Jalesveva Jayamahe: Tropis dan Dikotomi Budaya Daratan-Air

Ruddy Agusyanto

Direktur Operasional di Pusat Analisa Jaringan Sosial (PAJS) dan Institut Antropologi Indonesia (IAI)
Saatnya kita mengembalikan kejayaan laut tanpa mengabaikan pula kejayaan darat kita

Jalesveva Jayamahe – “di air-airlah kita jaya”.

Ini merupakan semboyan TNI-AL yang diterjemahkan menjadi “di lautan kita jaya”. Ketika semboyan ini diucapkan oleh Presiden Jokowi, “Jalesveva Jayamahe … Kita telah lama memunggungi samudra, laut, selat, dan teluk. Maka, mulai hari ini, kita kembalikan kejayaan nenek moyang sebagai pelaut pemberani. Menghadapi badai dan gelombang di atas kapal bernama Republik Indonesia.”

Pidato tersebut bukan bermaksud bahwa selama ini negara lupa akan keberadaan TNI-AL, tetapi lebih pada tujuan untuk mengingatkan kembali jika kita semua telah mengalami amnesia budaya – lupa akan “asal-usul dan pedoman hidup (budaya-air)” sebagai bangsa-air (bangsa pelaut).

 

Dikotomi Budaya Daratan-Air
Sejak jaman manusia purba, manusia terus bergerak mengikuti pergerakan binatang buruannya yang selalu mencari keberadaan sumber air. Oleh karenanya, pusat kehidupan tak jauh atau berada di sekitar sumber air.

Air itu sendiri tetap berada dalam wujudnya yang cair jika berada pada suhu udara yang ideal. Pada suhu udara yang terlalu dingin, ia akan membeku. Sebaliknya, jika terlalu panas akan menguap. Berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa sejak jaman manusia purba, manusia bergerak menuju tropis.

Dengan suhu udara yang ideal bagi keberadaan air, membuat wilayah yang beriklim tropis kaya akan sungai dan danau (gudang air), sehingga sangatlah wajar bila pada jaman dulu (ratusan atau ribuan tahun yang lalu) transportasi air menjadi prasarana transportasi utama leluhur tropis.

Mereka membangun hunian – rumah panggung – di sisi kanan-kiri sepanjang sungai dan anak sungai, sehingga masing-masing hunian terkoneksi satu sama lain oleh sungai atau anak sungai tersebut. Demikian pula satu daratan dengan daratan lainnya, terkoneksi oleh air atau laut. Bahkan, bisa dibilang pedoman-pedoman hidup yang mereka bangun merupakan hasil adaptasi atas kesadaran geografinya sebagai daerah gudang-air.

Budaya-air ini juga bisa kita lihat pada jaman kejayaan kerajaan di Indonesia, seperti kerajaan Sriwijaya atau Majapahit. Infrastruktur darat masih sangat minim saat itu. Jika mereka tidak berorientasi pada budaya-air – armada air (sungai dan laut), bagaimana mungkin mereka mampu mengatur atau mengelola wilayah kedaulatannya yang begitu luas dan mencakup banyak pulau.

Namun yang perlu sedikit diluruskan adalah, budaya-air tidak identik dengan transportasi atau armada-air, karena ini hanyalah bagian dari budaya-air. Budaya-air adalah pedoman-pedoman hidup yang dibangun sebagai respon adaptif atas lingkungan geografis di mana mereka hidup dan tinggal di wilayah gudang-air.

Jauh sebelum jaman kolonialisme, Pulau Jawa memiliki beberapa syahbandar besar dengan armada lautnya (pelabuhan Banten misalnya). Bandar tersebut juga dikenal sebagai lumbung padi atau penghasil lada dan karet. Namun semua itu (budaya-air) berangsur-angsur menghilang dalam perjalanan waktu.

Berpijak pada kenyataan bahwa “tropis adalah pusat kehidupan”, maka sebaliknya daerah-daerah yang bukan merupakan daerah gudang-air bisa dikatakan cenderung relatif langka sumberdaya kehidupan (energi/pangan) dibanding bumi tropis.

Sebagai konsekuensinya, berkah tropis ini pula yang mendorong bangsa-bangsa non-tropis berbondong-bondong ekspansi menuju tropis. Tak hanya bangsa-bangsa Eropa, tetapi juga bangsa-bangsa Timur-Tengah seperti kolonisasi Arab di Afrika. Mereka saling berebut untuk menguasai daerah-daerah tropis yang kaya akan sumberdaya alam.

Negeri itu penuh dengan karet, lada, dan rempah-rempah lainnya. Selain itu Eropa juga mencium adanya emas dan batu permata yang tersimpan di perutnya. Tanah tersebut iklimnya sangat bersahabat, dan alamnya sangat indah. Wilayah inilah yang sekarang kita kenal dengan nama Nusantara. Mendengar semua kekayaan ini Eropa sangat bernafsu untuk mencari semua hal yang selama ini belum pernah didapatkannya (Huygen, Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, dalam http://ihsanhasan.wordpress.com. Huruf tebal dari penulis.)

Di era kolonialisme, Inggrislah yang tercatat paling sukses dan berhasil menguasai hampir 100 negara yang kaya akan sumberdaya alamnya, sehingga ia mampu menjadi pelopor dalam revolusi industri pada saat itu. Akibatnya, berkah tropis ini pada akhirnya tak selalu bisa dinikmati oleh penghuninya.

Salah satu dampak yang cukup signifikan dari masa kolonialisme yang berjalan dalam kurun waktu yang panjang di wilayah tropis, terutama Indonesia, adalah terkikisnya budaya-air. Banyak regulasi-regulasi yang melarang terus tumbuhnya budaya-air, seperti perjanjian-perjanjian tentang “monopoli (perdagangan) dan larangan berlayar”.

Akibatnya, masing-masing daerah atau daratan cenderung fokus pada eksistensinya masing-masing. Mereka cenderung memperkuat armada daratnya untuk mempertahankan kehidupan dirinya. Satu pulau dengan pulau lainnya menjadi terpisah – satu wilayah dengan wilayah lain dalam satu daratan juga menjadi terpisah. Semakin lama budaya-air semakin tergerus. Wilayah kedaulatan bekas masa kejayaan kedaulatan Sriwijaya atau Majapahit, satu sama lain menjadi terpisah-pisah. Sejak itulah terjadi penguatan budaya-daratan dan mengabaikan budaya-air.

Ketika para pendiri bangsa ingin mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, timbullah kesadaran untuk mulai menelusuri perjalanan sejarah, persamaan nasib, dan persamaan budaya – mengidentifikasi kembali wilayah kedaulatan yang pernah dibangun pada jaman kerajaan seperti Sriwijaya, Majapahit, Bone, dan Tidore – untuk membangun wilayah kedaulatan Indonesia.

Disinilah lahir kembali kesadaran bahwa Indonesia adalah “Negara Kepulauan”. Daratan yang satu dengan daratan yang lain adalah satu kesatuan, dan semua itu terkoneksi oleh air. Air adalah “pengikat” wilayah kedaulatan negara dan warganya sebagai satu bangsa.

Sayang, sejak terkikisnya budaya-air telah terjadi dikotomi daratan-air/laut, seakan-akan kita harus memilih – apakah kita ini bangsa-daratan atau bangsa-air/laut. Pertentangan ini terepresentasikan dalam pengkategorian atau pemilahan masyarakat Indonesia, ada sukubangsa/masyarakat daratan dan sukubangsa laut/kepulauan.

Hanya saja, orientasi negara selama ini lebih berfokus pada daratan – yaitu sebagai Negara Agraris – sehingga banyak kebijakan sering tidak relevan dan cenderung merugikan masyarakat laut/kepulauan.

Kesadaran sebagai “Negara Kepulauan” mulai muncul kembali ketika Deklarasi Juanda pada 13 Desember 1957. Sayangnya, paradigma “negara-daratan” masih begitu kuat dalam mindset para pengelola negara. Hal ini terlihat tidak hanya dalam mengelola pertahanan dan keamanan negara, tetapi juga dalam berbagai bidang kehidupan lainnya, sehingga keunggulan potensi-air/laut kita tetap terabaikan dan masyarakat-laut/kepulauan tertinggal dalam program-program pembangunan dari saudaranya yang masyarakat-daratan.

Dalam perjalanan waktu, akhirnya baru-baru ini muncul kembali wacana bahwa kita sebenarnya adalah “Negara Maritim” (Bangsa Pelaut), sehingga presiden baru kita membangun visi Maritim (dengan konsep tol lautnya).

Dikotomi “daratan-air” ini sebenarnya tak harus terjadi. Kesadaran bahwa kita hidup di bumi tropis haruslah menjadi pijakan. Oleh karena itu kita perlu kembali menanamkan kesadaran “pola pikir kepulauan” – budaya-air. Kesadaran geografi ini sangat penting untuk mengelola dan membangun NKRI, sehingga tidak mengabaikan potensi daratan, air dan lautan – sebagai Negara Kepulauan.

Semoga pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla kali ini tidak terjebak kembali kedalam dikotomi budaya-air/laut atau budaya-daratan. Masyarakat Nusantara dulu dikenal sebagai “pelaut ulung”, tetapi juga sebagai “petani sukses” (penghasil lada, karet, padi). Nusantara adalah agraris dan sekaligus maritim, itulah “Negara Kepulauan” – bukan “Negara Pulau-Pulau”.

https://www.selasar.com/budaya/jalesveva-jayamahe-tropis-dan-dikotomi-budaya-daratanair

Tentang pajs indonesia

Antropogist Paradigma Jaringan Sosial Kualitatif-Konstruktivis
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s