BUDAYA SONTOLOYO MASYARAKAT TROPIS* (resensi buku)

FORUM Keadilan: No. 01, 04 MEI 2014

 

 

BUDAYA SONTOLOYO

MASYARAKAT TROPIS*

(resensi buku)

Image

 

Buku yang membahas hal-ihwal kebudayaan sudah banyak diterbitkan selama ini. Tapi buku ini lain dari yang lain, karena buku ini berupaya menjelaskan kaitan antara kebudayaan dengan karakteristik suatu masyarakat di daerah tropis dan non-tropis serta mengelaborasinya dengan keadilan, kemakmuran, kerjasama sebagai nilai-nilai yang terwujud di dalam kehidupan masyarakat tersebut, atau sebaliknya dengan dominasi, saling menaklukkan, dan diskriminasi demi mempertahankan kelangsungan hidup.

 

Buku ini terdiri dari tujuh bab, dilengkapi dengan kepustakaan, indeks dan biodata penulisnya. Buku ini banyak membahas teori dan konsep penting dalam antropologi, terutama yang erat kaitannya dengan alam, sumberdaya alam dan perkembangan peradaban masyarakat. Namun, buku ini bukanlah sebuah buku teks antropologi, karena fokusnya hanya beberapa hal berikut: 1) mengapa daerah yang benar-benar subur (yang disebut sebagai surga) disimpulkan sebagai awal dan pusat peradaban manusia; 2) mengapa masyarakat yang teritori geografisnya berkelimpahan (subur dan kaya sumberdaya energi/pangan), kehidupannya justru tidak sejahtera, sementara masyarakat yang teritorinya “miskin” justru hidup lebih sejahtera.

 

Pembahasan buku ini, dari bab ke bab, berfokus pada tema “matahari dan esensi kehidupan”. Intinya, wilayah yang mendapat sinar matahari secara berlimpah niscaya menjadi sebuah daerah tropis yang subur, indah dan menarik sehingga kerap disebut “surga”. Semua kebutuhan energi/sumberdaya pangan tersedia berlimpah di sana, sehingga kehidupan masyarakatnya pun niscaya harmonis didasarkan prinsip saling kerjasama tanpa harus saling berebut. Di sana benar-benar ada damai dan sejahtera bak kehidupan di surga. Sebaliknya, daerah non-tropis yang sering mengalami krisis pangan menuntut manusia harus bekerja keras dan saling berebut dikarenakan langkanya sumberdaya energi/pangan. Tujuannya, tentu saja demi mempertahankan kehidupan dan terhindar dari ancaman kepunahan absolute (kematian biologis). Itulah yang kelak menyebabkan terjadinya persaingan dan memunculkan prinsip survival of the fittest di tengah kehidupan bersama.

 

Pada bab enam baru Nampak ada tema baru yang secara signifikan berbeda pembahasannya dengan tema-tema sebelumnya, yakni tentang Negara dan belief system, organisasi politik dan pengendalian sosial. Intinya, bab ini membahas tentang pentingnya Negara membangun sebuah sistem berikut pranata-pranata dan mekanisme-mekanismenya yang operasional dan efektif di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Itulah yang disebut belief system dan pengendalian sosial. Artinya, untuk dapat mempertahankan keteraturan dan ketertiban sosial, diperlukan sebuah kekuatan (power) untuk membuat semua anggota masyarakat itu selalu patuh pada kebijakan umum. Namun, kekuatan seperti itu cenderung bersifat memaksa dan mengancam, sehingga kerap menghasilkan konflik dan kekerasan.

 

Itulah kontrol eksternal, yang seiring waktu selalu ditambahkan demi menjaga efektivitasnya kepada masyarakat. Namun, kekuatan pengendalian sosial seperti ini cenderung lebih berdampak buruk karena tidak menumbuhkan kesadaran masyarakat akan perlunya pengendalian sosial dari dalam. Atas dasar itu maka yang harus ditumbuhkan adalah kontrol internal, dari dalam diri sendiri dan secara individual, sehingga masyarakat bersepakat untuk memelihara ketertiban dan keteraturan sosial bukan karena ancaman kekerasan dan paksaan, tetapi karena kerelaan. Itulah belief system yang ideal.

 

Buku ini bermanfaat untuk dibaca, walaupun tak mudah untuk dicerna. Penulis buku ini, Ruddy Agusyanto, dosen beberapa mata kuliah dalam disiplin antropologi di beberapa perguruan tinggi, mampu mendeskripsikan dinamika geografis dan klimatologis dari masyarakat tropis maupun non-tropis secara cerdas, sehingga terbangun suatu analisis tentang karakter dan tipologi kultural keduanya yang kontradiktif.

 

Ruddy Agusyanto pada halaman pengantar buku ini justru bertanya, mengapa pada kenyataannya masyarakat di daerah tropis yang berlimpah sumberdaya energi/pangan justru lebih banyak yang didominasi oleh masyarakat daerah non-tropis yang kerap mengalami “krisis pangan”? apakah lantaran mereka tak mampu memanfaatkan berkah sinar matahari yang selalu bersinar sepanjang tahun di teritorinya? Mengapa masyarakat non-tropis justru berhasil memonopoli kekayaan alam masyarakat tropis itu, dan mereka melakukannya tanpa memikirkan nasib pemilik kekayaan alam yang dikuasainya? Inilah situasi yang disebut sontoloyo.

 

 

* Victor Silaen

Peresensi adalah Dosen FISIP Universitas Pelita Harapan

 

 

Judul                  : Budaya Sontoloyo: Matahari itu Berkah atau Kutukan? Tropis adalah Awal dan Pusat Peradaban

Penulis                : Ruddy Agusyanto

Penerbit              : institute antropologi Indonesia, Jakarta

Edisi                   : pertama, 2013

Tebal Buku         : x + 325 halaman

 

Bisa diperoleh di:

– Gramedia (jabodetabek)

– Cak Tarno, Kober – Depok (08174967203

Atau Pesan ke:

Contact persons (SMS):

  • Emond: 0818773245
  • Reza: 08561454435
  • Ochi: 082110200099

 

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s