“Persamaan dan Perbedaan” dalam Kehidupan Sosial: Persaingan versus Konflik

Ruddy Agusyanto*

 

Hingga kini, banyak orang berpendapat bahwa konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu/kelompok dalam suatu interaksi sosial. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Berpijak pada dasar pemikiran ini, mereka berasumsi bahwa konflik dianggap sebagai sebuah situasi yang wajar dalam setiap kehidupan masyarakat. Hal ini diperkuat dengan adanya kenyataan bahwa tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan masyarakat lainnya sehingga mereka berkesimpulan bahwa konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konsekuensinya, membuat banyak ahli yang berpendapat bahwa konflik juga berfungsi sebagai proses integrasi sosial – yaitu sebagai bagian dari proses dialektik dalam proses mencapai keteraturan baru yang lebih baik (kualitasnya). Dengan demikian, apakah “perbedaan” memang merupakan sumber konflik sehingga konflik akan hilang bersama hilangnya masyarakat manusia; ataukah perbedaan harus dihilangkan agar masyarakat bisa hidup damai?

 

Kerjasama Dan Persaingan Adalah Sebuah Kodrat Dalam Kehidupan Manusia

Semua mahkluk hidup menghadapi masalah mendasar yang sama yaitu masalah “bagaimana mampu menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup” (Haviland, 1988). Berdasarkan hal ini, maka secara tak langsung bisa dikatakan bahwa semua mahkluk hidup mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar yang sama – yang bersifat universal – yaitu sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar agar kelangsungan hidupnya tetap terpelihara. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan-kebutuhan organisma sebagai mahkluk biologi sebab mati atau hidupnya organisma secara absolute adalah ditandai dengan matinya mereka sebagai mahkluk biologi. Oleh karena itu. sepanjang sejarah kehidupan manusia hingga hari ini bahwa kebutuhan biologi tetap menjadi prioritas umat manusia.

 

Dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya agar bisa menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia dituntut untuk mengembangkan pedoman-pedoman untuk menjalani kehidupannya (manusia sebagai mahkluk budaya), yaitu:

  • Bagaimana memanfaatkan lingkungannya (baik lingkungan biotik dan abiotik) – bagaimana memperoleh dan menentukan jenis makanan, cara makan dan seterusnya;
  • Bagaimana agar sumber pangan/energi itu selalu cukup tersedia sehingga manusia mempunyai jaminan atas kelangsungan hidupnya ke depan (etnokonservasi).
  • Bagaimana mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya.
  • Dan seterusnya

 

Selain itu, manusia juga tidak bisa melakukannya seorang diri untuk memenuhi kebutuhan dirinya agar bisa menjaga kelangsungan hidupnya. Ia memerlukan keberadaan atau bantuan orang lain – sebagai misal untuk mempertahankan keturunan (reproduksi – agar umat manusia tidak punah) maka ia membutuhkan manusia lain sebagai “pasangan”nya (suami atau istri). Oleh karena itu – mau tak mau – manusia harus membina kerjasama (membangun hubungan sosial) dengan manusia lainnya, yang pada akhirnya manusia membentuk satu kesatuan sosial (manusia sebagai mahkluk sosial). Oleh karena itu pula dalam kehidupannya, manusia hidup mengelompok sehingga ia tak hanya peduli untuk menjaga kelangsungan hidup pribadi, tetapi juga kelangsungan hidup kolektifnya.

Dengan demikian, manusia mempunyai kebutuhan hidup (dasar), yaitu kebutuhan hidup sebagai: makhluk biologi, mahkluk sosial dan mahkluk budaya atau dengan kata lain, manusia mempunyai kebutuhan biologi, sosial dan budaya untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Namun, meskipun manusia adalah mahkluk biologi-sosial-budaya, proses pemenuhan kebutuhan dalam rangka menjaga kelangsungan hidupnya, tak selamanya harus melalui kerjasama. Ketika “sesuatu” yang menjadi kebutuhan hidup, ketersediaanya tidak mencukupi (langka/terbatas) untuk mengcover semua kebutuhan dari sejumlah manusia yang memerlukannya maka yang terjadi adalah persaingan. Oleh karena itu, “sumberdaya” didefinisikan oleh para pakar sebagai “segala sesuatu” yang menjadi kebutuhan hidup – yang ketersediaannya terbatas atau langka. Konsekuensinya, ketika “sesuatu” itu ketersediaanya tidak terbatas atau berkelimpahan, manusia tidak menganggapnya sebagai “sumberdaya” – nilainya relatif terabaikan. Oleh karena itu pula, persaingan dipahami sebagai sebuah proses perjuangan untuk memperoleh sesuatu yang berharga dan jumlahnya terbatas, yang dilakukan oleh dua pelaku atau lebih (inividual atau kolektif).

 

“Persamaan-perbedaan”: “Kerjasama-persaingan” dan “Konflik” dalam Kehidupan Manusia

Berdasarkan penjelasan di atas maka dalam rangka menjaga kelangsungan hidupnya – proses pemenuhan kebutuhan – manusia harus melalui kerjasama-persaingan dengan manusia lainnya – sehingga “kerjasama-persaingan” adalah hal yang wajar (kodrat) dalam kehidupan sosial manusia. Kerjasama dan persaingan dalam kehidupan manusia sebenarnya tergantung pada masalah “ketersediaan” sumberdaya yang dibutuhkan – apakah ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan tersebut mampu memenuhi kebutuhan semua manusia yang memerlukannya atau tidak. Oleh karena itu, dalam kerjasama dan persaingan ada “aturan main” – semacam kesepakatan bersama, yang selalu dievaluasi secara bersama (rekonstruksi dan reproduksi “aturan main” secara terus-menerus).

Dengan berpegang pada kerangka pikir bahwa semua organisme mempunyai masalah mendasar/pokok yang sama, yaitu masalah kelangsungan hidup (eksistensi) maka ketika pemenuhan kebutuhan tersebut terganggu akan menimbulkan potensi konflik, sebab kelangsungan hidupnya terganggu. Dengan kata lain, bila kerjasama dan persaingan tersebut terganggu maka perselisihan atau potensi konflik pun tak dapat dihindari (jika pemenuhan kebutuhan terganggu maka kelangsungan hidupnya terganggu). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konflik sebenarnya adalah sebuah produk/hasil dari proses kerjasama-persaingan yang “terganggu” dalam kehidupan manusia. Maka secara tak langsung, dapat dikatakan pula bahwa konflik sesungguhnya tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi sebuah “proses” (“Kerjasama Dan Persaingan” –> Perselisihan –> Konflik).

Dengan demikian, konflik menjadi wajar dalam kehidupan manusia ketika masalah kerjasama-persaingan tidak dapat dikelola dengan baik (mampu menjamin keadilan subyektif semua pihak dan mampu menjamin kerjasama-persaingan sesuai “aturan main”). Tak hanya itu, dalam konflik, tujuan masing-masing pihak juga sudah berubah menjadi “kehancuran lawan” sebagai target utamanya (merasa menang jika lawannya tak berdaya/hancur). Oleh karena itu pula, dalam konflik tak ada atau mengabaikan aturan main. Dengan demikian, berdasarkan kerangka pikir ini maka bisa disimpulkan bahwa “persaingan dan konflik” adalah dua hal yang berbeda.

Demikian juga dengan masalah “konflik sebagai pengintegrasi sosial” jika konflik yang terjadi adalah dalam rangka menghadapi kesatuan sosial lain (konflik dengan masyarakat/bangsa lain), seperti Israel dan Palestina; atau Indonesia melawan Malaysia. Baik Israel mau pun Palestina atau Indonesia dan Malaysia, dengan adanya konflik di antara mereka (Israel-palestina perebutan tanah air; dan Indonesia dan Malaysia dalam perebutan hak budaya) akan memperkuat “persatuan internal” (solidaritas internal) masing-masing pihak. Berbeda jika konflik yang terjadi di dalam sebuah kesatuan sosial/masyarakat/bangsa (konflik internal atau “perang saudara”) maka yang terjadi adalah penghancuran sebuah masyarakat/bangsa – contohnya Rusia dan Yugoslavia; atau perang saudara lainnya (seperti bangsa Indonesia di jaman penjajahan Belanda). Ketika terjadi persaingan, masing-masing pihak akan mengaktifkan “persamaan dan perbedaan” untuk membangun solidaritas sosial kelompok (internal) dalam rangka memenangkan persaingan. Masing-masing pihak membangun solidaritas sosial kelompok (internal) sehingga batas-batas sosialpun menjadi tegas – kami VS mereka melalui “persamaan dan perbedaan” yang diaktifkan tersebut.  Dalam konflik sosial, identitas personal berubah menjadi identitas kolektif (identitas sosial). Dengan kata lain, konflik sosial adalah konflik antar golongan sosial – bisa atas kategori sukubangsa, keyakinan agama, ideologi dst dari para pihak yang sedang terlibat konflik. Konsekuensinya, bisa dikatakan bahwa tidak ada konflik akibat perbedaan – “sukubangsa atau keyakinan keagamaan” – tetapi konflik adalah akibat terganggunya pemenuhan kebutuhan hidup (kebutuhan biologi-sosial-budaya dalam rangka menjaga kelangsungan hidup) – terganggunya proses kerjasama dan persaingan.

Lebih jauh, perbedaan adalah kodrat. Tidak ada masyarakat yang benar-benar homogen atau tidak berstratifikasi (karena kelangkaan sumberdaya atau belum terjaminnya kesejahteraan seluruh umat manusia). Oleh karena itu, perbedaan kesejahteraan adalah hal yang wajar– tak bisa dihindari. Sebagai misal, dalam satu area pemukiman biasanya terdiri dari warga yang kaya dan miskin atau dengan status sosial yang berbeda-beda (stratifikasi sosial), tetapi mereka tidak konflik. Jika perbedaan status sosial atau kesenjangan sosial adalah penyebab konflik, maka mereka tidak akan pernah hidup bersama. Demikian halnya dengan kehidupan yang lebih luas – dunia. Dunia tidak pernah ada kedamaian hingga musnahnya umat manusia karena setiap hari harus konflik dengan sesamanya (manusia lainnya) yang berbeda. Apakah jika kita melihat ada korban kecelakaan dijalan, kita tidak bertanya dulu pada korban – “anda sukubangsa apa; atau agamanya apa?” – baru kita menolongnya; atau saat akan berbelanja ke pasar, apakah kita bertanya kepada penjual dengan pertanyaan serupa – “Ibu atau Bapak dari sukubangsa apa? Agamanya apa? – baru kita memutuskan untuk membeli barang yang kita perlukan atau tidak?

 

Justru sebaliknya, kita bekerja pada perusahaan atau institusi yang sama meski dengan latar belakang yang berbeda satu sama lain, dan tidak terjadi konflik. Kita bisa berteman dan saling bekerja sama. Jadi, sekali lagi, “kerjasama dan persaingan” adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan manusia – bukan konflik. Demikian juga bahwa perbedaan bukanlah sumber konflik, tetapi masalah “kerjasama-persaingan” dalam kehidupan manusia yang terganggu sehingga kelangsungan hidup manusia terganggu.

 

 

Referensi

 

Agusyanto, Ruddy.

1994   “Pengelompokan Sosial dan Perebutan Sumberdaya: Kasus Arek-arek Suroboyo di Jakarta”, ANALISIS. Jakarta: CSIS. Hlm: 204 – 212.

2004   “Struktur Sosial Dunia Kerja Di Perusahaan: Kasus Perusahaan TH di Gerbang Barat” (laporan hasil penelitian) dalam Konvensi Wanita di Indonesia (Sulityowati dan Archie Sudiarti, ed). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hlm, 75 – 88.

2010   FENOMENA DUNIA MENGECIL: Rahasia Jaringan Sosial. Depok: Institut Antropologi Indonesia.

2012   “Kelangsungan Hidup dan Teritori Sumberdaya”, dalam NKRI Dari Masa Ke Masa (Karsidi dkk., ed.). Bogor: Sains Press.

2013   Budaya Sontoloyo: Matahari itu berkah atau kutukan? Tropis adalah Awal dan Pusat Peradaban. Depok: Institut Antropologi Indonesia.

 

Barth, Fredrik (ed).

1969    Ethnic Groups and Boundaries: The Social Organization of Culcure Difference.. Massachusetts: Little, Brown, and Company.

 

Dahrendrof.

1959   Class and Class Conflict in Industrial Society. California: Standford University Press.

 

Haviland, William A.

1988   Antropologi, jilid 1 dan 2 (terj.). Jakarta: Penerbit Erlangga.

 

Hobbes, Thomas.

1994   Leviathan, ed Edwin Curley (Hackett, Indianapolis).

 

Kottak, Conrad Philip.

2011   Cultural Anthropology: Appreciating Cultural Diversity (International Edition). Michigan, USA: McGraw-Hill, Inc.

MacPherson, C B.

1962   The Political Theory of Possessive Individualism: From Hobbes to Locke (1962). Oxford University.

 

Marx, K dan F Engels.

1962   Selected Works in Two Volumes. (Foreign Languages). Moscow: Publishing House.

1976   Communist Manifesto. York: Pantheon.

 

Maximoff, G. P.

1953   “Introduction to The Political Philosophy of Bakunin” (a comprehensive selection from the writings of Marx’s great historical rival, compile and edited by G. P. Maximoff), London, 1953, pp. 17 – 27.

 

Suparlan, Parsudi.

2007      Hubungan Antar Sukubangsa. Jakarta: Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.

 

Sumber Internet:

Agusyanto, Ruddy (2012) KAMPUNG JAWA TONDANO: Politik Identitas Santri-Jawa, https://pajsindonesia.wordpress.com/2012/08/22/kampung-jawa-tondano-politik-identitas-santri-jawa/

 

Khatry, Prem K (1984) From Hunting-Gathering to Food Production: A Brief Look on Impact of Early Man’s Shift to Farming dalam Himalaya.sosanth.com.oc.uk/collection/journal/ancientnepal/pdf/ancient_nepal_84_02.pdf

* Pengajar di Antropologi, Fisip-UI dan PTIK; PAJS; IAI.

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s