jaringan hoax

Pentingnya Berpikir ‘Jaringan’ di Era Berita Tipu-tipu

OPINI

 

Ruddy Agusyanto, CNN Indonesia | Kamis, 21/12/2017 11:04 WIB

Bagikan :

llustrasi berita hoax. (Thinkstock/Emapoket)

Jakarta, CNN Indonesia — Sejak dulu, semua orang adalah sumber berita bagi anggota-anggota jaringan hubungan sosial tempat ia berada, layaknya sumber-sumber berita media arus utama seperti media cetak atau elektronik.

Hal ini bukan fenomena baru.

Sejak dahulu juga kita mengenal adanya jaringan ngerumpi, atau jaringan gosip. Bila sebuah isu sudah masuk ke dalam jaringan rumpi ini, maka tak butuh waktu lama hingga berubah menjadi hot issue, atau berita viral.

Isu hangat ini juga kemudian menyebar pada jaringan-jaringan hubungan yang bertautan dengan jaringan rumpi tersebut.

Berita “X”, yang tentunya merupakan berita yang menarik bagi seseorang, akan diteruskan kepada temannya (alter), yang selanjutnya akan diteruskan oleh teman tersebut kepada temannya lagi (temannya teman).

Berita kemudian terus beredar melalui jaringan hubungan perorangan. Menyebar sepanjang jaringan hubungan sosial. Pada akhirnya, meluas hingga jadi viral.

Fenomena viralnya sebuah berita melalui jaringan hubungan sosial ini bisa dijelaskan melalui eksperimen “surat berantai” enam langkah Milgram tahun 1967. Ia menyebut, berita bisa menjangkau siapa saja di pelosok bumi ini hanya melalui enam hubungan pertemanan.

Namun fenomena viralnya sebuah berita di era digital ini bisa menimbulkan persoalan tersendiri.

Era digital membuat konteks-konteks kehidupan terus berkembang, dan ia semakin terkoneksi dengan berbagai hubungan sosial yang sangat kompleks.

Selain itu, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang luar biasa pesat membuat berita tak harus menunggu disebarkan sepanjang enam alter lagi untuk jadi viral. Cukup melalui dua atau tiga alter (Agusyanto, Fenomena Dunia Mengecil, 2010).

Artinya, ada perbedaan kecepatan persebaran berita sebagai akibat dari kompleksitas konteks kehidupan dan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.

Oleh karenanya, tidak perlu heran saat ini berita sangat mudah ‘menarik perhatian’, terlepas dari baik atau buruknya berita tersebut. Berita pun bisa menjadi viral dalam hitungan menit, atau bahkan detik.

Sumber berita perorangan dengan kecepatan yang luar biasa ini –dalam  kesegeraan dan keserempakan (era digital)—membuat banyak orang menjadi gagap. Salah satu dampaknya adalah maraknya berita hoax.

Ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi.

Pertama, sedari awal peradaban, manusia adalah sumber berita bagi manusia lain. Manusia tidak tahan menyimpan informasi dalam dirinya terlalu lama. Ia ingin berbagi pada orang lain, atau pada mereka-mereka yang akrab dengan dirinya.

Kedua, adalah masalah kecepatan dan keserentakan penyebaran, sebagai akibat dari semakin kompleksnya konteks kehidupan manusia dan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi. Hal ini membuat banyak orang ingin sesegera mungkin pula menyebarkan berita kepada para alternya.

Selain itu, sifat kesegeraan dan keserempakan itu juga menyebabkan orang-orang sering kali menyebarkan berita tanpa diperiksa dahulu kebenarannya. Tak ayal, berita hoax pun sangat cepat jadi viral.

Media Tak Lagi Dipercaya

Konsekuensinya, media-media mainstream dan pemerintah tak lagi jadi satu-satunya sumber informasi yang layak dipercaya. Kebenaran suatu berita juga menjadi semakin sulit untuk diperiksa.

Hal ini memunculkan kebingungan masyarakat soal sumber berita yang layak dipercaya. Apakah sumber berita media mainstream, pemerintah, atau sumber berita lain?

Akhirnya masyarakat jadi mudah terhasut atau terprovokasi dan kepercayaan pada pemerintah juga terus tergerus.

Kenyataannya, marak berita hoax atau berita anti-pemerintah juga sukar dibendung oleh pemerintah itu sendiri, termasuk media arus utama.

Bukan berarti pemerintah atau media arus utama tidak berupaya meluruskan berita-berita hoax tersebut. Hanya saja, kedua pihak tidak pernah bisa menembus ke komunitas hoax, karena mereka adalah satu jaringan tersendiri yang berbeda dari jaringan lainnya.

Selain itu, pemerintah juga hanya menyebarkan informasi balasan ke jaringan publik secara acak. Hal ini menyebabkan informasi yang benar tidak pernah sampai pada jaringan hoax. Kalaupun sampai, pelurusan informasi tidak dipercaya oleh mereka.

Sumber informasi media arus utama dan pemerintah, bukanlah sumber informasi jaringan hoax.

Mereka mempunyai sumber informasi sendiri. Selain itu, juga terdapat aktor-aktor kunci di sana yang berperan sebagai penjaga gawang dan penterjemah informasi yang masuk dari luar.

Dengan demikian, upaya Pemerintah di atas, tampaknya hanya mampu mencegah jaringan hoax tidak meluas, dan bukan bisa memberantasnya.

Upaya inipun sesungguhnya juga tidak menjamin akan berhasil memerangi jaringan hoax. Kecuali, jaringan hoax itu pasif atau tidak berusaha selalu memperkuat dan memperluas jaringannya.

Di sisi yang lain, era digital ini tidak hanya berpengaruh pada desentralisasi sumber informasi, tetapi telah melanda hampir semua sendi kehidupan.

Banyak bisnis ritel besar atau menengah satu persatu berjatuhan tergantikan oleh toko-toko daring yang berbasis internet atau aplikasi. Misalnya saja Tokopedia atau Bukalapak. Demikian juga perusahaan taksi offline yang juga tergantikan oleh taksi daring.

Hal ini menimbulkan kesan seolah-olah terjadi penurunan daya beli masyarakat yang drastis.

Perubahan-perubahan itu juga semakin menambah kaya bahan informasi yang bisa diolah menjadi berita hoax. Selain itu juga bisa memperluas atau memperbesar jaringan hoax atau jaringan anti-Pemerintah.

Tetapi perlu digarisbawahi bahwa teknologi sesungguhnya hanyalah sarana. Ia tidak dapat mengambil keputusan atas bertindak. Ia hanya memudahkan dan menyempurnakannya.

Keputusan tetap ada di tangan manusia.

Tak Semua Negatif

Satu hal lain yang perlu ditekankan adalah tak semua efek jejaring sosial ini negatif. Jaringan sosial memang bisa merugikan seperti kasus maraknya berita hoax di atas, tetapi juga bisa menguntungkan seperti gerakan donasi yang bisa dengan cepat menyebar dan mampu menggerakkan aksi masyarakat luas.

Yang pasti, kita tidak mungkin bisa menghindarinya. Di manapun kita tinggal dan hidup, kita membentuk jaringan sosial.

Manusia sebagai makhluk sosial selalu membina hubungan sosial dengan manusia lain. Entah itu membentuk pasangan yang akrab, dan kita akhirnya menjadi bagian dari jaringan sosial itu sendiri.

Selanjutnya, secara bersamaan pula, jaringan sosial itu menghasilkan aturan-norma-hukum yang menjadi pedoman kita untuk bertindak-bersikap-berperilaku. Pada akhirnya, hal itu juga yang mempengaruhi, membatasi dan membentuk diri kita.

Jadi, masalahnya adalah terletak pada bagaimana kita memahami dan bisa menyikapi jaringan sosial dengan bijak.

Selain itu, jaringan hoax ini, tidak hanya menyasar pada persolan prestasi kerja pemerintah saja. Program-program pembangunan juga mereka tolak dan diputar balik oleh tokoh-tokoh kunci yang ada di sana.

Dengan demikian, dalam hal ini pemerintah perlu paham tentang jaringan mereka dan aturan-aturan main yang berlaku di sana. Informasi seperti apa yang bisa diterima, bagaimana caranya, dan harus melalui siapa untuk bisa menembus jaringan hoax tersebut.

Namun pemahaman itu ada baiknya tak hanya dimiliki pemerintah, tapi juga kita sebagai masyarakat yang juga berpotensi jadi korban hoax. Mulai kenalilah apa itu jaringan sosial, bagaimana terbentuknya, dan apa rahasianya. (vws)

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20171220140854-186-263734/pentingnya-berpikir-jaringan-di-era-berita-tipu-tipu

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kegamangan ala ‘Raksasa’ Bisnis Online Tanah Air

Kegamangan ala ‘Raksasa’ Bisnis Online Tanah Air
Ruddy Agusyanto, CNN Indonesia | Senin, 13/11/2017 09:29 WIB
Bagikan :
Ilustrasi online shopping. (Thinkstock/Ridofranz).

Jakarta, CNN Indonesia — Dunia online, memang secara prinsip tak berbeda dengan dunia offline. Ini terdiri dari orang-orang juga—yang diwakili oleh akun-akun dan saling berhubungan satu sama lain.

Memang, teknologi hanyalah sarana, ia tidak dapat mengambil keputusan atas tindakan-sikap-perilaku, ia hanya memudahkan dan menyempurnakannya. Manusia yang mengambil keputusan.

Tapi, oleh karena sifat kesegeraan dan keserentakan teknologi informasi dan komunikasi, membuat dunia online mempunyai karakter yang berbeda dengan dunia offline.

Sejalan dengan dahsyatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini , kejadian di belahan bumi mana pun, kita bisa saksikan dalam waktu bersamaan. Kita bisa berinteraksi dengan siapa pun di belahan bumi ini dalam hitungan detik.

Kondisi ini, akhirnya mempengaruhi atau merubah hampir semua sendi kehidupan.

Semuanya mengarah menuju pada dunia online. Berbagai layanan publik saat ini sudah bergerak menuju layanan online. Dunia bisnis pun tak luput dari imbas teknologi informasi dan komunikasi ini, sehingga banyak bisnis ritel seperti Matahari, hingga Ramayana tergeser oleh toko-toko online seperti Bukalapak, Tokopedia dan lain-lain.

Entah apalagi nanti yang akan berubah di era digital ini yang mungkin akan mengejutkan kita karena memang banyak orang dan pelaku bisnis yg memang belum siap menghadapi era online.

Namun, dari perubahan-perubahan yang terjadi ini, apakah juga diikuti dengan perubahan pola pikir kita – dari pola pikir konvensional menjadi pola pikir jaringan? Inilah persoalannya.

Dari berbagai kasus, bahkan bagi orang orang yang telah akrab dengan dunia online pun, ternyata pola pikirnya masih belum berubah.

Contoh sederhana, kita sering menjumpai status Facebook seseorang kira-kira seperti ini “Aduh, gue kesepian di rumah. Semua orang lagi pada pergi. Emang enak sepi, mending gue nongkrong di Plaza Senayan…* sambil mengunggah foto dirinya berada di Plaza Senayan bersama teman-teman alumni SMAnya.

Kegamangan Pelaku Bisnis

Apa yang dia lakukan di dunia maya ini, tanpa disadari, dia telah memberi tahu kepada publik bahwa rumahnya sedang kosong (tidak ada orang). Dia masih beruntung jika rumahnya tidak disatroni oleh maling.

Kasus semacam ini, tidak hanya terjadi pada orang awam. Para pelaku yang sudah berkecimpung secara profesional di dunia online pun melakukannya, karena pola pikirnya tetap konvensional.

Kita semua pasti tahu Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, Lazada, Grab, Gojek, Uber dll. Mereka adalah pelaku profesional di dunia online.

Bahkan, boleh dibilang bahwa mereka adalah ‘pelopor’ atau para pelaku yang mampu membuat ‘terobosan’ bisnis berbasis Internet .

Namun, jika dilihat dari cara, bentuk, dan pilihan ruang untuk mengiklankan diri mereka sendiri, justru memunculkan berbagai pertanyaan seputar pola pikir jaringan.

Salah satunya, mengapa mereka masih merasa perlu iklan dan ruang iklan konvensional – seperti beriklan melalui billboard di jalan raya, di media televisi, atau pasang spanduk di lapangan sepak bola?.

Apakah hal ini dilakukan karena permintaan yang tidak bisa ditolak oleh mereka, misalnya atas permintaan dana pihak-pihak tertentu – demi menjaga hubungan atau kepentingan bisnisnya? Jika yang terjadi seperti ini, mungkin bisa dimaklumi.

Pertanyaan selanjutnya, jika karena keterpaksaan, mengapa isi dan kemasan iklannya di dunia online tidak berbeda dengan iklan yang mereka pasang di dunia offline? Sepertinya, mereka kurang percaya diri jika hanya beriklan di dunia online.

Di dunia online, lalu-lintas terlalu hiruk-pikuk karena sifat ‘kesegeraan dan keserempakan’, sehingga kecil kemungkinannya, netizen menengok iklan mereka, apalagi tertarik dengan produk mereka.

Ternyata mereka belum move on dari pola pikir konvensional, sehingga tampak lebih percaya diri dengan beriklan secara konvensional.

Memaksa Pemirsa TV

Sementara itu, pemirsa televisi menghidupkan perangkat itu bukan untuk tujuan melihat dan mendengar iklan, tapi mereka ingin menonton acara atau program-program yang disiarkan – seperti acara pertandingan bola, sinetron, film atau acara lainnya.

Jadi, iklan di media televisi sebenarnya secara tak langsung, memaksa pemirsa untuk menonton iklan – di sela-sela acara.

Demikian juga dengan iklan billboard di pinggir jalan, jika tidak macet, mungkin pengemudi dan penumpang tidak menengoknya – apalagi membaca (bisa rawan kecelakaan).

Jadi, salah satu karakter iklan konvensional adalah memaksa publik atau target buyer untuk melihatnya.

Di dunia online, netizen adalah warga yang ‘merdeka’ untuk menentukan apa yang mereka lihat dan baca. Iklan yang berada di sela-sela sebuah film atau video pun (Youtube), juga tidak dapat memaksa netizen untuk menonton.

Mereka dengan mudah menghindari jeda iklan yang ada.

Namun, bukan berati netizen tidak bisa ‘dibujuk’ sama sekali untuk melihat iklan tertentu. Buktinya, mengapa kita bisa tertarik pada postingan dari seorang teman, meski postingan tsb bukan informasi atau ide yang “luar biasa”?

Artinya, pertama, permasahannya adalah pentingnya tentang siapa yang mengunggah, sehingga ia mau membuka dan membacanya. Kedua, isi (content) dan kemasan yang seperti apa, yang membuatnya tertarik. Sebab, tidak semua postingan dari teman, ia selalu tertarik untuk membacanya.

Berpikir jaringan, bukanlah sekadar apakah kita sudah menggunakan atau menfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan kita, atau belum.

Di sisi yang lain, hal ini juga menunjukkan bahwa ide atau produk yang hebat pun, belum tentu menjamin berhasil—menyebar dan diterima, meski telah menggunakan aplikasi online.

Para pelaku bisnis online sudah seharusnya tidak gamang beriklan di dunia online, jika mereka menggunakan pola pikir jaringan.

Dalam konteks ini, dengan berpikir jaringan maka kita akan mampu mengidentifikasi, merumuskan, dan mengemas isi yang tepat, dan menyebarkannya melalui simpul-simpul yang tepat pula. Hal ini sesuai dengan peta sosial jaringan yang menjadi target dengan segala aturan komunikasi.

Sebab, jaringan sosial tidak terbangun oleh serangkaian pasangan hubungan dua arah yang hanya sekadar saling kenal, tetapi terbangun oleh rangkaian hubungan sosial yang dekat serta kompleks.

Jaringan berbagai pasangan hubungan yang dekat ini saling berbagi, baik kesenangan atau kesedihan, atau pun berbagai pengalaman, informasi, sumber daya dan sebagainya.

Semua itu, kuncinya ada pada jaringan sepasang hubungan tersebut. Semuanya terjadi dan mengalir di sana. (asa)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kali ini, Politikus Lebih Unggul

Kali Ini, Politikus Lebih Unggul

Ada orang mengkonsumsi karbohidrat, terserang penyakit gula. Sementara, orang lain juga mengkonsumsi karbohidrat, dia tidak terjangkit penyakit gula. Demikian juga, ada orang minum kopi, dia menjadi sulit tidur. Tapi, ada juga orang lain yang mengkonsumsi kopi, dia tidak mengalami susah tidur. Ini adalah suatu kenyataan. Bukan karena karbohidrat, seseorang menjadi diabet. Atau, bukan karena kopi, seseorang menjadi sulit tidur. Artinya, setiap individu mempunyai kekuatan atau kemampuan tubuh yang berbeda-beda. Kesehatan itu bersifat individual.

Manusia hampir selalu dipahami sebagai mahkluk biologi semata. Dalam sains modern seringkali menganalogikan tubuh manusia ibarat sebuah mobil, yang terdiri dari jaringan fungsionsal organ-organ biologi. Sebuah mobil, ketika kehabisan bahan bakar, tidak mungkin mobil tersebut bisa berjalan kembali, sebelum diisi bahan bakar lagi. Apakah manusia seperti mobil? Tentu saja tidak. Manusia yang lapar, yang telah kehabisan energi, bukannya tidak mungkin bisa melompati pagar yang tingginya lebih dari satu meter, bahkan bisa lari kencang melebihi kecepatan cheetah (macan) jika ia mengalami ketakutan yang luar biasa. Pertanyaannya, energi dari mana?. Manusia bukan mobil, yang hanya terdiri dari jaringan komponen secara mekanik atau fungsional. Inilah yang sering dilupakan oleh banyak orang, bahkan dalam dunia medis mainstream dan oleh sains modern.

Kembali pada pertanyaan – energi dari mana, manusia yang sudah kehabisan energi ternyata masih mampu lari kencang atau melompati pagar yang tingginya lebih dari satu meter? Manusia tidak sekedar mahkluk biologi, ia mempunyai jiwa dan spirit, yang merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain. Oleh karena itu pula, ketika jiwa dan spiritnya terganggu, maka fungsi organ-organ tubuhnya pun juga menjadi terganggu. Untuk itu, tekanan darah seseorang bisa menjadi tinggi dan terserang sakit maag hanya karena perusahaan di mana ia bekerja akan pailit, atau karena suami/istrinya selingkuh.

Kenyataan-kenyataan hidup di atas, mengajarkan dan menyadarkan kita bahwa manusia itu bukan hanya sebagai makhluk biologi. Disinilah terlihat betapa pentingnya peran agama dan para pemimpinnya dalam kehidupan manusia, baik secara individual maupun sosial. Agama dan pemimpinnya membuat manusia menjadi mampu menjalani kehidupan yang sesulit apapun yang dihadapinya. Meski miskin dan lapar, manusia masih mampu berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta. Inilah kekuatan dari jiwa dan spirit. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika agama dan para pemimpinnya, dari masa ke masa tidak pernah pudar eksistensinya dalam kehidupan manusia. Agama dan pemimpinnya tidak pernah lepas dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi, sumberdaya kehidupan yang semakin hari semakin langka, sementara manusia, sebaliknya terus bertambah, sehingga agama dan pemimpinnya menjadi begitu penting dalam kehidupan manusia.

Dalam konteks ini, dengan melihat situasi politik negeri yang terus memanas belakangan ini, menunjukkan bahwa politikus ternyata lebih cerdik dibanding para akademisi, birokrat, atau pemimpin agama. Mereka (politikus) hingga hari ini tetap mampu mempertahankan “situasi panas” agar tetap membara, meskipun sebenarnya masyarakat telah lelah karena terkuras energinya untuk selalu setia mendukung elite politik junjungannya dan selalu membenci lawan politik sang junjungan. Mereka seolah-olah tak pernah kehabisan energi untuk mendukung junjungannya, Inilah nilai lebih politikus, yang tak dimiliki oleh akademisi dan birokrat, serta pemimpin agama itu sendiri.

Dengan menggandeng pemimpin agama, politikus berhasil untuk terus menghidupkan energi jiwa dan spirit para pendukungnya. Hal ini, bukan berarti harus selalu dinilai buruk. Sama seperti kopi, bukan karena kopinya yang menyebabkan seseorang menjadi sulit tidur, atau karbohidrat yang menyebabkan seseorang terkena penyakit gula. Energi dari jiwa dan spirit ini, tentunya akan sangat bermanfaat jika diarahkan untuk mewujudkan kedamaian kehidupan manusia. Masalahnya adalah terletak pada para politikus tersebut. Apakah mereka bertujuan untuk kedamaian dan untuk peningkatan kualitas kehidupan manusia (masyarakat pendukungnya), atau untuk sekedar mengejar kekuasaan dan kekayaan?

Dalam konteks ini, dibutuhkan kepekaan para pemimpin agama itu sendiri, sehingga mampu membedakan mana politikus yang amanah dan yang bukan, supaya tidak mudah ditunggangi oleh para politikus busuk. Demikian juga dengan para pengikutnya, tak hanya harus peka terhadap motive elite politik junjungannya, tetapi juga tetap harus kritis terhadap pemimpin agamanya – apakah perintah dan ajarannya sesuai dengan pesan Ilahi (hakiki dari pesan Tuhan) seperti yang disampaikan oleh Nabi/Rasul.

Tetapi, terlepas dari semua itu, yang pasti, agama adalah untuk kebaikan kehidupan manusia, bukan untuk merusak kehidupan yang diciptakan oleh Sang Khalik itu sendiri. Sebab, dunia ini, termasuk semua manusia, apapun wujudnya, mereka adalah ciptaan Sang Khalik. Tapi, tak jarang pula tragedi kemanusian terjadi atas nama agama jika gagal memahami pesan Ilahi. Oleh karena itu, kita sebagai manusia, sudah seharusnya menyadari bahwa kita mempunyai kekuatan jiwa dan spirit yang luar biasa sebagai anugerah Sang Khalik. Oleh karenanya pula, sudah saatnya kita harus belajar dan melatih diri untuk mengenal diri sendiri secara utuh dan kritis dalam memahami pesan Ilahi, sehingga mampu membedakan yang mana kehendak Sang Khalik dan yang bukan, agar kita tidak menyalahgunakan anugerah jiwa dan spirit yang dianugerahkanNya kepada kita.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Agama dan Kesurupan Massal

Agama dan Kesurupan Massal
Ruddy Agusyanto

Beberapa tahun yang lalu, sering terjadi kesurupan (kemasukan setan atau mahkluk halus) secara massal. Anehnya, kesurupan massal ini menyerang pelajar dan kebanyakan pelajar perempuan. Memang aneh, mengapa “setan” senang memilih perempuan muda dan berstatus pelajar. Tidak hanya itu, jam kerja setan sama dengan jam atau waktu belajar di sekolah-sekolah, sehingga kesurupan massal umumnya terjadi di sekolah-sekolah dan pada waktu jam belajar. Setan juga tidak suka bekerja sendiri-sendiri, mereka solid menyerang para pelajar putri. Oleh karenanya, kesurupan yang terjadi adalah kesurupan massal.

Kesurupan setan yang melanda para pelajar putri ini, rupanya sudah jarang terdengar lagi. Apakah setan sedang beristirahat, atau mempunyai rencana lain yang baru? Atau setan sudah bosan merasuki pelajar putri? Atau, manusia sudah menemukan penangkalnya, sehingga saat ini tidak terdengar lagi kesurupan massal. Masih banyak pertanyaan yang lain, tapi semuanya itu belum ada jawaban yang pasti… setan memang misterius.

Kini, kesurupan massal sepertinya sudah tidak menjadi trending topik lagi. Tapi, kita – manusia – jangan senang dulu, setan tidak pernah tidur dan bosan menggoda manusia. Eh, ternyata benar, mereka hanya istirahat sebentar. Hanya saja sekarang mereka tak ingin dikenali sebagai setan lagi. Sebab, manusia terlalu mudah mengenali mereka sehingga manusia juga mudah mengusirnya. Coba kita perhatikan fenomena belakangan ini. Banyak orang kesetanan, setiap hari banyak manusia mengumbar kebencian, hasrat untuk menyakiti, bahkan bernafsu untuk membunuh manusia lain, namun mereka tidak menyadari apa yang sedang atau telah mereka lakukan. Ini namanya kerasukan atau kesurupan, sebab yang bersangkutan melakukan tanpa menyadarinya. Mereka kesurupan…mereka kesetanan. Kalau, yang seperti ini cara kerja setan, maka masih mudah diidentifikasi oleh manusia…oleh dukun-dukun manusia atau yang sering disebut dengan “orang pinter”. Kadang, para pemuka agama juga bisa dimintai bantuan untuk mengusir setan tersebut jika para dukun tidak ditakuti lagi oleh setan. Rupanya setan belum berhasil menyamar, sehingga dukun dan pemuka agama mampu mengenalinya, dan dengan demikian dengan mudah pula untuk mengusirnya.

Namun, kembali lagi, setan terus penasaran…mengapa manusia selalu mengenali identitasnya, terutama dukun/orang pinter dan pemuka agama. Setan tak pernah putus asa. Inilah nilai lebih dari setan, selain solid, mereka itu punya semangat pantang menyerah. Rupanya, sekarang membawa hasil.

Akhir-akhir ini banyak orang kesurupan “tuhan”. Banyak orang tanpa sadar telah menjadi tuhan. Mereka menghakimi sesamanya, bahkan merasa punya kewenangan atas nyawa manusia lainnya (yang merupakan kewenangan Tuhan Sang Khalik). Rupanya setan sudah berhasil menyamar menjadi tuhan. Oleh karena itu, janganlah heran jika dukun-dukun/orang pinter atau para tokoh agama tak berhasil menangkap atau mengusir tuhan (setan yang menyamar) yang merasuki mereka yang sedang kesurupan.

Dukun dan pemuka agama, dalam fenomena kesurupan tuhan ini, tak mungkin kita biarkan berjuang sendirian untuk mengusir setan yang menyamar sebagai tuhan ini. Kita semua perlu bahu-membahu (harus juga solid. Tidak boleh kalah solid dengan setan), dan perlu instrumen hukum untuk menjeratnya agar para sponsor (setan yang merasuki mereka, yang menyamar jadi tuhan) dibelakangnya bisa ditangkap, dan diungkap identitasnya guna menyadarkan mereka yang kesurupan. Tanpa kerjasama semua pihak (yang tidak kesurupan) dan upaya penegakan hukum, maka akan sulit menghentikan kesurupan tuhan secara masal ini. Dan, untuk pencegahan kedepan (jangka panjang) diperlukan pendidikan yang memberikan berbagai wawasan (bukan wawasan tunggal) dan nation building (menanamkan nilai-nilai Pancasila) kepada para generasi penerus bangsa (setan suka dengan kaum muda), agar mereka nantinya bisa lebih mudah mengenali siapa setan (yang menyamar jadi tuhan) dan siapa Tuhan sesungguhnya … sehingga tidak mudah kesurupan tuhan (huruf kecil). Selamat hari jadi Pancasila.

syarahzade.com

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Manusia dan Tuhannya: Apakah Tuhanmu dan Tuhanku berbeda?

Manusia dan Tuhannya: Bernarkah Tuhanmu dan Tuhanku Berbeda?
Ruddy Agusyanto

Gegara akhir-akhir ini isu SARA mencuat begitu tajam terkait sepanjang proses pilkada DKI Jakarta dan kasus penodaan agama, yang tampaknya rada sulit mereda meskipun masalah pilkada tersebut sudah berakhir, dan kasus penodaan agama juga sudah divonis oleh Pengadilan. Untuk kasus penodaan agama, memang masih belum berakhir (karena masih masuk proses banding), tapi paling tidak kasus ini sudah menjadi urusan Pengadilan dengan segala prosedur bakunya. Lalu, mengapa masalah SARA ini sepertinya sulit mereda? Bahkan, banyak pihak memprediksikan bahwa masalah ini akan berlanjut hingga pilpres 2019. Mengapa bisa awet seperti itu? Apa karena masalah keadilan? Bisa ya…bisa tidak, karena masalah keadilan itu sifatnya relatif dan debatable. Soal perebutan kekuasaan atau harga diri? sama juga, jawabnya bisa ya, bisa tidak. Lalu, dimana persoalannya? Yang bikin awet, menurut hemat saya, hal ini dikarenakan dalam persoalan SARA, Tuhan ikut terlibat didalamnya. Mengapa demikian?

Tuhan dan ajaranNya, di semua kebudayaan (worldview) masyarakat manusia, hampir selalu merupakan INTI dari Kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Dan, Tuhan mereka selalu bicara soal ‘hakekat tentang asal-usul, tujuan hidup, keadilan dan keabadian’. Itulah yang membuat awetnya isu SARA dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, ketika isu SARA itu dimunculkan ke permukaan, maka sejak itu pula Tuhan ikut dilibatkan dalam pertikaian antar umat manusia.

Lho…bukannya Tuhan itu tidak suka pertikaian? Tuhan seharusnya membawa kehidupan manusia menjadi sejuk dan damai seperti kehidupan di surga? Iya, idealnya sih seperti itu.

Banyak orang bilang bahwa Tuhan itu Esa. Dia yang menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya. Kita semua, baik yang berkulit hitam, putih, merah maupun kuning; yang berambut keriting ataupun lurus, pirang, hitam ataupun abu-abu; yang berkitab suci ataupun yang tidak berkitab (singkatnya Suku, Agama dan Ras) – diciptakan oleh Tuhan yang sama, yaitu Tuhan yang Esa tadi. Dan, Tuhan yang Esa itu tidak membeda-bedakan semua ciptaanNya, Dia mengirim hujan, rejeki atau bencana kepada semua hewan dan tanaman, juga ke rumah orang tanpa membedakan warna kulitnya, jenis rambutnya, tak peduli apa warna bola matanya, yang berkitab suci maupun yang tidak berkitab.

Dia, bukan hanya tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap ciptaanNya, tetapi juga tidak pernah mengeluh, minta imbalan (pamrih) apalagi mengharapkan bantuan kepada ciptaanNya. Dia berkuasa penuh atas ciptaanNya. Dia adalah alfa dan omega, sehingga kekuasaannya absolut atas ciptaanNya. Dia mengelola semua yang diciptakanNya sesuai kehendakNya, bukan sebaliknya. Tuhan yang seperti ini, tentunya akan membawa kehidupan manusia menjadi sejuk dan damai seperti kehidupan di surga.

Tapi, dalam kehidupan nyata, banyak orang yang tadi bilang Tuhan itu Esa, ternyata bukan seperti yang termaksud di atas. Mereka mengatakan Tuhan itu Esa, Tuhan yang sama yang menciptakan mereka yang berbeda-beda itu, ternyata yang dimaksud adalah “Tuhan yang sama dan Esa hanya bagi masing-masing kelompok sosialnya”, sehingga Tuhan yang Esa itu ternyata banyak jumlah versinya, yaitu sebanyak kelompok sosal yang ada tersebut. Sebenarnya, tentu saja, Tuhan yang berbeda-beda ini tidak ada masalah bagi kehidupan sosial manusia selama mereka bisa saling menghargai dan menghormati atas perbedaan Tuhan mereka. Namun, sepanjang sejarah kehidupan manusia, sering terjadi gesekan atas umat dari Tuhan yang berbeda-beda tersebut. Pertanyaannya, apakah Tuhan mereka sedang berselisih atau bertikai? Tentu saja tidak!

Bukan Tuhan mereka yang sedang bertikai, tapi mereka yang bertikai. Tuhan mereka masing-masing diminta untuk melawan umat Tuhan yang lain. Sementara bagi umat itu sendiri, Tuhan mereka minta untuk ikut berperang berserta mereka dan demi mereka. Dalam konteks ini, Tuhan mereka tak lagi berkuasa penuh atas ciptaanNya. Tuhan bisa dibujuk bahkan dipaksa untuk menuruti keinginan umat ciptaanNya. Inilah yang terjadi ketika Tuhan tak lagi mampu menghadirkan kedamaian dalam kehidupan manusia, karena Dia tak lagi berkuasa penuh atas ciptaanNya, tapi sebaliknya, justru umat ciptaanNya yang berkuasa atas Tuhannya. Mereka juga merasa sebagai golongan umat yang punya hak khusus dari otoritas Tuhannya. Ketika yang terjadi seperti ini, maka Tuhan menjadi tak sempurna lagi. Dia akan mendatangkan bencana bagi kehidupan manusia karena Dia telah menjadi Tuhan yang “tidak adil, kontradiktif – kadang Maha Pengasih, kadang Maha Pemarah”. Oleh karena itu pula, manusia bisa saling menyakiti – bahkan saling bunuh – atas nama Tuhan-Tuhan mereka. OMG…

Lalu, benarkah Tuhanmu dan Tuhanku berbeda? Benarkah Tuhanmu membenciku, atau Tuhanku membencimu? Benarkah Tuhan kita saling membenci, sehingga kita juga harus bertikai terus? Lalu, apakah Tuhan yang menciptakan kita adalah Tuhan yang berbeda? Pertanyaan-pertanyaan ini sudah saatnya kita renungkan. Sebelum menemukan jawabannya,alangkah baiknya jika dalam pertikaian, janganlah bawa-bawa Tuhan kalian…cukuplah pertikaian itu sampai di diri kita saja, supaya pertikaian itu cepat mereda dan berubah menjadi perdamaian. Tuhanmu senang, dan Tuhanku juga senang. Tuhan semua orang (yang universal) juga senang.

syarahzade.com

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Tajamnya Pedang AM51

Tajamnya Pedang AM51
(Ruddy Agusyanto)

Apapun sebutan sistem pemilihan – pilkada – adalah sistem politik voting, yaitu siapa yang berhasil mengumpulkan suara terbanyak adalah pemenangnya. Oleh karenanya, masing-masing paslon harus mengaktifkan persamaan dan perbedaan yang signifikan bagi dirinya dan bagi rivalnya untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya

Sementara itu, di pilkada DKI Jakarta (pilgub), gubernur pertahana ikut mengajukan diri sebagai calon, tepatnya gubernur dan wakilnya mendaftar sebagai paslon pilkada DKI untuk periode 2017-2022. Dengan keikutsertaan paslon pertahana, maka siapapun paslon yang akan ikut berkompetisi dalam pilkada tersebut, mau tidak mau, harus mengidentifikasi dirinya dengan bercermin pada sang paslon pertahana – apa yang sama dan apa yang berbeda dengan dirinya untuk diaktifkan agar mendapat dukungan sosial sebesar-besarnya. Dan, juga pastinya, siapapun paslonnya, mereka akan mengkritisi sang pertahana, baik berupa evaluasi kinerjanya maupun kelemahan-kelemahan di luar masalah kinerja dan track recordnya. Demikian juga jika jumlah paslon pesaing lebih dari satu, maka semua paslon non-pertahana akan cenderung tetap bercermin pada paslon pertahana, bukan kepada paslon non-pertahana lainnya. Oleh karena itu pula, tak jarang terlihat seolah-olah para paslon non-pertahana bersama-sama menyerang kelemahan paslon pertahana – terkesan mengeroyok paslon pertahana. Ini wajar-wajar saja, sebab paslon non-pertahana berfikir bahwa pilkada ini adalah kompetisi memilih “gubernur baru”, Mereka harus merebut kursi yang diduduki oleh pertahana. Jadi, mereka harus mengalahkan paslon pertahana. Maka, tidaklah heran pula jika paslon no.3 menyerukan bahwa DKI Jakarta menginginkan Gubernur Baru. Demikian juga dengan paslon no.1, DKI Jakarta membutuhkan Gubernur yang berbeda dengan Gubernur pertahana, yang memimpin dengan hati.

Namun, semua itu dirasakan tidak cukup kuat untuk mengkritisi, apalagi sebagai sebuah serangan, sebab paslon pertahana mempunyai kekuatan pada hasil kerjanya selama mereka menjabat, banyak prestasinya yang bisa diakui oleh sebagian warga DKI Jakarta. Selain itu, masalah yang bisa dianggap sebagai kelemahan paslon pertahana tersebut (kinerja) masih bersifat debatable.

Dengan kondisi seperti ini, meskipun sangat klasik dan tradisional, juga riskan karena dampak sosialnya (social cost) bisa sangat mahal. Tapi karena keampuhannya yang tak perlu diragukan, apa boleh buat, pengaktifkan persamaan dan perbedaan primordialpun dirasakan perlu untuk ditempuh – apapun konsekuensinya. Dan, secara kebetulan paslon pertahana menyandang identitas double minority yang kebetulan pula merupakan golongan sosial minoritas yang lemah di DKI Jakarta dan Indonesia secara keseluruhan, yaitu non-pribumi (keturunan Cina) dan non-Muslim. Mengapa double minority ini menjadi penting bagi para paslon non-pertahana, sebab pilkada adalah politik voting, alias “yang mampu meraup suara terbanyak adalah pemenangnya”, harus bisa merebut hati golongan mayoritas pemilihnya. Maka dari itu, beberapa waktu sebelum pilkada secara resmi dimulai, secara kebetulan pula sang Gubernur pertahana kepleset lidah menyinggung AM51 (saya sebut kepleset lidah, sebab pilkada adalah politik voting, di mana sangat tabu berbuat kesalahan terhadap golongan mayoritas pemilihnya). Kejadian ini tentunya tidak disia-siakan oleh rival politiknya atau calon rival peserta pilkada lainya. Pendapat keagamaan MUI pun dipahami oleh ormas dan jaringan sosial rival politik sebagai sebuah Fatwa. Maka sejak itulah proses pembentukan identitas sosial paslon mulai berlangsung. Saat pilkada DKI Jakarta dibuka secara resmi, maka sejak saat itu sudah mulai terbentuk pula identitas sosial para paslon yang mendaftar.

Seiring berjalannya waktu, identitas paslon seolah-olah terbelah menjadi paslon Muslim-Bela Islam dan paslon Cina-Kafir. Proses sosial ini terus diperkuat dengan aksi Bela Islam – aksi 411, 212 dan 122. Oleh karena itu, sebagai counter dari paslon pertahana dan jaringannya menyerukan pentingnya kesadaran akan keberagaman. Respons ini akhirnya memperoleh dukungan dari golongan Muslim Moderat, sebagai akibat dikotomi golongan sosial Muslim-Kafir, sehingga menjadi Muslim Bela Islam vs Kafir-munafiqun.

Namun, selama proses terbelahnya identitas sosial ketiga paslon, terjadi pula polemik politik antara SBY (sebagai Presiden RI ke-6 dan Ketua Partai Demokrat pengusung paslon no.1) dengan paslon pertahana dan pemerintahan JKW. Polemik politik tersebut bisa dibilang mendistorsi proses pembentukan identitas sosial Muslim Bela Islam – Kafir Munafiqun. Sebagian distorsi, menjadikan bergesernya identitas sosial double minoryty paslon no.2 (pertahana) menjadi sedikit kabur dan menjadikan paslon no.1 terkena imbasnya. Dari “paslon no.1 adalah pemimpin muslim Bela Islam” menjadi “paslon no.1 adalah anak dari Presiden RI ke-6 dan Ketum partai Demokrat”, yang akhirnya membentuk opini si paslon no.1 adalah calon Gubernur yang muda tetapi belum dewasa, yang selalu didampingi orang tuanya. Tentu saja hal ini merugikan dirinya, suara golongan Muslim Bela Islam lebih condong menjatuhkan pilihannya ke paslon no.3, yang mungkin dianggap lebih representatif. Lalu, 17% suara pemilih paslon no.1 ini mewakili identitas sosial yang mana? yang pasti bukan murni mereka yang menggolongkan dirinya sebagai Muslim Bela Islam. Suara tersebut adalah suara partai pendukung, tim sukses dan simpatisan yang tidak secara tegas atau ketat mengidentifikasikan dirinya sebagai golongan Muslim Bela Islam.

Masalahnya, setelah 15 Februari 2017, akan kemanakah suara dukungan paslon no.1 menentukan pilihannya? yang pasti, identitas sosial Muslim Bela Islam sudah menentukan pilihannya. Begitu juga dengan golongan Kafir-Munafiqun. Lalu bagaimana politik identitas yang akan dibangun oleh paslon non-pertahana untuk merebut suara pendukung paslon no.1, dan apa respon atau strategi paslon pertahana?

Pada putaran kedua, ternyata, paslon no.3 terus memelihara identitas sosial yang melekat pada dirinya, yaitu “Muslim Bela Islam”. Dengan aksi 313 dan terus mengasah pedang AM51 yang sejak semula sebagai pembentuk identitas sosial Muslim Bela Islam melalui jaringan Dakwah Jum’atan di mesjid-mesjid, yang tak hanya beroperasi di wilayah DKI Jakarta semakin menguatkan identitas sosial tersebut. Stragegi ini disempurnakan dengan jurus pamungkas yaitu “Tamasya Almaidah”. Jurus ini, selain mampu memelihara dan menguatkan ikatan sosial di antara para pendukung/pemilihnya, tetapi juga mampu meluruskan kembali identitas sosial yang telah terdistorsi pada putaran pertama sebelumnya (17% suara paslon no.1).

Dengan jurus Tamasya Almaidah, paslon no.3 secara tidak langsung mengaktifkan sentimen primordial “sedaerah asal”, sehingga jaringan sosial yang terbentuk semakin kuat (tidak goyah). Mengapa demikian, sebab kita tahu bahwa mayoritas warga DKI adalah para urban. Dengan terkoneksinya kembali mereka dengan “kampung halamannya”, maka identitas sosial yang sudah terbentuk menjadi semakin kokoh, karena hubungan sosial jenis muatan sentimen semacam ini terdapat saling kontrol yang begitu kuat sehingga mereka cenderung solid. Apalagi, dengan Tamasya Almaidah ini, tak hanya menguatkan hubungan warga DKI dengan teman-kerabat-sahabat sekampung halamannya, tetapi juga dengan para tokoh agama yang mereka segani di daerah asalnya. Ini yang tidak disadari oleh paslon pertahana. Bahkan, sempat terlontar kritikan atas jurus ini dengan statement “…ngapain paslon no.3 kampanye sampai keluar Jakarta? kan mereka bukan warga Jakarta? Pertarungan pilkada DKI, bagi paslon no.3 bukanlah pertarungan warga DKI semata, tetapi juga merupakan urusan warga daerah asalnya. Pilkada DKI adalah pertarungan “Muslim Bela Islam” (melawan “Kafir-Munafikun), sehingga perjuangan paslon no.3 identik dengan perjuangan Muslim Bela Islam, yaitu dengan menegakkan AM51. Kemenangan paslon no.3 adalah kemenangan Muslim.

Itu pula sebabnya mengapa pilgub DKI serasa pilpres – paslon pertahana terkepung pedang AM51 dari segala penjuru wilayah Indonesia.

Sementara itu, paslon pertahana tak punya jurus baru untuk bisa keluar dari kepungan tajamnya pedang AM51 dari paslon no.3. Ia hanya bertahan dengan jurus keberagamannya yang tak kreatif, tanpa ada terobosan baru. Dengan kata lain, paslon pertahana hanya “bertahan” – tak pernah melakukan serangan balik – sehingga tak mampu keluar dari kepungan jurus AM51. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika ia hanya mampu mempertahankan perolehan suara seperti pada putaran pertama (42%).

Akhirnya, paslon pertahana harus mengucapkan selamat atas kemenangan paslon no.3. Selamat datang gubernur AM51 untuk memimpin DKI Jakarta periode 2017 – 2022 dan selamat jalan gubernur Kafir-Munafiqun. Menang atau kalah dalam sebuah kompetisi adalah biasa. Bagaimanapun juga, setelah pilkada selesai, maka kita kembali pada bahwa “Jakarta untuk semua” – bukan lagi milik Muslim Bela Islam atau pun milik Kafir-Munafikun.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hari ini Koruptor Masih Menang di IndonesiA

Hari Ini Koruptor Masih Menang Di Indonesia

04 Mar 2015

Ruddy Agusyanto
Direktur Operasional di Pusat Analisa Jaringan Sosial (PAJS) dan Institut Antropologi Indonesia (IAI)

Ilustrasi Konpres Tersangka Korupsi Dana Haji (ANtARAFOTO)

Kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sungguh fenomenal di era reformasi ini. Lembaga yang satu ini benar-benar banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Pejabat atau Petinggi Negara di era sebelumnya (Orde Baru) yang tak pernah bisa diseret ke ranah hukum untuk diadili, kini siapapun terkesan tak ada yang kebal hukum di negeri ini. Besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat itu pun tak luput dari terkaman KPK.

Oleh karena itu, setiap ada orang atau segolongan orang atau institusi negara yang lain mencoba menyudutkan KPK, seakan-akan seluruh masyarakat segera bergerak berada di belakang KPK. Memang sudah relatif banyak pejabat atau petinggi negara – baik dari golongan lembaga eksekutif, legislatif maupun yudikatif – yang diadili. Namun, pada kenyataan yang lain, sepertinya, korupsi juga tak berkurang di negeri ini, dan seolah-olah tak juga membuat jera jaringan koruptor.

Mengapa demikian? Dari kenyataan ini, lalu apakah kehadiran KPK sudah berhasil melakukan pemberantasan korupsi di negeri ini?

Apakah Seluruh Masyarakat Indonesia Benar Berada di Belakang KPK: Merasa Ikut Memiliki

KPK dalam hal ini bisa dikatakan relatif berhasil membentuk opini publik bahwa KPK identik dengan  milik masyarakat . Kenyataannya, ternyata tidak! Mereka yang sibuk membela, jika KPK sedang menghadapi serangan, adalah para politikus atau para elite negeri ini. Masyarakat  kelas bawah  (golongan masyarakat miskin) seperti tak pernah merasakan hubungannya dengan KPK.

Singkatnya, apapun yang dilakukan KPK untuk menyelamatkan uang negara, mereka (golongan bawah, miskin) tak mampu merasakan dampaknya; dan sebaliknya mereka juga tak merasakan akibat dari korupsi yang dilakukan oleh para pejabat atau petinggi negara – tak ada korelasi antara antara  korupsi dengan nasib atau  kesejahteraan mereka. Inilah yang mereka alami dan rasakan.

Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika penulis simpulkan bahwa KPK kurang mensosialisasikan ke masyarakat – terutama kelas bawah (kaum buruh, PKL dan sejenisnya). Konsekuensinya, ketika KPK tertimpa  huru-hara  maka hanya para elite atau kelas menengah ke atas yang sibuk membelanya (absen dukungan masyarakat miskin). Dalam hal ini, berarti KPK sebenarnya belum menjadi milik masyarakat Indonesia dan belum menjadi kepedulian rakyat jelata.

“apapun yang dilakukan KPK untuk menyelamatkan uang negara, mereka (golongan bawah, miskin) tak mampu merasakan dampaknya; dan sebaliknya mereka juga tak merasakan akibat dari korupsi yang dilakukan oleh para pejabat atau petinggi negara – tak ada korelasi antara antara  korupsi dengan nasib atau  kesejahteraan mereka. Inilah yang mereka alami dan rasakan”

Dengan demikian, penguatan KPK, juga diperlukan penguatan sosialisasi ke seluruh golongan masyarakat, terutama masyarakat miskin, sebab sebenarnya merekalah yang paling merasakan dampak dari korupsi yang terjadi. Hal ini perlu segera dilakukan, supaya KPK benar-benar dapat menjadi milik masyarakat Indonesia. Selain itu, juga diperlukan  transparansi kepada masyarakat, agar tidak mudah tertimpa isu dan tekanan politis, serta mencegah terjadinya konflik kepentingan di internal tubuh KPK sendiri.

Jika melihat tindakan KPK dalam memberantas korupsi – pejabat atau petinggi negara yang merugikan keuangan negara minimal Rp 1.000.000.000 (satu milyar rupiah) – maka perkerjaan KPK sungguh tak terbayangkan jumlahnya. Aparat KPK mungkin tak punya waktu lagi untuk tidur – apalagi dengan jumlah aparat yang sangat terbatas. Dengan kondisi ini, tidaklah keliru jika masyarakat mulai bertanya-tanya, apa indikator KPK dalam menentukan bahwa kasus korupsi X menjadi perioritas dari pada kasus-kasus korupsi yang lain?

Masyarakat semakin bingung, ada beberapa kasus korupsi yang jumlahnya triliyunan rupiah yang belum ditangani, sementara kasus korupsi milyaran sudah ditangani? Masalah indikator tersebut (transparansi) sangat penting untuk memperkuat posisi KPK di tengah masyarakat, sehingga mereka benar-benar ikut merasa memiliki KPK.

Saat ini, dengan absennya transparansi tentang indikator tersebut maka sebagian masyarakat (golongan bawah atau miskin) merasa seolah-olah digiring untuk ikut meramaikan persaingan politik atau kepentingan para elit negeri ini, dan mendapat kesan bahwa KPK ternyata juga tebang-pilih. Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi.

Sudah Paham

Kita semua tahu bahwa korupsi di negeri ini sudah terjadi sekian lama – terjadi mulai dari level bawah hingga atas – di hampir setiap lembaga negara; dan tak jarang pula banyak pakar menyimpulkan bahwa korupsi sudah membudaya. Artinya, korupsi di lembaga negera sudah berakar sangat dalam. Dengan kata lain, bisa disimpulkan bahwa sistem kontrol-monitoring-koordinasi (sistem KMK) setiap lembaga negara (eksekutif-legislatif-yudikatif) relatif lemah sehingga memberi banyak celah bagi tindakan korupsi.

Sebagai contoh, sistem voting di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sangat berpotensi atau rawan terjadi transaksi regulasi atau rawan korupsi. Belum lagi masalah sistem dan proses rekrutmen petinggi KPK beserta jajarannya, kemungkinan besar juga rawan kepentingan politik, korpusi.

Dengan demikian, jika sistem KMK semua lembaga negara tidak dibenahi atau diperkuat, maka kehadiran KPK ibaratnya Petugas Pemadam Kebakaran yang harus siap setiap saat untuk memadamkan kebakaran atau api di wilayah kerja yang sistem dan instalasi listriknya semrawut (rawan terjadi arus pendek).

Jika demikian adanya, tentu saja kehadiran KPK tak akan berpengaruh terhadap hilangnya korupsi (budaya korupsi) di negeri ini. Artinya, hingga hari ini, jaringan koruptor masih jadi pemenangnya. Oleh sebab itu, patut dipertanyakan political will dari Negara atau para elite negeri ini terhadap pemberantasan korupsi.

https://www.selasar.com/politik/hari-ini-koruptor-masih-menang-di-indonesia

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar