BANJIR ADALAH BENCANA SOSIAL: Air Adalah Tanda Kehidupan

Air Adalah Tanda Kehidupan

Hujan adalah sebuah berkah karena air merupakan salah satu kebutuhan dasar kehidupan manusia. Sepanjang sejarah manusia, air merupakan tanda adanya sebuah kehidupan. Sejak jaman manusia purba, manusia mengembara mengikuti pergerakan binatang buruan, di mana binatang buruan tersebut mengikuti keberadaan air (sungai atau danau) agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Kehidupan manusia purba Sangiran yang dikenal dengan homo erectus hidup secara berkelompok, dan masih sangat bergantung kepada alam lingkungan yang menyediakan sumber kehidupan. Kebanyakan mereka hidup di sepanjang sungai atau di dekat danau karena air dianggap sebagai sumber utama kehidupan bagi semua mahkluk di dunia ini termasuk binatang-binatang (yang merupakan obyek buruan). Mereka hidup secara berpindah-pindah (nomaden) mengikuti arah binatang-binatang mengembara mencari makanan (Anjarwati, Kehidupan Manusia Purba di Kubah Sangiran, 2009, hal. 27). Huruf tebal dari penulis.

Oleh karena itu pula dalam banyak kebudayaan, ketika terjadi musim kemarau panjang sehingga masyarakat di daerah yang bersangkutan mengalami kekurangan air (keringnya sumber air atau persediaan air), mereka akan mengadakan ritual untuk mendatangkan air. Sumber air yang diharapkan pada umumnya adalah dalam bentuk turunnya hujan. Hujan (air dari langit) akan mengisi bumi/tanah tempat mereka hidup dan tinggal, juga akan mengairi/mengisi bumi/tanah, danau, atau sungai-sungai (tempat-tempat persediaan air) sehingga mereka tak lagi kesulitan air, baik untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia mau pun untuk pengairan sawah dan ladang serta ternak. Maka dari itu, ritual-ritual yang dilakukan untuk meminta air, biasanya berwujud ritual “minta hujan” (turunnya hujan). Sebagai contoh adalah ritual “Ujungan”, di Desa Gumelem Wetan, Banjarnegara, Jawa Tengah; ritual “becekan” di lereng gunung Merapi, Sleman, Yoyakarta; ritual “Cingcowong” di Kuningan, Jawa Barat; ritual “Cowongan” di Banyumas, Jawa Tengah dan banyak lagi di berbagai daerah di nusantara; bahkan di India pun juga ada ritual meminta hujan, yaitu ritual “pernikahan kodok”. Selain itu juga ada tarian yang diciptakan khusus sebagai bagian dari ritual minta hujan seperti “tarian Tiban” di daerah Kediri, Jawa Timur. Dengan kata lain, hujan atau datangnya hujan berarti datangnya rakhmat Illahi yang menjadi sumber hidup bagi seluruh makhluk bumi, termasuk manusia. Dan, sebaliknya, tidak satu masyarakat pun di dunia yang memohon “kekeringan”.Tapi, mengapa  masyarakat Indonesia saat ini – di perkotaan, khususnya kota Jakarta – memahami dan memaknai hujan sebagai “bencana”?.

Sementara itu, dalam kenyataan yang lain, kita juga sering melihat slogan-slogan dan tayangan layanan publik di berbagai media justru menghimbau masyarakat Indonesia untuk “hemat air”. Ini sebuah fenomena kehidupan yang kontradiktif. Di satu sisi, manusia menghindari banjir, dan di sisi yang lain menunjukkan bahwa kita sedang mengalami kekurangan air (air sedang langka keberadaannya). Kondisi kontradiktif inilah (masalah air dalam kehidupan manusia) yang melanda hampir di semua kehidupan masyarakat perkotaan di Nusantara – termasuk masyarakat Jakarta – saat ini.

Banjir adalah Masalah Sosial

Banjir memang seolah-olah merupakan fenomena alam murni. Apalagi, terjadinya banjir selalu didahului dengan terjadinya fenomena alam, yaitu curah hujan dengan debit yang besar dan dalam waktu yang relatif lama. Oleh karenanya, banjir selalu terjadi pada saat musim hujan sehingga banyak pihak memahami dan memaknai “banjir” sebagai “bencana alam”.

Banjir adalah sebuah kondisi meluap atau melubernya air dari “wadah” yang menampungnya, dan air yang tumpah tersebut membentuk genangan. Kondisi ini terjadi bila volume air yang datang/masuk melebihi daya tampung dari wadah yang tersedia sehingga air keluar/meluap dari wadahnya dan menggenangi daerah/area sekitar wadah tersebut.

Wadah penampung air ada dua jenis. “Wadah yang tidak mengalir” seperti waduk atau setu dan danau serta tanah/bumi itu sendiri; sedangkan “wadah yang mengalir“ adalah sungai dan drainage (saluran pembuangan air). Bagi “wadah yang mengalir”, banjir akan terjadi ketika debit air yang masuk/datang lebih besar dari debit air yang bisa dialirkan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa banjir terjadi ketika:

  1. danau, waduk atau setu, dan bumi/tanah tidak mampu lagi menampung air yang masuk/datang;
  2. daya alir sungai dan drainage lebih kecil dari air yang masuk (perbedaan debit air yang datang dan pergi/mengalir).

Sedangkan mengenai seberapa luas genangan air yang terjadi, hal ini tergantung pada volume air yang luber atau debit air yang terus mengisi wadah yang tersedia tersebut. Dan, air yang datang/masuk yang dimaksud adalah “air hujan” sebab dalam kondisi tidak hujan, air yang datang berasal dari pembuangan tidak penah menyebabkan banjir. Oleh karena itu, selama ini bencana banjir dipahami sebagai fenomena alam akibat dari debit hujan yang melebih daya tampung dan melebihi daya alir “wadah” yang tersedia.

Berdasarkan kedua kondisi terjadinya banjir di atas maka dapat diasumsikan seolah-olah telah terjadi: (1) terjadi peningkatan debit atau volume hujan secara tajam dan (2) terjadi penurunan daya tampung tanah/bumi, danau atau setu dan sungai serta drainage terhadap air yang datang/masuk (curah hujan). Namun, dalam kenyataan, meski turun hujan hanya berlangsung satu jam saja (sebentar) atau berjam-jam tetapi dengan curah hujan relatif tidak “lebat”, Jakarta sudah mengalami genangan air (banjir) di beberapa lokasi – baik di jaringan jalan raya mau pun di pemukiman. Hal ini menunjukkan bahwa ketidak mampuan “wadah” menerima curah hujan bukan dikarenakan oleh curah hujan (debit) yang berlebihan atau telah terjadi peningkatan volume curah hujan setiap tahunnya sebab volume curah hujan dari tahun ke tahun tidak ada perbedaan yang signifikan.

“…curah hujan bulanan pada 2007 tinggi karena hujan terkonsentrasi di satu titik, yaitu Jakarta Selatan, 340 milimeter. Sedangkan tahun ini, curah hujan tersebar merata di seluruh wilayah Jakarta. “Pantauan kami, sejak November 2012 sampai Januari ini, curah hujan bulanan Jakarta tidak pernah mencapai angka itu. Maksimal 150 sampai 180.” (http://www.tempo.co/read/news/2013/01/18/214455243/Beda-Curah-Hujan-Jakarta-2007-dengan-2013).

Tabel L.1. Data curah hujan bulanan Jakarta tahun 1976-2006

(http://thesis.binus.ac.id/doc/LampiranNoPass/2007-2-00552-STIF-Lampiran.pdf).

Tahun  Jan  Feb  Mar Apr  Mei  Jun  Jul   Ags  Sep  Okt  Nov  Des

1976     719  122  427     98    71     21      0   170   73    80   95   166

1977     503  580  463   176    42   258      0     36   14   108   69   329

1978     191 223    284    68  134   161  102     85  117  123  241   257

1979     451  224   146  110  135     74    77     43  164  130  168   322

1980     539  349   124    84  121       9      9     10   194   76  140   103

1981     274    90   169   261 297     66    70     48    89    89  211   380

1982     356   234  123    52    32    101   24     38     0     49      5   182

1983     343   205  263   157  139    16    68       5      0  195  109   228

1984     351   245  331    93   224    20    92    103  129   76  115   192

1985     357   195  156  278   225   160  136       8    40  147   26   172

1986    436    451  164  138     53      84 153   321  195    58   93   193

1987     536  283    103   99    111     58     2       5      6    81  170   332

1988     466  207    191   76    181     42    11     55      1  186  109   286

1989     257  418    114  139    202   134   88     24     32   26  113   383

1990    398   249    102  135      64     97   71   270     12   64    77   205

1991    286   250   310   281     78       1   28        0       0    2   146   167

1992    299   319   229   207    237    24   83     152  106  281  170   231

1993    429   275   225   207   139   122   17     155    30  131  171   125

1994    350   265   282   105   170       9     2       53    13      6    87     73

1995    322   683   145   292   100   187   125      2     37   103  214  104

1996    402   616   180   159     12     40     88   136    61   202  136   115

1997    497     98     61     77   124       1       0       0      0       0    95     52

1998    163   356    322  134    151   130   113   161  101   162   43    66

1999    233   291      48    48      95     45   182       0    77   186  265  300

2000    592     29        4  115    169     82     29     34    29     33  174    84

2001    286    297   173  111      67   138     30     79    10   134   125   92

2002    694    659   176  144      69       2   11 7      0      0       3     49   109

2003    111    499   109    66      72       4        0      0    23   227   189   430

2004    224    409   233  343    111     48      51      0      0     39     78   209

2005    392    350   417  115      57   116    174    39    30   200   102     92

2006    406    273  302   369     98      31      43    10     0        0     28   112

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ketidakmampuan wadah menampung curah hujan adalah akibat terjadinya “penurunan daya tampung” dari wadah itu sendiri”. Hasil dari penelitian lapangan atau dari data yang berhasil dikumpulkan menunjukkan bahwa penurunan daya tampung ini justru merupakan akibat dari: (1) berkurangnya wadah itu sendiri (jumlah wadah yang tersedia terus berkurang); (2) penyusutan volume wadah karena telah terjadi pendangkalan dan penyempitan; dan (3) penurunan daya alir dari “wadah yang mengalir” (sungai dan drainage). Semua ini terjadi karena:

  1. Berkurangnya jumlah wadah yang tersedia, yang disebabkan oleh:
    1. berkurangnya permukaan tanah terbuka
    2. berkurangnya jumlah area-area resapan
    3. “hilangnya” (ditutup/ditimbun) beberapa drainage, terutama di lokasi-lokasi pemukiman dan fasilitas publik. Demikian juga ditemui sungai yang menjadi “empang”.

Semua ini terjadi karena adanya alih fungsi wadah penampung air menjadi atau untuk fasiltas publik, ruang aktivitas ekonomi dan aktivitas manusia lainnya, serta pemukiman.

2. Pendangkalan dan penyempitan wadah (penurunan daya tampung/volume wadah):

a. banyak sungai kehilangan area sempadan dan lebar sungai terus berkurang karena ditimbun untuk kepentingan ruang bagi aktivitas manusia dan pemukiman (tak hanya oleh warga kelas bawah, tetapi juga terjadi pada warga kelas menengah dan atas – dibangun real estate.

b. tidak hanya air hujan atau air pembuangan, tetapi juga limbah/sampah dari aktivitas manusia yang masuk ke sungai atau drainage semakin hari terus bertambah volumenya.

“Secara berat, Jakarta tiap hari menghasilkan 6 ribu ton sampah. Kalau dihitung secara volume, 1 hari sekitar 28 ribu m3 (meter kubik). Nah, volumenya Candi Borobudur itu 50 ribu m3. Jadi kalau itu dikumpulkan dalam 2 hari saja bisa jadi bangunan Borobudur,” ujar Hendra Aquan, dari komunitas pemerhati lingkungan Transformasi Hijau, saat ditemui disela-sela acara diskusi ‘Menjadi Bagian dari Generasi yang Gemar Mengelola Sampah untuk Menjaga Bumi’ di GOR Bulungan, Jl Bulungan, Jakarta, Senin (4/2/2013). (http://health.detik.com/read/2013/02/04/161543/2160755/763/2-hari-saja-tumpukan-sampah-di-jakarta-bisa-dibangun-candi-borobudur).

3. penurunan daya alir wadah:

a. sampah/limbah aktivitas manusia pada poin 2b pada akhirnya juga menghambat atau mengurangi daya alir sungai dan drainage, bahkan tidak jarang menyumbat (buntu/mampet).

“Tidak berfungsinya drainase di pinggir jalan, sebagai penyebab utama terjadinya banjir yang merendam sebagian besar jalan raya Cipanas ini. Air hujan meluap ditengah jalan tidak masuk ke dalam saluran air, kata Saeful, 38, salah seorang warga Cipanas…“Setiap kali turun hujan, dapat dipastikan air dari drainase meluap ke ruas-ruas jalan karena saluran air penuh dengan sampah yang tidak pernah dibersihkan,” katanya dengan nada kesal.”. (http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/05/08/6/152254/Banjir-Rendam-Belasan-Toko-di-Cipanas-).

Menurut, Ahmad, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur: “jika drainase di pinggir jalan tersebut banyak dipenuhi tumpukan sampah dan bahan material yang turun dari galian pasir. Akibatnya air tidak mengalir lancar ketika hujan deras terjadi”. (http://www.tribunnews.com/2013/05/08/puluhan-pemilik-toko-di-cipanas-panik).

b. Derajat kemiringan. Hal yang juga penting adalah memahami sifat air, di mana air akan mengalir menuju permukaan yang lebih rendah. Berdasarkan sifat air ini maka derajat kemiringan antara drainage yang satu dengan lainnya dan antara drainage dengan sungai, setu atau danau menjadi sangat penting. Banyak dijumpai bahwa drainage di area pemukiman dan di sepanjang fasilitas jalan atau fasilitas publik tidak mempunyai derajat kemiringan yang signifikan untuk membuat air tetap mengalir.

c. Penurunan permukaan tanah. Air memang harus dialirkan agar tidak terjadi genangan yang mengganggu aktivitas atau kehidupan manusia. Namun, air tetap dibutukan manusia. Manusia juga perlu memikirkan cadangan atau persediaan kandungan air di daerah ia hidup dan tinggal. Jika tidak, maka manusia akan mengalami kekurangan sumber air. Pengambilan air tanah yang relatif lebih besar dibandingkan air yang masuk/meresap ke dalam tanah (permukaan tanah tiap tahun terus ditutup sehingga air pembuangan dan air hujan langsung terbuang ke laut). Akhirnya, menciptakan ruang kosong untuk diisi oleh air laut seperti banyak kasus bahwa dulu air tanah bisa hanya dengan menggali sedalam 4 meter, sekarang bisa mencapai kedalaman 30-40 meter untuk bisa memperoleh air tawar. Bahkan, air laut sudah meresap sampai di jalan Sudirman-Thamrin pada awal tahun 1990 an). Akibat lainnya adalah permukaan tanah terus mengalami penurunan sehingga banyak kasus di mana rumah-rumah yang tadinya lebih tinggi dari jalan dan sungai sekarang menjadi lebih rendah dari sungai dan jalan; banyak pula terjadi turunnya lantai rumah. Selain itu, juga seringkali dilakukan perbaikan jalan, tetapi dengan cara menambah ketebalannya sehingga jalanan menjadi lebih tinggi dari lantai rumah atau wilayah pemukiman. Akibatnya, genangan air (banjir) akhirnya juga terjadi pada daerah yang permukaannya lebih rendah akibat penurunan permukaan tanah (perubahan derajat kemiringan), yang “mampu” menjadi penampung lubernya air. Oleh karena itu, daerah-daerah yang kontur tanahnya berubah menjadi lebih rendah – membentuk cekungan – genangan air akan menjadi relatif lama bertahan. Semua ini pada akhirnya menambah potensi ruang bagi genangan air.

Akibat dari kondisi ini, tak hanya terjadi banjir/genangan air di daerah sekitar sungai, tetapi juga terjadi di sekitar selokan/drainage (pemukiman dan fasilitas jalan serta ruang-ruang kegiatan ekonomi). Oleh karena itu pula, belakangan ini sering terjadi “banjir lokal” di daerah pemukiman atau sarana publik seperti jalan raya meskipun pada kenyataannya sungai masih mampu menampung volume air (curah hujan) yang datang.

Berdasarkan kenyataan di atas, ternyata banjir bukanlah fenomena alam. Dalam konteks banjir Jakarta, justru lebih tepat jika banjir adalah fenomena sosial. Banjir lebih banyak sebagai akibat dari aktivitas atau ulah manusia. Selain itu, dalam kehidupan manusia, genangan air (banjir) tidak selalu mengganggu aktivitas atau kehidupan manusia, bahkan dalam kenyataan yang lain lubernya air justru diharapkan seperti gambar di bawah ini (kasus menampung air hujan untuk kebutuhan mandi, masak, cuci, transportasi dan lain-lain).

Artinya, turunnya hujan pada waktu atau konteks-konteks tertentu dan di daerah-daerah/area-area tertentu sangat diharapkan; sementara di waktu/konteks dan daerah/area lainnya sangat tidak diharapkan. Berdasarkan hal ini maka banjir yang dimaksud perlu diluruskan sebab meskipun manusia membutuhkan air tetapi manusia tetap tidak mengharapkan genangan air di tempat-tempat dan waktu/konteks tertentu. Artinya, di satu sisi, air tetap dibutuhkan tetapi banjir harus ditanggulangi atau disingkirkan.

Dengan demkian, dalam konteks banjir kota Jakarta adalah masalah bagaimana mengatasi atau menanggulangi banjir/genangan-genangan air di daerah-daerah/area-area yang tidak diharapkan seperti genangan air di area rumah tinggal, di jalan-jalan transportasi atau di area-area aktivitas manusia lainnya (ruang-ruang kegiatan ekonomi). Hujan menjadi “bencana” bagi manusia karena menyebabkan genangan air di tempat-tempat yang tidak diharapkan – mengganggu kehidupan/aktivitas manusia. Oleh sebab itu pula, banjir dalam konteks “bencana banjir Jakarta” merupakan “masalah sosial” sehingga “banjir” lebih tepat jika disimpulkan sebagai “bencana sosial” (bukan bencana alam).  Artinya, bencana banjir yang selama ini menimpa kota Jakarta adalah “bencana sosial” (bukan bencana alam). Banjir yang harus diatasi oleh masyarakat Jakarta adalah “banjir yang merupakan masalah sosial”, yaitu genangan air yang mengganggu aktivitas/kehidupan masyarakat kota Jakarta (yang secara rutin menimpa kota Jakarta), yang disebabkan juga oleh ulah/aktivitas manusia.

Akhir kata, air tetap merupakan “tanda kehidupan” sehingga keberadaannya tetap dibutuhkan manusia dalam kehidupannya. Dengan demikian, air harus dikelola demi kelangsungan hidup manusia. Di satu sisi. banjir di tempat dan konteks kehidupan tertentu yang tidak diharapkan harus ditanggulangi; dan di sisi lain, hujan diperlukan untuk kebutuhan bahan baku air bersih bagi manusia (minum, masak, mandi dan cuci) dan ternak, irigasi, untuk mengatasi kebakaran (pemadam kebakaran) serta untuk kepentingan kehidupan lainnya.

 

Kelangkaan Ruang dan Tradisi Banjir Jakarta

Jakarta, sejak dulu memang dikenal daerah yang subur karena daerah ini adalah daerah resapan air. Pada jaman kerajaan Taruma Negara, Jakarta dimanfaatkan sebagai daerah persawahan/pertanian karena merupakan daerah yang subur (karena kandungan airnya). Selain itu, Jakarta juga mempunyai pantai yang ideal sebagai pelabuhan karena terdapatnya kepulauan seribu yang mampu menahan ombak dari laut. Oleh karena itu, sejak jaman kerajaan Taruma Negara, Jakarta merupakan daerah yang banyak mengundang aktivitas manusia. Manusia berbondong-bondong menuju Jakarta untuk mengadu nasib atau mencari rejeki (sumber kehidupan) hingga hari ini. Populasi penduduk Jakarta terus meningkat, tak hanya karena kelahiran, tetapi juga akibat derasnya migrasi (bahkan pertumbuhannya lebih besar dari pertambahan penduduk akibat kelahiran) – apalagi setelah menjadi Ibukota Negara. Konsekuensinya, kebutuhan akan ruang terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah populasi. Akibatnya, “kelangkaan ruang” bagi aktivitas manusia semakin hari semakin terasa. Tak hanya masalah kelangkaan ruang, tetapi juga terus meningkatnya beban limbah/sampah dari aktivitas manusia.

Kelangkaan ruang dan beban limbah dari aktivitas manusia di Jakarta ini, pada akhirnya menyebabkan:

  • Terus berkurangnya (penyusutan) luas area terbuka yang berfungsi sebagai resapan air dan wadah-wadah (penampung hujan) lainnya untuk kepentingan hunian, kegiatan ekonomi dan infrastruktur (dikorbankan atau alih fungsi).
  • Terabaikannya pengetahuan tentang pengelolaan air yang selama ini dimiliki generasi-generasi sebelumnya akibat “industrialisasi”, yang menyebabkan terjadinya masalah kelangkaan ruang (dilema antara kepentingan untuk ruang aktivitas manusia dengan kepentingan untuk pengelolaan air).
  • Meningkatnya limbah dari aktivitas manusia (populasi terus bertambah pesat), yang akhirnya juga menyebabkan kesulitan ruang untuk menampung limbah/sampah dari aktivitas manusia, termasuk kesulitan ruang untuk pembuatan drainage.
  • Penyempitan dan pendangkalan sungai dan drainage dan “wadah-wadah penampung air” lainnya.
  • Sulit mengatur derajat kemiringan setiap saluran pembuangan air limbah (selokan – artifisial) dan memelihara/menjaganya agar tetap mengalir, serta tetap mengalir menuju sungai.

Dalam perjalanan waktu, Jakarta sebagai Ibukota Negara juga mendorong daerah sekitarnya sebagai penyangga atas serbuan manusia (migrasi) karena semakin langkanya ruang di kota Jakarta. Tumbuhlah kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor. Dengan demikian, Jakarta semakin hari semakin menurun “ambang batas” (daya tampung) terhadap curah hujan sebagai akibat dari kebutuhan ruang bagi aktivitas manusia, baik akibat dari aktivitas manusia di kota Jakarta mau pun sekitar kota Jakarta (kota penyangga). Kota-kota penyangga mengalami perubahan serupa dengan kota Jakarta. Oleh karena itu pula, jika kita perhatikan “bencana” banjir ini seolah-olah rutin sehingga berkembang istilah “banjir lima tahunan”, “banjir tahunan” dan “banjir kiriman” (dari kota penyangga yang juga mengalami menurunnya daya tampung atas curah hujan seperti Jakarta); dan sekarang lahir kategori banjir yang baru, yaitu “banjir lokal”.

Dengan terus semakin menurunnya daya tampung volume air (ambang batas) kota Jakarta untuk menerima curah hujan dan banjir kiriman maka rentang waktu “bencana banjir” ini terasa semakin pendek dan semakin besar volume banjir yang dialaminya. Bencana banjir yang terjadi secara berkala ini (banjir lima tahunan, satu tahunan) mendorong lahirnya “pengetahuan” untuk mengatasinya (respons adaptasi). Oleh karena banjir ini secara rutin/berkala dan sudah berlangsung terus menerus dalam rentang waktu yang panjang (berlangsung terlalu lama dan terus-menerus) maka tanpa disadari penduduk yang mengalami bencana banjir secara rutin ini akhirnya lebih fokus pada pemecahan masalah (budaya bencana banjir):

  • Penyelamatan diri atau penyelamatan korban banjir
  • Penyelamatan harta benda mereka

ketimbang mengatasi “banjirnya” itu sendiri, dalam arti sebuah upaya agar tidak terjadi banjir pada tempat-tempat yang tidak diharapkan.

Hal ini mungkin disebabkan bahwa selama ini tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengatasinya atau mencegahnya (terjadi secara rutin), apalagi banjir kiriman juga secara rutin terjadi dan semakin langkanya ruang. Kondisi ini akhirnya juga mempengaruhi kerangka pikir pihak pemerintah atau organisasi-organisasi sosial/kemasyarakatan (lembaga swadaya masyarakat) dalam merespons bencana banjir, yang juga lebih fokus pada “pertolongan kepada korban banjir” (bukan mengatasi banjir yang tidak diharapkan atau mengelola banjir/air untuk kehidupan manusia).

Solusi lain yang terpikirkan adalah “pemindahan” (relokasi) kepada mereka yang tinggal di daerah-daerah “langanan” banjir. Solusi yang ditawarkan inipun sebenarnya tidak banyak menolong sebab “banjir” tersebut tetap hadir di Jakarta meskipun mereka direlokasi (secara tidak langsung, asumsi dasar dari kebijakan relokasi ini tujuannya adalah agar tidak “menelan korban” atau untuk mengurangi “korban banjir” serta mengurangi “kerugian” akibat banjir). Apalagi masyarakat daerah banjir sadar akan kelangkaan ruang kota Jakarta sehingga mereka “takut” kehilangan ruang yang sudah dimilikinya.

Pada akhirnya, kelangkaan ruang ini memperkuat mereka (masyarakat dan pemerintah) tidak terfokus pada inti permasalahan, yaitu mengatasi bencana banjir sebab upaya pengelolaan air tidak pernah dilakukan secara holistik (terintegrasi satu sama lain). Bencana banjir itu sendiri tanpa disadari dianggap seolah-olah memang sudah demikian adanya – sebagai “bencana alam” layaknya gunung meletus. Manusia hanya mampu menghindar karena tidak mungkin mencegah terjadinya bencana alam.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan kenyataan yang ada, di satu sisi, daya tampung (ambang batas) kota Jakarta untuk menerima curah hujan dan banjir kiriman terus semakin menurun sehingga rentang waktu “bencana banjir” ini terasa semakin pendek dan semakin besar volume banjir yang dialaminya, padahal debit curah hujan dari tahun ke tahun tidak ada perubahan volume yang signifikan, maka dapat disimpulkan bahwa bencana banjir adalah merupakan akibat dari aktivitas atau ulah manusia (banjir adalah fenomena sosial atau masalah sosial). Sementara itu, di sisi lain, kodrat geografis kota Jakarta sebagai daerah resapan air. Meskipun demikian, bukan berarti kita hanya bisa pasrah menerima bencana banjir (banjir sebagai bencana alam). Pemerintah dan masyarakat Jakarta harus mampu mengatasi atau menanggulangi bencana banjir lima tahunan, banjir tahunan, banjir kiriman dan banjir lokal (banjir sebagai bencana sosial) tetapi tetap tidak kekurangan air. Artinya, kita harus mampu mengelola air demi kehidupan manusia yang hidup dan tinggal di Jakarta.  Dengan demikian, altenatif solusi pengelolaan air yang harus dilakukan a.l.:

  1. Merubah paradigma dalam memahami dan mengatasi bencana banjir. Banjir bukanlah “bencana alam” layaknya bencana gunung meletus sehingga manusia hanya sanggup menghindar tanpa bisa diatasi. Bencana banjir adalah “bencana sosial” yang merupakan akibat dari ulah manusia, yang menyebabkan terjadinya “genangan air” di tempat-tempat yang tidak diharapkan (mengganggu aktivitas/kehidupan manusia). Dengan paradigma “banjir sebagai bencana sosial” diharapkan dalam upaya untuk mengatasinya lebih memfokuskan diri pada solusi atas masalah-masalah sosial (respons dari kondisi kelangkaan ruang seperti kebiasaan/aktivitas yang “negatif” – membuang sampah di saluran air (selokan) atau sungai dll – yang menyebabkan menurunnya kemampuan/daya tampung sungai dan drainage kota Jakarta; menghilangkan drainage atau menimbun sungai untuk kebutuhan ruang bagi aktivitas manusia dan pemukiman dll.
  2. Paradigm pembangunan (transportasi dan ruangruang aktivitas manusia) harus mempertimbangkan “geographical awareness” bahwa nusantara:
    1. Resapan air – sungai dialih fungsikan menjadi sekedar drainage; air dibuang karena takut kebanjiran sehingga kekurangan air di saat musim kemarau; tanah terpakai tidak efisien untuk prasarana jalan dan hunian serta untuk aktivitas lainnya (ruang untuk prasarana jalan darat tetapi prasarana jalan air yang ada dimatikan) sehingga kelangkaan ruang lebih cepat dari seharusnya banjir tapi kekurangan air (bahan baku air bersih) dan macet
    2. Gempa – cultural knowledge teknik ikat, pasak dan pondasi batu untuk pijakan tiang rumah – ditinggalkan
    3. biodiversity – akibat poin a dan b, biodiversitas yang begitu kaya (tropis) terus menerus akan berkurang (sudah banyak yang punah)
  3. Inventarisasi jaringan saluran pembuangan air (drainage), pembuatan peta sungai dan drainage seperti selokan, gorong-gorong, sungai-sungai buatan lainnya, serta hubungan satu saluran dengan saluran pembuangan lainnya dan hubungan drainage dengan sungai, sehingga bisa diidentifikasi:
    1. Aliran air itu dari saluran yang satu menuju ke saluran lainnya sehingga relatif lebih mudah memantau/mengkontrol (mitigasi) saluran yang tidak mengalir dan bisa segera diatasi jika terjadi masalah.
    2. Selain memudahkan identifikasi “terhambatnya aliran”, juga bermanfaat untuk pemeliharaan agar jika ada kerusakan/gangguan (pendangkalan, keretakan dinding, bocor dll) bisa segera diperbaiki. Beberapa kasus seperti jebolnya situgintung, dinding sungai di Jl Latuharhary).
    3. Pemeliharaan secara berkala pada sungai dan drainage. Beberapa kali memang sudah dilakukan normalisasi sungai (pengerukan dan penguatan dinding sungai), tetapi normalisasi drainage sepertinya terabaikan atau belum pernah menjadi program dari pemerintah. Dalam kasus pengerukan sungai, selain hal ini tidak dilakukan secara rutin atau berkala, tanah dari pengerukan biasanya juga diletakkan di pinggir sungai sehingga jika hujan turun maka tanah tersebut akan kembali masuk ke sungai.
  4. Derajat kemiringan masing-masing saluran. Saluran-saluran pembuangan air tersebut harus diupayakan tetap mengalir (derajat kemiringan sangat penting sebab sering terjadi banjir akibat kembalinya aliran sungai ke selokan-selokan pemukiman dan fasum/jalan umum; banjir lokal akibat saluran air di pemukiman dan fasum tidak mengalir karena masalah derajat kemiringan), bahkan ada yang mampet (sama sekali tidak mengalir – ada kasus anak sungai yang sekarang telah menjadi empang, kasus pembangunan saluran air dengan tutup mati (beton) sehingga sulit untuk membersihkan sampah yang masuk, akibatnya selokan tersebut justru menyebabkan banjir lokal).

5.  Pemerintah harus memfasilitasi atau membantu mengatasi masalah kelangkaan ruang seperti menyediakan layanan atau fasilitas tempat pembuangan serta pengakutan sampah (seperti kasus pemukiman padat sekitar bantaran sungai di mana mereka membuang sampah ke sungai karena kesulitan/tidak ada ruang untuk tempat penampungan sampah, apalagi petugas pengangkut sampah jarang menjalankan tugasnya).

6. Mempertahankan atau memelihara “luas area resapan” yang “tersisa” (tidak menutup semua area untuk fasilitas/prasarana/jalan-jalan di pemukiman dengan aspal atau semen di kemudian hari, misalnya bisa dilakukan dengan konblok atau teknologi lain sehingga prasarana/fasum – jalan-jalan di wilayah pemikiman – bisa bersih (tidak becek) tetapi tetap mampu berfungsi sebagai area resapan (biofori); bahkan bila memungkinkan adalah menambah luas area resapan (mengganti teknologi penutup jalan yang bisa berfungsi sebagai resapan, atau pengembalian alih fungsi lahan bagi pemanfaat ruang yang sudah tidak sesuai lagi dengan lingkungan sekitarnya – seperti pom bensin di tengah jalan protokol menjadi taman kota dll). Bagaimanapun juga air adalah kebutuhan dasar bagi kehidupan sehingga tidak benar jika air hujan hanya numpang lewat, langsung dibuang ke laut hanya untuk menghindari bencana banjir.

7. Berkaitan dengan poin 5, kearifan lokal/cultural knowledge masih dipandang sebelah mata – “teknologi” dan “konservasi” – yang bermanfaat untuk mengatasi banjir dan masalah persediaan air tanah (pengetahuan pengelolaan air).

Di daerah agraris, membuat rumah umumnya:

a. mendekati daerah resapan air (yang ditandai dengan adanya bambu) misalnya seperti yang diceritakan oleh Mang Idin) dan jika tidak, maka akan dibuat saluran irigasi.

b. membuat halaman rumah seperti yang telah diadopsi oleh Belanda untuk membangun pemukiman di daerah menteng, Jakarta di mana rumah harus mempunyai halaman (resapan) dan drainage yang baik.

c. pentingnya saluran air/drainage atau parit pada tepi kanan-kiri fasilitas jalan yang dibuat.

Sebagai contoh dari kearifan lokal yang sudah dilakukan pengkajian dan diterapkan untuk kepentingan saat ini, seperti Rumah Panggung sebagai respons adaptif terhadap wilayah nusantara yang merupakan daerah gempa, resapan air, dan binatang liar/buas (diversitas flora dan fauna yang tinggi), dengan:

i.      Teknik Ikat / pasak

ii.     Tiang rumah di atas batu

Saat ini diterapkan dalam pembangunan gedung-gedung bertingkat anti gempa oleh negara-negara industri. Selain itu, juga cultural knowledge mengenai pengobatan herbal dan tanaman obat dalam dunia kedokteran dan farmasi oleh negara-negara industri. Namun, sayangnya justru selama ini tidak/belum ada ilmuwan kita (Indonesia) yang mengkaji “cultural knowledge” ini untuk kepentingan saat ini dan masa yang akan datang (tidak hanya cultural knowledge yang berhubungan dengan masalah pengelolaan air).

8. Jakarta memerlukan pengaturan – UU/Perda sebagai payung hukum – atas pengelolaan ruang untuk aktivitas manusia (pemanfaatan ruang); dan aktivitas manusia sebagai respons untuk mengatasi “tradisi banjir” (banjir berkala) – termasuk aktivitas yang “negatif” seperti larangan membuang sampah di saluran air (selokan) atau sungai; setiap rumah harus mempunyai saluran air yang mengalir, juga berlaku bagi pengembang perumahan.

9. Penegakkan hukum. Jika pihak pemerintah sudah membantu atau memfasilitasi kendala-kendala yang dihadapi masyarakat, maka sudah saatnya dilakukan proses penegakan hukum untuk mendidik masyarakat agar memiliki tindakan-perilaku-sikap positif terhadap upaya peningkatan ambang batas/daya tampung kota Jakarta (sungai, selokan, gorong-gorong atau sungai-sungai buatan lainnya) terhadap curah hujan. Dalam konteks ini, juga diperlukan system Kontrol-Monitoring-Koordinasi (KMK) yang memadai, jika tidak maka bisa terjadi seperti pada kasus petugas sampah di atas[1].

10. Tak hanya Jakarta, saat ini juga memerlukan pengaturan ruang dan aktivitas manusia di kota-kota penyangga Jakarta dan sudah saatnya pula melakukan pengaturan bersama (Jakarta dan kota-kota penyangganya) – kontrol-monitoring-koordinasi bersama dengan kota-kota penyangga agar bisa meningkatkan kembali ambang batas (daya tampung) terhadap curah hujan.

Dengan demikian, seluruh komponen masyarakat Jakarta dan kota-kota penyangga Jakarta bisa memelihara dan bila perlu meningkatkan daya tampung (kemampuan menampung) terhadap debit air yang datang, baik yang berasal dari curah hujan maupun dari limbah/sampah aktivitas manusia, serta mampu mengantisipasi air kiriman dari luar Jakarta (kota-kota penyangga) serta banjir lokal sehingga kota Jakarta bisa bebas banjir yang mengganggu aktivitas kehidupan (bencana sosial), tetapi tidak kekurangan bahan baku air (cadangan air dalam tanah dan di sungai) untuk kehidupan.

Kepustakaan

Agusyanto, Ruddy.

2007  Jaringan Sosial Dalam Organisasi. Jakarta: Rajagrafindo.

2012    “Kelangsungan Hidup dan Teritori Sumberdaya”, dalam NKRI Dari Masa Ke Masa (Karsidi dkk., ed.). Bogor: Sains Press.

Anjarwati, Elfrida.

2009   Early Man Civilization in Sangiran Dome (Kehidupan Manusia Purba di Kubah Sangiran). Sragen: Pemerintah Kabupaten Sragen.

Burns, Tom R., dkk.

1987 Manusia, Keputusan, Masyarakat: Teori dinamika antara aktor dan sistem untuk ilmuwan sosial. Jakarta: PT Pradnya Paramita.

Dove, Michael R (ed.).

1985   Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Ducummon, LS.

2011 Ecological And Economic Importance of Bats, Bat Conservation International, Inc, Austin, Texas

Ekspedisi Geografi Indonesia 2012: Selamatkan Kawasan Karst di Selatan Jawa Timur. Cibinong: Badan Informasi Geospasial.

Haviland, William A.

1988 Antropologi, jilid 1 dan 2 (terj.). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Internet:

https://pajsindonesia.wordpress.com/2012/08/31/diversitas-lingkungan-kawasan-karst-malang-selatan-dan-diversitas-etnostrategi/

http://www.komunitasbelokkiri.com/seni-tiban-tarian-meminta-hujan-dalam-perspektif-filsafat-ketuhanan.htm

http://iannnews.com/ensiklopedia.php?page=budaya&prov=2&kota=81&id=376

Sumber: http://iniunic.blogspot.com/2011/10/upacara-adat-minta-hujan.html

http://inpo-aneh.blogspot.com/2012/09/upacara-pernikahan- kodok-untuk-meminta.html

http://www.indosiar.com/ragam/ritual-minta-hujan-dengan-beragam-pantangan_88606.html

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/04/19/10004077/Banjir.di.Kampung.Pulo.Tak.Ganggu.Aktivitas.Warga?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/03/05/12185433/Banjir.Lagi.Warga.Kp.Pulo.Tetap.Beraktivitas?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/03/12/12164613/Akan.Direlokasi.Warga.Kampung.Pulo.Bangun.Rumah.3.Lantai

http://www.tempo.co/read/news/2013/01/18/214455243/Beda-Curah-Hujan-Jakarta-2007-dengan-2013

http://thesis.binus.ac.id/doc/LampiranNoPass/2007-2-00552-STIF-Lampiran.pdf

http://health.detik.com/read/2013/02/04/161543/2160755/763/2-hari-saja-tumpukan-sampah-di-jakarta-bisa-dibangun-candi-borobudur

http://www.tribunnews.com/2013/05/08/puluhan-pemilik-toko-di-cipanas-panik

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/05/08/6/152254/Banjir-Rendam-Belasan-Toko-di-Cipanas-


[1] Agusyanto, 2007; Burns, 1987.

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke BANJIR ADALAH BENCANA SOSIAL: Air Adalah Tanda Kehidupan

  1. Sheila R.J berkata:

    Mas Ruddy, saya punya pertanyaan (terkait dengan SDA air), kenapa kita tidak mencoba untuk menggunakan air sebagai bahan bakar? Padahal menurut beberapa berita di internet, sudah banyak ilmuwan yang meneliti dan menemukan bahwa hidrogen bisa “diekstrak” dari air. (Lihat: http://waterpoweredcar.com). Apa karena ada alasan-alasan politis terkait dengan industri minyak dunia? Atau mungkin “air sebagai bahan bakar” hanya konspirasi?

    • pajs indonesia berkata:

      air yang pasti adalah energi. contoh sederhana adalah kapal dg mesin uap, dan masih banyak lg contohnya. jd, memang ada bbrp alasan, salah satunya adalah alasan politis dan tekanan global. sama dg kasus kita harus impor garam, padahal wilayah kita 70 persen adalah laut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s