Lingkungan Alam Tropis dan Peradaban Manusia

Lingkungan Alam Tropis dan Peradaban Manusia

Ruddy Agusyanto 
Direktur Operasional di Pusat Analisa Jaringan Sosial (PAJS) dan Institut Antropologi Indonesia (IAI)

 

 

“Man has, in all circumstances, tried to adapt his environments. He has always managed to procure food from the surrounding resources and developed as adequate knowledge about the resources as well as the technical means to exploit them for his survival”.

(Khatry, From Hunting-Gathering to Food Production: A Brief Look on Impact of Early Man’s Shift to Farming 1984).

 

Tak dapat dipungkiri bahwa manusia beradaptasi secara sosial-budaya untuk memelihara dan menjaga kelangsungan hidupnya sehingga umat manusia tetap eksis (tidak punah) sampai hari ini. Manusia Eskimo tidak berupaya menebalkan kulit atau menumbuhkan rambut yang lebat agar mampu mempertahankan kehidupannya di sana, tetapi berupaya menemukan api, membuat rumah dari bongkahan es (iglo), atau membuat baju dari kulit binatang (binatang yang hidup di sana umumnya mempunyai kulit yang tebal atau berbulu lebat). Dengan kata lain, dalam menjalani kehidupannya, secara langsung ataupun tak langsung, manusia dituntut untuk mengembangkan pedoman-pedoman hidup tentang: 

(1) Bagaimana memahami dan memanfaatkan lingkungannya (baik lingkungan biotik dan abiotik) – bagaimana memperoleh dan menentukan jenis makanan, cara mengelola, cara makan, menghadapi ancaman dan seterusnya;

(2) Bagaimana agar sumber pangan/energi itu selalu cukup tersedia sehingga manusia mempunyaijaminan atas kelangsungan hidupnya ke depan.Manusia memang berbeda dengan organisma atau mahkluk hidup lainnya, seperti flora dan fauna yang berdaptasi secara biologi. Oleh karena itu pula sudah banyak jenis flora dan fauna yang punah pada hari ini.

Dengan demikian, tidaklah keliru jika kebudayaan Indonesia mengenal hampir 200 kategori umbi-umbian atau mempunyai beragam kategori makanan olahan yang berasal dari umbi-umbian (getuk, kue talam, lupis, gemblong, kolak, timus, ongol-ongol, lemet, dan sebagainya). Demikian juga dengan kebudayaan Eskimo, pastinya mengenal beragam kategori jenis es, warna putih, atau hal-hal yang berkaitan dengan cuaca ekstrim dingin.

Artinya, kita tidak akan pernah “berimajinasi” atau mengembangkan pengetahuan apapun tentang “sesuatu”, jika kita tidak pernah melihat “sesuatu” tersebut. Kita tidak mungkin mengembangkan pengetahuan atau penciptaan suatu alat yang kita butuhkan – yang ada unsur bambunya – jika sepanjang hidup kita tidak pernah melihat pohon “bambu”.

Namun, lingkungan alam pun juga dinamis atau mengalami perubahan. Binatang dan tumbuh-tumbuhan juga mempertahankan kelangsungan hidupnya, dalam arti harus makan dan minum serta bereproduksi juga seperti manusia. Demikian halnya dengan lingkungan abiotik. Ulah manusia dalam menjalani kehidupannya mempengaruhi lingkungan abiotik dan sebaliknya.

Jadi, adaptasi yang diperlukan adalah mengacu pada proses interaksi antara perubahan-perubahan yang ditimbulkan oleh organisma pada lingkungan alamnya, dan perubahan-perubahan yang ditimbulkan oleh lingkungan alam pada organisma (termasuk perubahan yang ditimbulkan oleh organisma pada organisma lain) – saling mempengaruhi secara timbal-balik. Kerangka pikir atau perspektif “adaptasi timbal-balik” yang dinamis seperti inilah sangat diperlukan agar manusia mampu bertahan hidup atau menjaga kelangsungan hidup pribadi dan “kelompok”nya. Singkatnya, manusia dituntut harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya di mana mereka hidup, yang juga selalu dinamis.

Sementara itu, dari sisi lingkungan alam, belahan bumi yang beriklim tropis mempunyai keberagaman biotik dan abiotik yang luar biasa, seperti apa yang disampaikan oleh banyak ahli dari berbagai bidang disiplin, yang intinya bahwa “In general, as one moves from colder to warmer areas, there is an increase in the number of species. The tropics contain tremendous biodiversity, a great variety of plant and animal species, many of which have been used by human beings…” 

Kembali pada masalah hubungan antara lingkungan alam (biotik dan abiotik) dan pengetahuan atau pedoman-pedoman hidup manusia, kenyataan ini mendorong kita untuk berpikir lebih jauh atas hubungan “kedua hal” tersebut. Fakta ini, secara tak langsung memberitahukan bahwa “keberagaman lingkungan alam tropis akan berbanding lurus dengan keberagaman pengetahuan manusia yang hidup dan tinggal di sana”.

Misalnya, hasil penelitian dari tokoh antropologi – Geertz (Involusi Pertanian, Proses Perubahan Ekologi di Indonesia, 1983) – bahwa orang Indonesia sudah mengenal pertanian sebelum masehi. Ia mengatakan “Kondisi geografis dan geologis serta tersedianya sumber-sumber bahan untuk keperluan pertanian menyebabkan pertanian sudah dikenal di Indonesia sejak masa sebelum Masehi.”

Demikian juga dengan Oppenheimer mengenai budaya menanam padi/bersawah (Surga di Timur: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara, 2010). Ia menduga datangnya justru dari Asia Tenggara, bukan dari Tiongkok. Dugaan ini diperkuat oleh penemuan seorang arkeolog Thailand yang menemukan butir beras berhubungan dengan artefak tembikar di Gua Sakai, Thailand. Umurnya ditaksir 9.000 tahun yang lalu.

Sedangkan, situs arkeologi terkait penanaman padi yang ada di tepi sungai Yangtze di Tiongkok usianya baru sekitar 7.000 tahun yang lalu, atau lebih muda sekitar 2.000 tahun dari situs yang ada di Thailand. Untuk memperkuat pendapatnya, Oppenheimer juga mengelaborasi pendapat sejumlah ilmuwan lain dan dihubungkan dengan temuan arkeologi – berupa beras di dalam tembikar – sehingga ia menyimpulkan bahwa masyarakat Asia Tenggara lebih memungkinkan untuk membudidayakan padi dari pada orang Tiongkok, karena Asia Tenggara berada di iklim tropis.

Menurut penulis, pandangan Oppenheimer tersebut lebih masuk akal ketimbang pendapat lainnya. Oleh karena itu pula, tidaklah mengherankan jika pengetahuan tentang “konservasi” masyarakat tropis berusia lebih tua dari masyarakat “non-tropis” (subtropis, sedang dan ekstrim dingin/kutub).

Konsep etno-konservasi “Nyepi” – misalnya – di mana seluruh warga Bali dilarang menyalakan “api” (termasuk memasak dengan menggunakan api, tidak boleh menyalakan lampu), sudah dilakukan oleh masyarakat Bali hampir 2.000 tahun yang lalu.

Sementara WWF menghimbau pada hari penyelamatan bumi untuk mematikan listrik satu jam kepada dunia, baru tahun yang kedua. Hal ini membuka “mata” kita,  di mana selama ini masyarakat Bali yang dianggap masyarakat “tradisional”, ternyata memiliki konsep etno-konservasi jauh “lebih modern” dari WWF.

Berdasarkan hal ini pula, penulis berpendapat bahwa revolusi industri sejatinya bukanlah akibat “perkembangan ilmu pengetahuan” sebagai faktor utama, tetapi “ketersediaan bahan baku industri atau sumberdaya alam” sebab Inggris saat itu mempunyai wilayah jajahan hampir 100 wilayah yang kaya akan sumberdaya alam. Itu juga yang menjelaskan mengapa revolusi industri dipelopori oleh Inggris – bukan oleh Perancis.

Selain masalah keterkaitan antara lingkungan alam dan pengetahuan, yang juga penting bagi kelangsungan hidup manusia adalah masalah “daya dukung” lingkungan alam (derajat keberagaman dan ketersediaannya) terhadap pola hidup dan lahirnya peradaban. Jika kita merujuk pada derajat keberagaman lingkungan alam, maka tak dapat disangkal lagi bahwa belahan bumi yang mempunyai daya dukung lingkungan alam yang paling memadai adalah belahan bumi yang beriklim tropis.

Oleh sebab itu pula, daya dukung lingkungan alam tropis ini membuat masyarakatnya sejak jaman berburu-meramu mampu hidup subsisten. Artinya, mampu menjaga kelangsungan hidupnya dengan hanya mengandalkan teritori di mana mereka tinggal; seperti yang dinyatakan oleh seorang Antropolog (Kottak, Cultural Anthropology: Appreciating Cultural Diversity, 2011), dari hasil penelitiannya pada masyarakat yang hidup di lingkungan alam yang mempunyai daya dukung memadai,

“People rely on available natural resources for their subsistence, rather than controlling the reproduction of plants and animals”.

Sayangnya, banyak ilmuwan sosial kurang tepat memahami kehidupan subsisten ini. Mereka memahaminya sebatas “kegiatan ekonomi” atau sebagai bagian dari kategori “mata pencaharian”. Ketika mereka lapar, mereka tinggal memetik atau mengambilnya untuk dimakan. Ini adalah kegiatan makan seperti kita pergi makan ke warung Tegal ketika lapar.

Jelas bahwa pola hidup subsiten adalah way of life – bukan bagian dari sistem mata pencaharian hidup atau sebuah kegiatan ekonomi. Lingkungan alam di mana mereka tinggal adalah gudang energi/pangan mereka (berkelimpahan), sehingga mereka mampu menjaga kelangsungan hidupnya dengan hanya mengandalkan apa yang tersedia di teritori di mana mereka tinggal.

Berbeda dengan mereka yang tinggal di wilayah non-tropis. Mereka tidak mungkin bisa mengandalkan hanya pada sumberdaya energi/pangan (sumberdaya alam) yang tersedia di teritori geografisnya. Mereka perlu untuk mengumpulkan energi/pangan (kegiatan ini tidak tergantung apakah mereka sedang merasa lapar atau tidak lapar).

Umumnya, dalam kegiatan pengumpulan pangan/energi ini, mereka cenderung mengumpulkan lebih dari volume yang mereka butuhkan pada saat itu, sebagai cadangan energi/pangan, karena ada musim-musim tertentu mereka tidak dapat melakukan kegiatan pengumpulan energi/pangan; juga untuk kepentingan barter dengan masyarakat di luar teritori geografisnya (yang tak bisa dipenuhinya dari sumberdaya alam yang ada di teritori geografisnya). Kondisi ini sebenarnya juga dapat menjelaskan mengapa mereka (non-tropis) berorientasi “surplus” atau “eksploitasi” dan selalu mencari “akses” sumberdaya energi/pangan di luar teritori geografisnya.

Hal lain yang juga perlu diluruskan dari kehidupan subsisten adalah pola hidup seperti hidup di “surga” (budaya surga – semua yang diperlukan tersedia dan bisa dinikmati tanpa harus bekerja). Ketidakpahaman ini menyebabkan pola hidup masyarakat tersebut sering dilabel sebagai “pemalas”, meski pun sudah banyak ilmuwan atau peneliti mempelajari masyarakat-masyarakat yang hidup di teritori geografis yang mempunyai daya dukung memadai (seperti kehidupan di daerah-daerah tropis).

Sama halnya dengan kebingungan untuk memahami “mengapa banyak program tentang idea of food production sulit diterima oleh masyarakat-masyarakat yang hidup di lingkungan alam yang berkelimpahan – In many areas, foragers had been exposed to the “idea” of food production but never adopted it because their own economies provided a perfectly adequate and nutritious diet—with a lot less work (Kottak, 2011).

Selanjutnya, konsekuensi lainnya dari masalah daya dukung lingkungan alam adalah masalah kesanggupan mereka untuk hidup menetap atau tidak. Manusia akan memilih untuk tinggal menetap jika teritori geografisnya mampu menyediakan sumberdaya kehidupan.

Sebaliknya, mereka yang hidup dan tinggal di daerah-daerah sering mengalami krisis energi/pangan akan seringkali harus mobile atau migrasi. Apalagi bagi mereka yang berada pada teritori geografis yang miskin sumberdaya energi/pangan, tentu saja mereka akan selalu bersifat nomad.

Pilihan lain adalah membangun akses  dengan masyarakat-masyarakat lain yang mampu menyediakan sumber-sumber kehidupan yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup kolektifnya (baik dengan cara kerjasama, barter, atau pun “menjajah”). Kondisi ini juga menjelaskan “mengapa sepanjang sejarah, sejak manusia purba, selalu mobile mengikuti pergerakan binatang buruannya (yang menjadi sumber energi/pangan mereka)”, di mana binatang-binatang tersebut dalam pergerakannya juga selalu mencari sumber-sumber air (sungai atau danau) karena air merupakan “tanda kehidupan” atau terdapatnya sebuah ekosistem “kehidupan berkelanjutan”.

Sedangkan ketersediaan air (tawar) adanya di tempat-tempat yang mempunyai suhu udara ideal – terlalu dingin akan membeku dan jika terlalu panas akan menguap. Artinya, sejak jaman manusia purba, manusia bergerak menuju wilayah-wilayah tropis, seperti yang ditunjukan oleh Widianto (Sangiran Research Report: The research about early man, culture, and their environment, 1996) bahwa manusia purba jenis homo erectus yang ditemukan di wilayah Sangiran sekitar lebih dari 100 individu yang mengalami masa evolusi tidak kurang dari 1 juta tahun.

Jumlah ini mewakili 65% dari jumlah seluruh fosil manusia purba yang pernah ditemukan di wilayah Indonesia dan merupakan 50% dari jumlah fosil sejenis yang ditemukan di dunia (padahal ini hanya merujuk pada temuan Sangiran, atau belum termasuk temuan-temuan di daerah-daerah tropis lainnya).

Akhir kata, berdasarkan uraian-uraian di atas sebelumnya dan kenyataan bahwa pola hidup menetap lebih dimungkinkan terjadi pada masyarakat tropis ketimbang masyarakat non-tropis, maka dapat disimpulkan bahwa peradaban manusia sudah seharusnya dimulai dari masyarakat tropis dan bukan sebaliknya. Bagaimana mungkin masyarakat yang selalu mobile atau nomad sempat berpikir untuk membuat rumah tinggal permanen dengan segala ornamennya, apalagi membentuk pemukiman seperti desa dan mengembangkan budaya pertanian, organisasi sosial dan seterusnya – membangun peradaban?

https://www.selasar.com/budaya/lingkungan-alam-tropis-dan-peradaban-manusia

 

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s