari tak seimbangnya antara “masuknya air dengan konsumsi air”. Tak hanya itu, perembesan air laut juga semakin jauh masuk kedalam wilayah daratan. Hal ini membuat bahan baku air bersih (tawar) menjadi semakin langka.
  5. Dengan semakin banyaknya pembangunan prasarana transportasi darat dan hunian atau ruang untuk aktivitas manusia maka semakin banyak diperlukan drainage. Seiring perkembangan pembangunan tersebut, pada akhirnya mengakibatkan semakin sulitnya mengatur “derajat kemiringan drainage” (air mengalir menuju permukaan yang lebih rendah). Akibatnya, terjadi genangan di banyak drainage karena kesulitan mengatur derajat kemiringan agar air tetap mengalir. Oleh karena itu, ketika turun hujan sebentar saja bisa terjadi “banjir lokal” – yaitu air menggenangi prasarana trasportasi/jalan raya dan kompleks hunian atau ruang aktivitas lainnya – padahal permukaan sungai, anak sungai dan danau tidak naik atau meluap. Kalau sudah demikian maka kemacetan lalu-lintas tak bisa dihindari. Jadi, banjir tidak hanya sebagai akibat meluapnya sungai, anak sungai atau danau tetapi juga akibat tidak mengalirnya drainage.

Dengan demikian, jika Negara/Pemerintah tidak segera menyadari bahwa karakter geografis Indonesia adalah “daerah resapan air” dan tidak merubah paradigm pembangunannya (paradigma continent dan non-resapan air) maka “kemacetan lalu-lintas, banjir tetapi kekurangan/langka air (bahan baku air bersih)” akan melanda seluruh kota di Indonesia. Hanya menunggu waktu.

Kepustakaan

Agusyanto, Ruddy.

2007     Jaringan Sosial Dalam Organisasi. Jakarta: Rajagrafindo.

2012        “Kelangsungan Hidup dan Teritori Sumberdaya”, dalam NKRI Dari Masa Ke Masa (Karsidi dkk., ed.). Bogor: Sains Press.

2013        BUDAYA SONTOLOYO – Matahari itu Berkah atau kutukan? Tropis adalah Awal dan Pusat Peradaban. Jakarta: Institut Antropologi Indonesia.

Anjarwati, Elfrida.

2009       Early Man Civilization in Sangiran Dome (Kehidupan Manusia Purba di Kubah Sangiran). Sragen: Pemerintah Kabupaten Sragen.

Burns, Tom R., dkk.

1987   Manusia, Keputusan, Masyarakat: Teori dinamika antara aktor dan sistem untuk ilmuwan sosial. Jakarta: PT Pradnya Paramita.

Dove, Michael R (ed.).

1985       Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Ducummon, LS.

2011   Ecological And Economic Importance of Bats, Bat Conservation International, Inc, Austin, Texas

Ekspedisi Geografi Indonesia 2012: Selamatkan Kawasan Karst di Selatan Jawa Timur. Cibinong: Badan Informasi Geospasial.

Haviland, William A.

1988   Antropologi, jilid 1 dan 2 (terj.). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Internet:

https://pajsindonesia.wordpress.com/2012/08/31/diversitas-lingkungan-kawasan-karst-malang-selatan-dan-diversitas-etnostrategi/

http://www.komunitasbelokkiri.com/seni-tiban-tarian-meminta-hujan-dalam-perspektif-filsafat-ketuhanan.htm

http://iannnews.com/ensiklopedia.php?page=budaya&prov=2&kota=81&id=376

Sumber: http://iniunic.blogspot.com/2011/10/upacara-adat-minta-hujan.html

http://inpo-aneh.blogspot.com/2012/09/upacara-pernikahan- kodok-untuk-meminta.html

http://www.indosiar.com/ragam/ritual-minta-hujan-dengan-beragam-pantangan_88606.html

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/04/19/10004077/Banjir.di.Kampung.Pulo.Tak.Ganggu.Aktivitas.Warga?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/03/05/12185433/Banjir.Lagi.Warga.Kp.Pulo.Tetap.Beraktivitas?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/03/12/12164613/Akan.Direlokasi.Warga.Kampung.Pulo.Bangun.Rumah.3.Lantai

http://www.tempo.co/read/news/2013/01/18/214455243/Beda-Curah-Hujan-Jakarta-2007-dengan-2013

http://thesis.binus.ac.id/doc/LampiranNoPass/2007-2-00552-STIF-Lampiran.pdf

http://health.detik.com/read/2013/02/04/161543/2160755/763/2-hari-saja-tumpukan-sampah-di-jakarta-bisa-dibangun-candi-borobudur

http://www.tribunnews.com/2013/05/08/puluhan-pemilik-toko-di-cipanas-panik

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/05/08/6/152254/Banjir-Rendam-Belasan-Toko-di-Cipanas-

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s